Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u7096914/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Cancel Preloader

Salat Dulu Atau Makan Dulu?

 Salat Dulu Atau Makan Dulu?

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Dalam hidupnya, manusia tentu saja membutuhkan makanan agar bisa bertahan serta mendapatkan energi dalam menjalani setiap aktivitas. Bahkan di waktu-waktu tertentu, manusia juga akan merasa lapar sebagai tanda bahwa dirinya harus segera mengonsumsi makanan. Dengan begitu laparnya pun baru bisa hilang.

Meski tidak lapar sekali pun, ketika melihat atau menghirup aroma makanan, biasanya juga turut merangsang manusia untuk ingin segera makan.

Namun, tidak jarang ada suatu kondisi di mana kita merasa dilema untuk memilih yang harus diprioritaskan. Yakni saat sudah tibanya waktu salat, dan saat itu juga kita sedang lapar dan ingin makan.

Sebagian orang berpandangan bahwa ketika kita mendahulukan makan. Maka hal tesebut sama saja dengan mendahulukan urusan duniawi dan menomorduakan urusan akhirat.

Lalu, manakah yang seharusnya kita prioritaskan? Salat dulu atau makan dulu?

Perintah Rasulullah Untuk Mendahulukan Makan

Adanya perintah dari Rasulullah saw bahwa harus mendahulukan makan daripada salat, tentu ini menjadi hal yang melegakan. Namun dibalik perintah ini, juga ada kondisi tertentu yang kemudian kita bisa memutuskan untuk makan dulu daripada salat dulu.

Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi saw bersabda:

“Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari salat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian”.

Inilah hadis yang memerintahkan agar kita mendahulukan makan daripada salat. Tetapi dengan syarat bahwa waktu salat masih panjang dan kita memang dalam kondisi yang benar-benar lapar.

Ketika diketahui bahwa akhir waktu salat tinggal sebentar lagi, maka segeralah untuk menunaikan salat terlebih dahulu baru makan. Begitu juga dengan kondisi perut kita. Ketika sudah lapar sekali dan waktu salat juga masih panjang, akan lebih baik jika kita mengutamakan makan. Namun, jika kita belum terlalu lapar, maka sebaiknya kita menjalankan salat terlebih dahulu.

Jadi, dalam memilih mana yang harus diutamakan, apakah salat dulu atau makan dulu haruslah kita pahami kondisinya. Sehingga, kita pun tidak harus mengorbankan salah satu, apalagi sampai melewatkan salat.

Saat kita harus mendahulukan makan daripada salat ketika waktu salat masih panjang, bukan berarti kita menomorduakan urusan akhirat. Tetapi suatu kebijakan untuk menentukan mana yang seharusnya menjadi prioritas. Karena jika kita sudah sangat lapar dan memaksakan untuk salat padahal waktu berakhirnya masih panjang, yang ada justru membuat kita tidak khusyuk menjalankan ibadah. Kita akan membayangkan makanan dan berfokus pada rasa lapar.

Islam Sangatlah Mengerti Kondisi Manusia

Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, Allah SWT pasti tahu dan memahami bagaimana kondisi setiap makhluk-Nya. Islam adalah agama kedamaian, agama yang pengertian, agama yang bertoleransi, dan agama yang mampu memahami setiap kondisi umatnya.

Islam selalu menawarkan alternatif di setiap kesulitan yang dihadapi oleh umatnya. Tidak terkecuali dalam urusan makan dan ibadah yang keduanya sama-sama dibutuhkan oleh manusia. Dengan makan, maka kita bisa hidup. Begitu juga dengan ibadah, maka kita bisa mendapatkan perlindungan dari Sang Pencipta.

Oleh sebab itu, hal yang kerap dipertanyakan dan diperdebatkan terkait salat dulu atau makan dulu, seharusnya bisa kita lihat langsung dengan kondisi yang kita alami. Dengan melihat kondisi, maka kita bisa memutuskan mana yang harus didahulukan.

Dalam hal ini bisa kita ketahui bahwa Islam tidaklah pernah memaksakan. Islam sangat memahami kondisi yang sedang terjadi, sehingga mampu memberikan keringanan pada setiap umatnya.

Jadi, mulai sekarang bijaklah dalam menentukan mana yang harus menjadi prioritas. Pahami kondisi kita dan ambil keputusan tersebut secara mantap. Sehingga semuanya bisa terlaksana secara baik dan lancar tanpa ada yang harus ditinggalkan.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × five =