Rihlah Ibnu Batuttah, Petualang Terhebat Abad Pertengahan

 Rihlah Ibnu Batuttah, Petualang Terhebat Abad Pertengahan

Rihlah Ibnu Batuttah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Abad Pertengahan, umat muslim memiliki sosok petualang tanggguh bernama Ibnu Batuttah. Rihlah (perjalanannya) mengelilingi dunia menempatkan dirinya sebagai satu-satunya petualang terhebat pada masanya.

Hal itu diungkapkan oleh pemerhati dan pengkaji sejarah Islam, Azhar Rasyid. Dalam artikelnya yang dimuat di Suara Muhammadiyah, Rasyid menjelaskan bahwa sosok Ibnu Batuttah memiliki nama lengkap Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn ʿAbd Allāh al-Lawātī al-Ṭanjī ibn Baṭṭūṭah.

“Ia adalah salah seorang petualang terbesar dalam sejarah penjelajahan manusia mengelilingi dunia. Ada pula yang melabelinya sebagai petualang terhebat di Abad Pertengahan,” ungkap Rasyid dikutip Jumat (2/7/2021).

Rasyid mengatakan Ibnu Batuttah adalah seorang kelahiran asal Tangier, yakni sebuah kota kecil di Maroko. Ibnu Batuttah lahir pada 24 Februari 1304.

“Ibnu Batutah sepanjang hidupnya telah menempuh perjalanan sejauh 75.000 mil, yang setara dengan 120.000 km. Suatu jarak yang amat jauh mengingat keterbatasan sarana transportasi di zaman itu,” ujar Rasyid.

Jarak ini lanjut dia, setara dengan tiga kali lipat jarak yang ditempuh pengembara ternama Italia, Marco Polo. Ada pula pengamat yang memperhitungkan bahwa bila ditimbang dengan situasi geografi di masa kini. Maka sepanjang hidupnya Ibnu Batutah telah singgah ke 44 negara.

“Perjalanan jauh pertama yang dilakukan Ibnu Batutah adalah ke Mekkah. Ia ke sana dalam rangka naik haji kala ia baru berumur 21 tahun,” jelasnya.

Perjalanan ke Pusat Studi Islam

Seakan tak mau berhenti di Mekkah, Ibn Batuttah kemudian meneruskan perjalanannya ke pusat-pusat studi Islam di Dunia Arab, termasuk Mesir dan Suriah. Selepas dari sana, pengembaraannya menyentuh tempat-tempat yang bahkan lebih jauh lagi di Afrika dan Asia.

Rasyid mengunkapkan bahwa rute rihlah yang Ibnu Batutah tempuh tidak linear arahnya dan juga tidak dilakukan dalam satu waktu. Namun cakupannya jelas sangat luas bahkan untuk ukuran sekarang. Dari rekonstruksi para sejarawan, diketahui bahwa setidaknya ada empat rute yang ia lewati dalam empat periode berbeda.

“Rute pertama antara lain mencakup Tangier, Algiers, Alexandria, Kairo, Yerusalem, Damaskus, Madinah, Mekkah, Baghdad dan Esfahan. Rute kedua antara lain mencakup Aden, Mogadishu, Mombasa dan Kilwa,” ujarnya.

Sementara untuk rute ketiga, yang merupakan rute terpanjang. Antara lain mencakup Konstantinopel (Istanbul), Astrakhan, Samarkand, Delhi, Calicut, Chitagong, Sumatra, Singapura, dan Quanzhou. Sedangkan rute keempat mencakup Marrakech, Timbuktu, dan Bamako.

“Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk melewati tempat-tempat itu, tepatnya antara tahun 1325 hingga 1355,” ungkap Rasyid.

Perjalanan yang jauh itu tak hanya menjadi pengalaman pribadi bagi dirinya sendiri, tapi juga dibagikannya kepada khalayak lewat buku perjalanannya yang sangat terkenal. Tuḥfat al-nuẓẓār fī gharāʾib al-amṣār wa-ʿajāʾib al-asfār, yang umumnya dikenal dengan judul Rihlah Ibnu Batuttah.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 − 1 =