Cancel Preloader

Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Kematiannya Ditangisi Banyak Orang

 Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Kematiannya Ditangisi Banyak Orang

Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Kematiannya Ditangisi Banyak Orang (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Nabi Muhammad Saw juga manusia yang Allah anugerahkan buah hati dari pernikahan beliau. Selain Zainab, putri Nabi yang lain adalah Ruqayyah.

Ruqayyah lahir ketika Nabi berusia tiga puluh tahun. Nabi pun menyambut kelahiran putrinya dengan rasa syukur dan gembira.

Nabi memberi nama putri yang baru lahir dengan nama Ruqayyah yang berarti perempuan yang berbudi luhur atau terdidik. Sebuah nama yang indah dan berharap suatu saat ia menjadi perempuan yang berakhlak.

Ruqayyah adalah putri Nabi yang kedua dengan Khadijah. Sebagaimana Zainab, Ruqayyah juga dibesarkan dengan kasih sayang.

Ketika sudah dewasa, sebelum masa kenabian, Ruqayyah dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Sebenarnya pernikahan tersebut sangat tidak disukai oleh Khadijah karena Khadijah sudah mengetahui karakter dari Ummu Jamil bin Harb yang terkenal memiliki akhlak dan sifat yang buruk.

Maka dari itu, Khadijah sangat khawatir putrinya akan memperoleh sifat yang buruk dari mertuanya. Kemudian, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, maka Abu Lahab-lah orang yang paling memusuhi Nabi dan agamanya yang dibawanya yakni adalah Islam.

Perceraian Ruqayyah dengan Utbah bin Abu Lahab

Abu Lahab kerap menghasut orang-orang Mekah untuk memusuhi Nabi dan para Sahabat. Tidak hanya Abu Lahab, istrinya juga ikut-ikutan memfitnah Nabi agar dibenci oleh penduduk Mekah pada waktu itu.

Atas perilaku Abu Lahab itu, maka turunlah Q.S al-Lahab: 1-5:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanyadan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Kemudian ketika ayat ini turun, Abu Lahab berkata kepada Utbah:

”Hubungan kita terputus, jika kau tidak menceraikan anak perempuan Muhammad.”

Atas permintaan ayahnya, akhirnya Utbah pun menceraikan Ruqayyah. Setelah bercerai  dengan Utbah, Ruqayyah dinikahkan oleh Nabi dengan Sahabat Utsman bin Affan.

Hati Ruqayyahpun berseri-seri dengan pernikahannya karena Utsman adalah seorang Muslim yang memiliki hati yang teguh, berbudi luhur, kaya, tampan dan golongan bangsawan.

Kesetiaan Ruqayyah dan Utsman di Akhir Hidupnya

Utsman dan Ruqayyah turut serta ketika hendak hijrah ke Habasyah, dan keduanya diaugrahi pasangan yang mulia bernama Abdullah. Mereka berdua tinggal di Madinah. Namun, keduanya dihadapkan ujian yang membuat mereka bersedih yakni wafatnya putra tunggal mereka yang berusia 6 tahun.

Tak lama kemudian, seruan perang badar pun bergema, dan sahabat bersiap-siap untuk menghadapi musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah jatuh sakit, kemudian Nabi memerintahkan Utsman untuk tidak ikut perang dan menemani Ruqayyah  yang sedang sakit.

Dengan setia Utsman menemani Ruqayyah, bersamaan juga terdengar bahwa perang badar mengalami kemenangan. Ketika Nabi berada di medan Badar, Ruqayyah wafat, ia wafat  pada bulan Ramadhan tahun kedua hijrah.

Ketika memasuki kota Madinah, Nabi disambut dengan berita pemakaman Ruqayyah. Ketika ia wafat, banyak wanita di Madinah menangis sedih sehingga membuat Utsman mengambil cemetinya untuk menghentikan tangisan mereka.

Namun rupaya tindakan Utsman membuat Nabi mengambil cemeti yang berada di tangannya. ”Wahai Utsman, biarkanlah menangis. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan setan, yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat, sedangkan yang datang dari tangan dan lidah adalah dari setan.”

Wafatnya Ruqayyah juga membuat Fatimah, adik dari Ruqayyah menangis di samping kuburan sang kakak. Melihat putrinya menangis, Rasulallah mengusap air mata Fatimah dengan ujung baju yang beliau pakai.

Begitulah akhir perjalanan hidup Ruqayyah, putri Rasulullah Saw yang kematiannya ditangisi banyak orang saat itu.

Nafilah Sulfa

Nafilah Sulfa

https://hidayatuna.com/

Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa Pamekasan Madura, dan Mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir semester akhir di IAIN Madura. Pegiat kajian Feminisme.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − 8 =