Ramadhan Segera Tiba, Ingatlah Hutang-Hutangmu

 Ramadhan Segera Tiba, Ingatlah Hutang-Hutangmu

Kisah Salman Al-Farisi Ketika Masuk Islam (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta –¬†Ramadhan sudah hampir tiba. Meskipun secara teori seharusnya umat Islam makin hemat anggaran selama bulan puasa sebab diharuskan menahan nafsu.

Tapi kenyataannya justru saat Ramadhan seringkali pengeluaran membengkak karena berbagai nafsu diumbar.

Sebab itu, sebelum memasuki Ramadhan sebaiknya kelola uang anda dengan baik. Dan, yang harus jadi skala prioritas adalah hutang yang akan jatuh tempo menjelang, saat atau sesudah Ramadhan.

Membayar hutang saat jatuh tempo hukumnya wajib, tidak boleh disepelekan atau dinonorduakan.

Jangan sampai jatah untuk membayar hutang dialihkan untuk pengeluaran yang tidak wajib semisal makanan yang lebih enak, baju yang lebih bagus dan sebagainya.

Semua pengeluaran hari raya, termasuk pakaian baru untuk anak-anak, tidaklah wajib.

Meskipun kasihan, tidak tega dan mungkin juga malu melihat anak istri tidak berganti baju baru, hutang yang jatuh tempo tetaplah wajib diutamakan dan tidak bisa kalah dari pengeluaran tidak wajib di atas.

Justru dalam momen seperti itu adalah saat yang tepat bagi kepala rumah tangga untuk mengajarkan mental kuat dan anti ngemplang hutang bagi anggota keluarganya.

Ini pelajaran berharga yang baik bagi masa depan anak. Jangan sampai anak dididik untuk hidup bergaya dengan baju baru tapi ngemplang hutang.

Ini adalah pelajaran berharga yang makin hari makin jarang diajarkan ke anak-anak hingga generasi muda memprioritaskan gaya hidup hedon meski aslinya pas-pasan.

Kalau setelah membayar hutang masih ada kelebihan rezeki, maka silakan bahagiakan keluarga dengan memberi mereka pakaian baru dan makanan yang lebih enak sesuai dengan budget yang ada.

Tidak perlu memaksakan diri dengan hutang baru kecuali memang yakin dapat dibayar dengan mudah saat jatuh tempo.

Orang yang biasanya menomorduakan pembayaran hutang yang telah jatuh tempo akan selalu hidup dalam hutang, janjinya sering meleset dan akhirnya dicap kurang jujur.

Dampaknya, orang lain enggan bekerja sama dengan dia dan lambat laun rezekinya makin seret.

Karena itu, dalam fikih diajarkan untuk jangan makan makanan enak kalau masih punya hutang, kalau perlu hanya satu lauk saja.

Sebab semua yang tidak wajib harus digunakan untuk memastikan haqqul adami tersebut terbayar saat jatuh tempo. Itulah wujud harga diri sesungguhnya. Semoga bermanfaat. []

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *