Opini

Ribut-ribut Hubungan NU dan Muhammadiyah

Oleh: Zainal Aziz

HIDAYATUNA.COM – Beberapa hari ini jagat maya digegerkan dengan penolakan perayaan Harlah Nahdlatul Ulama ke-94 di Masjid Kauman Yogyakarta. Dimana masjid tersebut berada dalam Kawasan basis utama warga Muhammadiyah. Ketegangan terlihat cukup tajam di lini media maya dan seolah saling berbalas sambut membuat situasi terlihat menegang.

Apalagi ketika dalam sebuah media online muncul statmen Ketua Pemuda Muhammadiyah, Sunanto atau lebih dikenal dengan Cak Nanto yang menyerukan agara warga NU “tepo seliro” dengan tidak melaksanakan kegitan di masjid mereka (Muhammadiyah). Gayung bersambut Ketua Ansor, Gus Yaqut kemudian membuat surat terbuka dimedia sosial miliknya, jelas saja suasana panas di media sosial terjadi. Bahkan beberapa media massa juga turut memberitakan hal ini dan cukup mendapat perhatian masyarakat luas.

Meskipun begitu, persoalan ini tidak sampai mebuat ribut atau kerusakan di dunia nyata. Jika itu terjadi jelas akan tambah runyam dan tentu akan menunjukkan hubungan bahwa NU – Muhammadiyah sedang tidak baik-baik saja.

Kita ketahui bersama bahwa hubungan NU-Muhammmadiyah selama ini memang mengalami pasang surut. Gesekan-gesekan kecil sering terjadi khususnya ketika berhubungan dnegan politik, meskipun kedua organisasi ini memang bukan merupakan ormas politik. Dikalangan masyarakat bawah gesekan itu berkisar pada bentuk amaliah berupa boleh tidak ziarah kubur, peringatan 7 hari orang meninggala dan lain sebagainya.

NU dan Muhammadiyah selama ini merupakan banteng utama NKRI ketika faham ekstrim dan arus Islam transnasional marak serta mengusung pergantian sistem kenegaraan menjadi khilafah. Dua ormas terbesar ini solid berangkulan ketika bahaya mengancam keutuhan bangsa dan ssat demikian perbedaan antar keduanya seolah sirna.

Pasang surut hubungan NU-Muhammadiyah sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Akan tetapi belakangan ini seolah ada pihak-pihak yang campaur tangan agar dua oramas ini berbenturan. Mulai dari pembentukan isu, setting pro dan kontra aromanya begitu terlihat, apalagi setelah pembubaran ormas terlarang pengasong khilafah Hisbut Tahrir Indonesia (HTI).

Baca Juga :  Shalat Sunah Rajab dalam Ihya’ Ulum al-Din, Bagaimana Pendapat Ulama?

Semakin tajamnya tuduhan-tuduhan terhadap NU yang disebutkan sudah disusupi faham sekuler, pluralis dan liberal yang dalam bahasa mereka disingkat SIPILIS menambah kecurigaan ada setting agenda. Pasalnya isu tersebut terlontar ketika anak-anak NU mulai ekspansi mengembangkan keilmuannya dan mendapat tempat dalam berbagai bidang. Secara otomatis pergerakan anak-anak muda NU bisa mengancam dan mempersempit ruang gerak eks-eks HTI yang selama ini diindikasikan masuk dalam sendi-sendi pemerinhan.

Dilain sisi upaya penyusupan yang mereka lakukan dalam tubuh organisasi mulai terasa, bahkan hal itu sempat diungkapkan oleh salah satu Pengurus Muhammadiyah tingkat daerah di Jawa Timur. Disampaikan bahwa sekarang amaliyah dan gaya berpakaian sebagian orang yang hidup serta mengaku Muhamammadiyah sudah bergeser. Hal tersebut begitu dirasakan dilembaga-lembaga Pendidikan milik Muhammaadiyah. Oleh karena demikian kemudian pengurus Muhammadiyah merespon dengan menekankan aturan kelembagaan, sebab jika dilakukan konfrontasi secara ideologis justru akan membuat keributan.

Melihat gambaran demikian tentu sudah seharusnya mari sama-sama bersikap bijak untuk melihat persoalan yang terjadi di Yogyakarta. Tidak perlu lagi meributkan siapa yang slah dan siapa yang benar sebab Acara Peringatan Harlah NU ke-94 sudah usai dilaksanakan bahakn NU dengan sangat legawa mengundang dan mempersilahkan Pimpinan Daerah Muhammadiyah DIY memberikan sambutan.

Terlebih lagi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah juga sudah legowo dan berniat baik sowan ke markas Ansor dan diterima dengan tangan terbuka oleh Ketua Umum Ansor. Baiknya adalah sekarang bergandengan tangan kembali merajut harmoni dalam bingkai NKRI.

Orang NU menyebut Muhmammadiyah sebagai “saudara tua” maka dari itu baiknya antar saudara saling berkasih sayang. Jangan sia-siakan usaha para ulama seperti Gus Sholah yang berupaya mendekatkan NU dan Muhammadiyah. Mari duduk bareng menonton “Jejak Langkah 2 Ulama” agar kita dapat belajar bagaimana bermuamalah keseharian dan bergaul dalam bingkai kebangsaan.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close