Sahabat Ada yang Salah Paham Mendengar Hadis

 Sahabat Ada yang Salah Paham Mendengar Hadis

Salah Paham soal Hadis (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Sama seperti berita atau penjelasan pada umumnya, sebuah hadis pun harus dipahami konteksnya secara utuh sehingga tidak terjadi salah paham. Seperti halnya di masa sekarang, banyak kita lihat orang-orang yang salah paham terhadap pernyataan tokoh tertentu akibat tidak mendengarkannya secara utuh.

Di masa lalu pun ada juga sahabat yang salah paham terhadap penjelasan Nabi Muhammad karena alasan yang sama.

Imam Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Wash-Shifat menceritakan kisah seorang sahabat yang menjelaskan sebuah hadis tentang sifat Allah. Saat itu Sahabat senior, Sayyidina Zubair bin Awwam hadir menyimaknya.

Tatkala hadisnya selesai diceritakan, beliau bertanya kritis pada sahabat yang bercerita tadi sehingga terjadi dialog:

“Anda mendengar ini dari Rasulullah?”

“Betul.”

“Yang seperti ini adalah termasuk apa yang kita dilarang menceritakannya dari Rasulullah. Demi Allah, aku mendengar hadis tersebut dari Rasulullah dan aku hadir di majelis tersebut sejak awal…”

“… akan tetapi Rasulullah mengawali keterangannya dengan menukil ucapan seorang Yahudi yang bercerita kepada beliau. Kemudian engkau datang setelah Rasulullah selesai menceritakan permulaan ceritanya dan menyebut orang Yahudinya sehingga engkau menyangka bahwa itu adalah penjelasan Rasulullah sendiri.”

Periwayatan Hadis

Sebab hal itu, sahabat tadi melakukan kesalahan fatal dengan menceritakan akidah Yahudi seolah itu penjelasan akidah dari Rasulullah. Padahal konteksnya adalah hikayah.

Oleh karena masih ada kemungkinan semacam itu dalam periwayatan hadis, Syaikh Abul Hasan pun menceritakan terkait hadis ahad. Hadis ini tidak dijadikan dalil satu-satunya dalam akidah oleh para ulama pemikir apabila tidak mempunyai cantolan dari Alquran dan ijma’.

Lain lagi bila hanya sebagai penguat dari keterangan Alquran dan ijmak yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Imam Baihaqi membahas secara spesifik, bahwa sebuah hadis dari Qatadah bin Nu’man yang berisi pernyataan bahwa setelah menciptakan semesta.

Allah istirahat duduk di atas Arasy sambil meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Ya, Anda tak salah dengar ini ceritanya ada hadis bahwa Allah ongkang-ongkang kaki di atas Arasy.

Sudah jelas hadis semacam ini mungkar dan tidak punya nilai. Beda dengan Mujassimah yang semangat sekali menukil hadis semacam ini.

Kutipan Teks Al-Baihaqi

Untuk sekadar informasi, pernyataan bahwa Allah beristirahat pada hari ke tujuh setelah penciptaan semesta ada di Injil Kitab Kejadian. Berikut kutipan teks Al-Baihaqi bagi yang membutuhkan.

أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْعَزَايِمِيُّ، أنا أَبُو الْعَبَّاسِ الصِّبْغِيُّ، نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زِيَادِ، نا ابْنِ أَبِي أُوَيْسٍ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ [ص: ٢٠١]

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ سَمِعَ رَجُلًا يُحَدِّثُ حَدِيثًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَمَعَ الزُّبَيْرُ لَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الرَّجُلُ حَدِيثَهُ قَالَ لَهُ الزُّبَيْرُ: أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: نَعَمْ.

قَالَ: هَذَا وَأَشْبَاهُهُ مِمَّا يَمْنَعُنَا أَنْ نُحَدِّثَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَدْ لَعَمْرِي سَمِعْتُ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَاضِرٌ، وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَدَأَ هَذَا الْحَدِيثَ فَحَدَّثَنَاهُ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ حَدَّثَهُ إِيَّاهُ، فَجِئْتَ أَنْتَ يَوْمَئِذٍ بَعْدَ أَنْ قَضَى صَدْرَ الْحَدِيثِ، وَذَكَرَ الرَّجُلَ الَّذِي مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَظَنَنْتَ أَنَّهُ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

قَالَ الشَّيْخُ: وَلِهَذَا الْوَجْهِ مِنَ الِاحْتِمَالِ تَرَكَ أَهْلُ النَّظَرِ مِنْ أَصْحَابِنَا الِاحْتِجَاجَ بِأَخْبَارِ الْآحَادِ فِي صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، إِذَا لَمْ يَكُنْ لِمَا انْفَرَدَ مِنْهَا أَصْلٌ فِي الْكِتَابِ أَوِ الْإِجْمَاعِ، وَاشْتَغَلُوا بِتَأْوِيلِهِ، وَمَا نُقِلَ فِي هَذَا الْخَبَرِ إِنَّمَا يَفْعَلُهُ فِي الشَّاهِدِ مِنَ الْفَارِغِينَ مِنْ أَعْمَالِهِمْ مَنْ مَسَّهُ لُغُوبٌ،

أَوْ أَصَابَهُ نَصَبٌ مِمَّا فَعَلَ، لِيَسْتَرِيحَ بِالِاسْتِلْقَاءِ وَوَضَعِ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى، وَقَدْ كَذَّبَ اللَّهُ تَعَالَى الْيَهُودَ، حِينَ وَصَفُوهُ بِالِاسْتِرَاحَةِ بَعْدَ خَلَقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَقَالَ: {وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ} [ق: ٣٩]

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × one =