Sahabat Sabit bin Qais, Sang Orator Ulung

 Sahabat Sabit bin Qais, Sang Orator Ulung
Digiqole ad

Oleh: Abdul Wadud Kasful Humam(Pengajar STAI Al Anwar Rembang)

HIDAYATUNA.COM – Sabit bin Qais, namanya memang tidak setenar sahabat-sahabat senior. Meski demikian, sahabat yang satu ini dekat sekali dengan Rasulullah SAW. Ia mendapat kepercayaan penuh dari Rasulullah sebagai orator, mewakili umat Islam. Beberapa kali, Rasulullah menyuruhnya berorasi di hadapan orotor-orator senior lainnya. Jika ia berbicara, semua mata akan tertuju padanya. Semua telinga akan mendengarkan dengan hikmat.

Ia putra dari Qais bin Syammas. Ibunya berasal dari suku Thayyi’, ada yang mengatakan dari suku Kabsyah, putri dari Waqid. Sabit menikah dengan Jamilah, putri Abdullah bin Ubay bin Salul, dan dikarunia seorang anak yang diberi nama Muhammad. Semua anak Sabit, baik dari buah pernikahannya dengan Jamilah maupun dari istrinya yang lain meninggal dunia pada saat terjadinya penyerangan terhadap kota Madinah oleh Yazid bin Mu’awiyyah pada tahun 60 H, atau yang dikenal dengan yaum al-harrah.

Sabit adalah orang yang genius, orator ulung dan lantang bicaranya. Jika ia berbicara, orang-orang yang sedang bicara akan dibuat diam dan orang yang mendengar akan terpesona. Kisah keislamannya berawal ketika ia mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an yang dilantunkan oleh da’i muda tersohor asal Mekkah, Mush’ab bin Umair. Ia terharu mendengar suara Mush’ab dengan nada yang sedih namun indah didengar, sampai membekas ke dalam relung hati Sabit bin Qais. Maka, Allah kemudian membuka hatinya untuk segera beriman dan memuliakan kedudukannya di bawah bendera Islam. 

Ketika Rasulullah Saw.hijrah ke Madinah, Sabit menyambutnya dengan penuh hormat bersama sekelompok orang dari kaumnya. Setelah itu, ia menyampaikan orasi yang diawali dengan memuji Allah dan kepada Nabi-Nya, serta ditutup dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami berjanji akan melindungimu, sebagaimana kami melindungi diri kami, anak-anak kami, dan istri-istri kami. Jika kami melakukan itu, apa yang akan kami dapatkan?.” Rasulullah Saw. menjawab, “Surga.”  Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu, wajah mereka mampak berseri-seri karena merasa bahagia. Mereka lalu mengatakan, “Kami ridla ya Rasulallah, kami ridla ya Rasulallah.” Sejak saat itulah, Rasulullah mengangkatnya sebagai juru bicara beliau, sebagaimana Hasaan bin Sabit sebagai penyair beliau.

Pada tahun wufud (datangnya utusan-utusan dari berbagai penjuru Semenanjung Arabia) tahun 9 H, datanglah delegasi Bani Tamim ke Madinah. Sebab kedatangan mereka adalah karena Uyainah bin Hashn al-Fazari membawa sekelompok orang dari mereka. Mereka datang dengan beberapa pemuka mereka, seperti al-Zabarqan bin Badr dan Amru bin al-Ahtam bersama rombongan yang berjumlah 70 atau 80 orang. Mereka lalu masuk masjid ketika Bilal sedang mengumandangkan azan zuhur. 

Orang-orang menunggu Rasulullah. Hal ini membuat Bani Tamim tidak sabar dan langsung memanggil-manggil Rasulullah dari balik kamarnya sebanyak 3 kali, “Hai Muhammad, keluarlah pada kami!.” Teriakan mereka cukup mengganggu Rasulullah sehingga beliau segera langsung keluar menemui mereka. Beliau disambut dengan ucapan, “Sesungguhnya pujian kami adalah hiasan dan celaan kami adalah noda. Kami adalah suku Arab yang paling mulia.” Rasulullah menyahut, “Bohong. Pujian Allahlah yang merupakan hiasan dan celaan-Nya adalah noda. Dan Yusuf bin Ya’qub lebih mulia dari kalian.”

Mereka mengatakan, “Kami datang kepada Anda untuk membangga-banggakan diri kepada Anda, maka izinkanlah penyair dan orator kami menyampaikannya.” Rasulullah Saw. berkata, “Telah aku izinkan orator kalian, bicaralah!”. Utharid bin Qaffal berdiri, seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang memiliki kemuliaan atas kami dan Dia adalah keluarga kami yang yang menjadikan kami raja-raja serta menganugerahi kami harta kekayaan, juga menjadikan kami sebagai orang Timur yang paling mulia, siapa manusia yang seperti kami?”. Saya ucapkan ini agar Anda menghadirkan ujaran yang sama, dan perintahkan orang yang lebih mulia daripada kami.” 

Utharid bin Qaffal kemudian duduk. Rasulullah langsung berkata kepada Sabit bin Qais, ”Berdiri dan jawablah!” Sabit bangkit menjawab, “Segala puji bagi Allah. Merupakan sebuah kemuliaan-Nya tersendiri menjadikan kami sebagai raja-raja dan memilih generasi yang kami tinggal sebagai rasul yang paling mulia nasabnya. Ia adalah pilihan Allah di antara seluruh umat manusia. Berimanlah kepadanya orang-orang Muhajrin. Mereka adalah manusia yang paling baik status dan ketampanannya, juga manusia yang paling baik perbuatannya dan responnya terhadap Allah. Kami adalah kaum Anshar, penyokong Allah dan pembantu Rasul-Nya. Barang siapa yang beriman kepada Allah da rasul-Nya, maka dicegahlah kami untuk mengambil harta benda dan darahnya. Dan barang siapa yang kafir, maka demi Allah ia akan kami perangi selama-lamanya, sementara peperangan mereka atas kami hanyalah sepele. Saya ucapkan ini seraya memohon ampunan kepada Allah.”

Setelah itu, al-Zabarqan bin Badr berdiri dan berkata, “Hai fulan, berdiri dan senandungkan bait-bait yang bakal dikenang keutamaanmu dan keutamaan kaummu di dalamnya.” Si fulan pun menyenandungkan 9 bait yang diawali, “Kami adalah orang-orang mulia, tidak ada mahkluk hidup pun yang menyalami kami. Dari kami segenap raja dan pada kami tegak segala transaksi jual-beli.” Begitu ia selesai, Rasulullah langsung berkata kepada Hasan bin Sabit, “Berdirilah dan jawablah laki-laki itu!.” Ia pun menyampaikan sebuah kasidah yang terdiri dari 12 bait. Dan ketika ia selesai, al-Aqra’ bin Habis berkata, “Matilah laki-laki ini. Sungguh oratornya lebih fasih daripada orator kita dan penyairnya pun lebih penyair dari penyair kita, bahkan suara mereka lebih lantang daripada suara kita.” Setelah itu, mereka masuk Islam dan Rasulullah menghadiahi mereka dengan hadiah-hadiah yang bagus.

Refernsi:

Muhammad Sa’id Mubayyidh, Masu’ah Hayat al-Shahabah, Suriyah:Maktabah al-Ghazali, 2000.

Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwar min Hayat al-Shahabah, Beirut: Dar al-Nafais, 1992. 

Khalil Abdul Karim, Negara Madinah terj. Kamran As’ad Irsyadi,  Yogyakarta: LkiS, 2005. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve + 9 =