Sains dalam Al-Qur’an

 Sains dalam Al-Qur’an

Islamic Center Segera Membutuhkan Metaverse untuk Alquran (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Menurut A Baiquni, ilmu Pengetahuan atau sains merupakan himpunan rasionalitas kolektif insani. Yakni himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsensus para pakar.

Ada penyimpulan secara rasional (akal) mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data-data pengukuran yang diperoleh dari observasi pada gejala-gejala alam (empirik). Sedangkan teknologi merupakan himpunan pengetahuan terapan manusia tentang proses-proses pemanfaatan alam. Proses ini diperoleh dari penerapan sains dalam kegiatan yang produktif ekonomis.

Menurut Robert Boyle, ilmu pengetahuan adalah “tugas religius, penyingkapan hasil karya luar biasa yang ditampilkan Tuhan di alam semesta.” Newton percaya alam semesta adalah bukti dari Pencipta yang Maha Kuasa”. (Ian G Barbour)

Ilmu pengetahuan dan agama berbagi keyakinan bahwa dunia dapat dipahami secara logis dengan paradigma yang berbeda. Ilmu pengetahuan beroperasi dengan anggapan bahwa segala sesuatu memiliki sebab. Sedangkan agama dengan anggapan bahwa segala memiliki makna sesuatu. (Holmes Roston III)

Bagi sebagian Saintis, sains sebagai bentuk pembuktian eksistensi Tuhan dan ayat-ayat kauniyah-Nya yang digelar di alam semesta. Tapi, dalil ini dikritik oleh Ibn Athaillah sebagai kategori orang yang belum mengenal secara dekat dengan Tuhan. Sejak kapan Allah itu gaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan wujud alam?

Kapan Allah itu jauh sehingga semesta ini harus menjadi pengantar menuju-Nya? Bagi agamawan (Sufis), eksistensi Tuhan menunjukkan alam. Maka dari itu, ia menetapkan keberadaan alam ini dari keberadaan pangkal (Dzat) yang membuatnya ada.

Sains dalam Al-Qur’an

Quraish Shihab mengutip pendapat sebagian ulama bahwa terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi dan memerintahkan manusia untuk mengetahui serta memanfaatkannya. Secara tegas al-Qur’an menyatakan bahwa alam raya diciptakan Allah SWT untuk manusia. Firman Allah SWT:

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk mendalami, mengkaji, meneliti, menyelidiki rahasia alam semesta yang terdapat dalam QS. Al-Ghasiyyah [88]: 17-20. Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? (17)  dan langit, bagaimana ditinggikan? (18) Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? (19)  Dan bumi bagaimana dihamparkan? (20)

Al-Qur’an juga menganjurkan manusia untuk mengembangkan sains, dapat dijelaskan dalam QS. Al-Ankabut [29]: 20, Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Secara eksplisit, ayat-ayat di atas memerintahkan manusia untuk mengembangkan sains dengan cara memperhatikan ciptaan-ciptaan Allah di muka bumi ini. Fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta pasti ada hikmahnya, maka perlu digali, dikaji, dan diteliti guna pengembangan sains untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Kejadian fenomena alam biasanya disebut dengan ayat kauniyah atau hukum alam (sunatullah), hukum yang dititipkan Allah kepada alam semesta guna dipelajari oleh manusia.

Pengembangan sains perlu juga diimbangi dengan moralitas untuk tidak merusak alam atau menggunakan kekuatan alam untuk menghancurkan sebagian umat manusia yang lain. Allah juga sudah menyindir manusia bahwa sebenarnya kerusakan alam ini diakibatkan oleh tangan-tangan kotor manusia. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 11-12

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (11) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (12)

Sumber Sains

Menurut Mulyadi Kertanegara (dalam Saefuddin), dalam tradisi keilmuan Barat, pasca kemenangan empirisme dan positivisme, orang Barat meyakini kalau sumber ilmu hanya satu, yaitu sense perception. Hanya persepsi indra yang dianggap sah sebagai sumber pengetahuan karena pengetahuan yang sah adalah sebagai ilmu alam.

Sumbernya pun harus yang bersifat fisik. Orang Barat meragukan intelek dan intuisi, bagi mereka sumber intelek intuisi itu adalah halusinasi, karenanya harus ditinggalkan.

Berbeda dengan tradisi Barat, dalam Islam sumber ilmu tidaklah satu. Islam mengakui indra sebagai sumber ilmu bagi ilmu-ilmu fisik. Selain indra, ada juga sumber ilmu lain, seperti akal, hati (intuisi/religious experience), bahkan ada yang menambahkan wahyu sebagai sumber ilmu.

Dengan demikian terdapat tiga sumber ilmu pengetahuan yang sah dalam tradisi keilmuan Islam. Allah telah menganugerahkan kepada kita, indra, akal juga hati pastilah itu memiliki kegunaan masing-masing dan antara satu dengan yang lain tiak saling tergantikan. Tidak mungkin akal diciptakan, jika tidak berguna, begitu pula dengan hati dan indra. (Mulyadi Kertanegara)

Dari kajian ini, sains dan agama tidak perlu dipertentangkan. Tapi keduanya bisa saling menguatkan, berdialog, dan bekerjasama dalam menyelesaikan problem-problem kemanusiaan. Sebagai contohnya, pada masa pandemi covid-19, antara Saintis dan Agamawan bisa saling bekerjasama untuk memberikan edukasi bagi masyarakat, baik perspektif sains dan agama.

Misalnya, ketika Agamawan mau mengeluarkan fatwa tentang pelaksanaan ibadah di masa pandemi covid-19 perlu konsultasi dengan Saintis tentang bahayanya virus ini, sehingga muncullah fatwa sholat dilakukan di rumah masing-masing untuk menghindari kerumunan dan pencegahan penyebaran virus.

 

Sumber : FB Zainal Arifin

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 − 8 =