Revolusi Massal Penyebab Wafatnya Imam Thabari Sang Empunya Para Mufasir Alquran

 Revolusi Massal Penyebab Wafatnya Imam Thabari Sang Empunya Para Mufasir Alquran

Revolusi Massal Penyebab Wafatnya Imam Thabari Sang Empunya Para Mufasir Alquran (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Siapa yang tak kenal dengan sang mufasir sekaligus sejarawan agung ini. Namanya melejit karena kedalaman ilmu dan penguasaannya dalam berbagai bidang keilmuan.

Mulai dari tafsir, sejarah, ilmu qiraat, hadis, sastra, fikih, mantiq (logika), kedokteran hingga matematika. Maka tak berlebihan jika ia dijuluki ulama ensiklopedik. Dalam bidang tafsir pun, al-Thabari disebut-sebut sebagai empunya para mufasir (ab al-mufassirin).

Dalam salah satu riwayat, Abu Bakar bin Kamil dan Ahmad bin Kamil al-Syajari murid dari al-Thabari menceritakan mimpi ayah gurunya itu yang mengisyaratkan bahwa kelak al-Thabari akan menjadi ulama besar yang alim dan allamah, bahkan levelnya sebagai ulama ensiklopedik.

Kata al-Thabari ketika menceritakan mimpi ayahnya,

“Ayahku pernah bermimpi. Katanya, ia melihatku bersama Rasulullah saw. Di sebelahku ada keranjang yang di dalamnya banyak batu. Kemudian aku melemparkan batu-batu tersebut.”

Ahli mimpi (al-mu’abbir) berkata kepada ayahku,

“Anakmu kelak akan menjadi seorang yang alim dan penasehat dan pembela syari’at Nabi Muhammad. Sejak saat itu, ayahku sangat care denganku dan mendukungku penuh untuk nyantri sementara saat itu aku masih kecil.”

Mazhab dan Doktrin Keilmuan al-Thabari
Ada informasi yang menyebutkan bahwa al-Thabari adalah sunni-Syafi’i. Meski di sela-sela pendalaman fikih Syafi’i, ia juga berguru dengan beberapa ulama bermazhab Maliki seperti Abdullah bin Abi al-Hakam dan mazhab al-Zahiri kepada Dawud bin Ali al-Isbahani.

Namun sekembalinya dari Mesir, ia mendirikan mazhab fikih sendiri yang oleh para murid dan pengikut-pengikutnya dinamai Jaririyah. Jaririyah sendiri diambil dari nama ayahnya.

Dia bahkan memproklamirkan dirinya sebagai mujtahid muthlaq (al-mujtahid al-mustaqil) di hadapan para murid senior imam al-Syafi’i seperti al-Muzani, Rabi’ bin Sulaiman dan Yunus bin Abd al-A’la.
Imam al-Subuki dalam al-Thabaqat al-Kubra merekam pernyataan al-Thabari sebagai berikut,

“Awalnya, saya adalah seorang Syafi’ian, bahkan saya pernah menjadi mufti mazhab Syafi’i di Baghdad kurang lebih 20 tahun. Tugas saya sebagai mufti ini mendapat respon positif dari Ibnu Basyar al-Ahwil, guru dari Abi al-Abbas bin Suraij.”

Namun karena teori-teori fikih rumusan mazhab Jaririyah ini banyak yang bertentangan dengan fiqih Syafi’i dan Hanbali, mazhab ini tidak bertahan lama dan punah dengan sendirinya.

Kronologi Wafatnya al-Thabari
Al-Shafadi dalam al-Wafi bi al-Wafiyyat mendokumentasikan dengan baik bagaimana al-Thabari difitnah oleh para pengukit imam Ahmad bin Hanbal yang provokatif.

Tepatnya pada tahun 317 H atau 929 M saat kedatangan al-Thabari ke Baghdad, tiga penganut Mujassimah (antropomorfisme) yang mengaku-ngaku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Abu Abdillah bin al-Jassash, Ja’far bin Urfah dan al-Bayadhi mendatanginya saat al-Thabari berada di masjid Jami’ di Hari Jum’at.

Mereka bertanya tentang Imam Ahmad dan interpretasi hadis yang menjelaskan duduknya Nabi Muhammad bersama Allah di Arasy. Maka al-Thabari menjawab bahwa ikhtilaf-nya Imam Ahmad tidak dianggap. Sementara duduknya Nabi Muhammad bersama Allah di Arasy adalah sesuatu yang mustahil. Lalu beliau bersyair:

سبحان من ليس له أنيس، ولا له في عرشه جليس

Artinya:
“Maha Suci Dzat yang tidak memiliki teman dekat, dan tidak memiliki teman duduk di Arasy-Nya”.
Karena jawabannya inilah, al-Thabari didemo kaum Hanabilah lain. Mereka melemparinya dengan batu, dan memaksa al-Thabari masuk ke dalam rumahnya.

Sebelum terjadinya revolusi massal yang dilakukan oleh kaum antropomorfisme-Hanabilan, al-Thabari sempat menulis surat yang ditempel di pintu rumahnya yang isinya mensucikan Allah dari interpretasi-interpretasi provokatif-antropomorfis.
Tidak lama kemudian, massa mendatangi rumahnya dan mereka melemparinya dengan batu hingga di depan rumahnya banyak gundukan batu yang hampir menutupi rumahnya.

Setelah itu, mereka menyobek tulisan di pintu rumah al-Thabari dan menggantikan dengan baleho besar yang bertuliskan,
“Ahmad (Nabi Muhammad) adalah manusia berkedudukan tinggi dan kelak di hari kiamat beliau akan duduk bersandingan dengan Allah.”
Revolusi ini menyebabkan al-Thabari harus dilindungi oleh puluhan ribu polisi dan tentara dan menjaga rumahnya setiap malam. Namun karena banyaknya massa yang mengepung dan melempari rumahnya, terpaksa beliau tidak dapat keluar dan meninggal di dalamnya.
Bahkan menurut informasi dari Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, al-Thabari dimakamkan di dalam rumahnya. Karena massa memboikot agar jenazahnya tidak dimakamkan di siang hari.

Peristiwa itu terjadi pada hari Senin 27 Syawal 311 H (17 Februari 923 M). Riwayat lain dari Muhammad Sayyid Jibril, Madkhal lla Manahij al-Mufassirin, al-Thabari meninggal pada hari Ahad sore 28 Syawal 310 H dalam usia 85.

Ibnu Katsir manyebut para pembunuh al-Thabari sebagai kaum bodoh (al-jahalah) yang menuduh imam besar itu sebagai bagian dari Syi’ah Rafidhah dan ilhad (atheis) tanpa dasar dan argumentasi yang kuat.

Ibnu Katsir mengungkap dalang atau provokator yang menjadi otak dibalik adanya pemboikotan dan demo massal yang dilakukan oleh para kaum antropomorfis terhadap al-Thabari.

Dalam al-Bidayah, Ibnu Katsir menulis bahwa dalangnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Dawud, seorang pakar fiqih dari mazhab al-Zahiri, anak dari pendiri mazhab al-Zahiri, Dawud al-Zahiri. Sedangkan menurut al-Zahabi dalam Siyaru A’lam al-Nubala’ namanya adalah Abu Bakar bin Dawud, anak dari Imam Abu Dawud pengarang kitab Sunan Abi Dawud. Wallahu a’lam.

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − 14 =