Salat Sambil Duduk Sah Dilakukan, Inilah Kondisi yang Memperbolehkan

 Salat Sambil Duduk Sah Dilakukan, Inilah Kondisi yang Memperbolehkan

Amalan 1 Muharram Agar Terlindung dari Marabahaya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Berdiri bagi yang mampu merupakan rukun salat yang tidak boleh ditinggalkan. Orang yang bungkuk sekalipun tetap diwajibkan berdiri meskipun keadaannya seperti orang ruku’.

Tentunya hukum ini berlaku bagi yang mampu mengerjakannya. Artinya, meski berdiri itu hukumnya wajib, namun jika ada alasan yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk berdiri.

Misal karena sakit yang jika dipaksa berdiri, ia akan terjatuh atau hilang kekhusyuk’annya. Maka salatnya boleh dilakukan dengan tiga cara secara berurutan, yaitu duduk, tidur baik menyamping maupun telentang, dan dengan isyarat.

Kondisi yang Memperbolehkan Salat dengan Cara Duduk

Selain karena alasan sakit, beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang mendapat keringanan untuk meninggalkan rukun salat – yang dalam hal ini adalah berdiri – di antaranya adalah:

1. Perjalanan di Laut

Kondisi laut yang tidak tentu, terkadang menyebabkan para penumpang kapal menjadi was-was. Terutama ketika kondisi sedang hujan, ombak yang besar atau angin yang kencang.

Dalam kondisi yang demikian, jika seseorang memaksa dirinya untuk berdiri, dapat menyebabkannya terjatuh di laut (tenggelam) atau menyebabkan kepalanya menjadi pusing tak karuan. Maka salatnya boleh dilakukan sambil duduk. Ja’far bin Abi Thalib berkata:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ إِلَى الْحَبَشَةِ، قَالَ: يَارَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُصَلِّي فِي السَّفِينَةِ؟ قَالَ: صَلِّ فِيهَا قَائِمًا، إِلا أَنْ تَخَافَ الْغَرَقَ (رواه الدار قطنى)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Saw. pernah mengutus Ja’far bin Abi Thalib ke Habaysah, lalu ia bertanya, ‘Ya Rasulallah, bagaimana salat saya ketika berada di dalam kapal?’ Beliau menjawab, Salatlah di dalamnya sambil berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam.’ (HR. Al-Daru Quthni)

2. Penyakit Ambeyen

Menurut medis, penyakit ambeyen disebabkan adanya pembengkakan pembuluh darah di usus besar bagian akhir dan anus. Penyakit ini menyebabkan seseorang merasakan nyeri dan sakit yang luar biasa.

Oleh karena itu, jika berdiri menyebabkan dirinya tak mampu menahan sakit, maka ia dibolehkan salat sambil duduk. Jika duduk masih saja tidak berpengaruh terhadap sakit yang dirasakannya, maka ia dibolehkan salat dalam kondisi berbaring. Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah:

كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ (رواه البخارى)

Aku pernah terserang penyakit wasir (ambeyen), lalu aku bertanya kepada Nabi Saw. tentang cara salatku. Maka beliau menjawab, “Salatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR. Bukhari)

3. Penyakit Beser

Orang yang menderita penyakit beser atau penyakit yang menyebabkan seseorang sering mengeluarkan air kencing dalam fiqih disebut dengan salis al-baul. Air kencing yang tertahan termasuk jenis najis yang di-ma’fu, jika jumlahnya sedikit. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hlm. 166).

Artinya, jika di pertengahan salat, salis al-baul mengeluarkan air kencing sedikit, maka salatnya tetap sah. Hanya saja, di setiap salat-salat wajib, ia wajib membersihkan kemaluannya, mengganti pembalutnya dan mengulangi wudhunya.

Jenis penyakit ini biasanya menyebabkan air kencing akan keluar terutama di saat berdiri atau dalam kondisi sujud. Oleh karena itu solusinya, ia diperkenankan salat sambil duduk untuk menjaga agar tetap suci, dan ia tidak perlu mengulang salat-salatnya. (Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, Bujairami ‘ala Al-Khathib, juz 1, hlm. 142)

 Salat dengan Duduk

Salat sambil duduk, boleh dilakukan dengan duduk bersila, duduk seperti pada tahiyyat awal, tahiyyat akhir, tetapi duduk seperti tahiyyat awal lebih utama. Namun jika tidak mampu duduk tahiyyat awal, maka caranya dengan duduk bersila, jika masih tidak mampu, maka boleh dengan duduk tawaruk (duduk seperti pada tahiyyat akhir).

Ruku’ dilakukan dengan membungkukkan kepala sekiranya kening sejajar dengan tempat di depan kedua lututnya, dan ketika sujud sekiranya kening sejajar dengan tempat sujudnya. Jika tidak mampu, maka ruku’ dan sujud dilakukan dengan membungkukkan kepala semampunya, akan tetapi ketika sujud agak dibungkukkan ke bawah.

Salat dengan Posisi Tidur Menyamping

Bila tidak mampu duduk, salat boleh dilakukan dengan tidur  menyamping ke kanan, sementara wajah dan tubuh bagian depan menghadap ke kiblat. Jika dilakukan dengan cara tidur menyamping ke kiri hukumnya makruh, kecuali memang ada udzur.

Ruku’ dan sujud dilakukan dengan semampunya. Jika seseorang mampu menggerakkan kepalanya, maka ruku’ dan sujudnya dengan cara itu. Namun jika ia tidak mampu, maka cukup dengan isyarat kepala dengan menggerakkan kening ke arah lantai. Untuk isyarat sujud agak lebih ke bawah daripada isyarat ruku’.

Salat Sambil Tidur Telentang

Jika seseorang tidak mampu salat dengan tidur menyamping ke kanan, maka salatnya boleh dilakukan dengan tidur terlentang. Caranya kepala ditopang dengan bantal atau sejenisnya agar bisa menghadap kiblat.

Ruku’ dan sujudnya dilakukan dengan menggerakkan kepala semampunya. Namun jika tidak mampu, maka cukup dilakukan dengan isyarat kepala.

Isyarat sujud harus lebih kebawah daripada isyarat ruku’nya. Bila isyarat dengan kepala masih saja tidak mampu, maka cukup dengan isyarat mata.

Jika masih tidak mampu, maka cukup menggerakannya dalam hati. Selagi nyawa masih ada dan akal masih sehat, kewajiban salat tidak akan gugur.

Adapun untuk salat sunnah, boleh dilakukan dengan cara duduk dan tidur menyamping ke arah kanan, meskipun mampu salat dengan berdiri.

Akan tetapi, jika seseorang mengerjakan salat sunnah dengan tidur terlentang sementara ia masih mampu duduk atau tidur menyamping ke kanan. Maka salat-salat sunnah yang dikerjakannya tidak sah (Usman bin Muhammad Syatha’, I’anat al-Thalibin, juz 1 hlm. 233. Shafiyuddin al-Mudzhaji, al-Ubab al-Muhith bi Mu’zham Nushush al-Syafi’i wa al-Ashab, juz 1, hlm. 122).

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *