Ramadhan Digital: Kemudahan dan Kekacauan Beribadah di Zaman Digital

 Ramadhan Digital: Kemudahan dan Kekacauan Beribadah di Zaman Digital

Ramadhan Digital (Ilustasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Sejak beberapa hari menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan, di dunia digital seperti linimasi akun Facebook maupun Instagram ramai tersebar ajakan maupun informasi berbagai kegiatan. Terutama kegiatan yang akan dilaksanakan di bulan suci Ramadhan.

Mulai dari pengajian, acara dakwah di youtube, dan kajian-kajian kitab kuning/klasik, yang semuanya bakal dilaksanakan secara daring. Mengapa hal itu terjadi?

Semua itu tidak lain sebagai bentuk ekspresi dalam rangka menyambut dan meramaikan bulan suci Ramadhan. Umat muslim era digital ini mewujudkannya melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat melalui jejaring media sosial.

Sebab, tidak bisa dipungkiri, kini dunia sedang mengalami musibah pandemi Covid-19 yang melanda seluruh kehidupan, memaksa manusia untuk saling menjaga jarak, tak boleh berinteraksi secara langsung.

Dengan begitu, jalannya kehidupan pun akhirnya terbatasi. Maka, mau tidak mau, seluruh masyarakat dalam menjalani aktiviasnya dipaksa untuk memasuki dunia digital, termasuk kegiatan-kegiatan pada Ramadhan kali ini.

Riuhnya Ibadah Ramadhan di Media Sosial

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa bulan suci Ramadhan merupakan momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk muslim di Indonesia. Ramadhan juga sebagai ajang untuk merefleksikan nilai-nilai kebaikan dalam beragama.

Memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan adalah sebuah keniscayan. Dari menunaikan puasa selama Ramadhan, berzakat, membaca Alquran, hingga malakukan kegiatan-kegiatan keilmuan.

Di bulan suci Ramadhan, kalau kita lihat, intensitas ibadah umat Islam cenderung mengalami peningkatan. Mulai dari mereka aktif dengan berbagai kegiatan keagamaan baik di masjid, majelis taklim, sekolah, atau kampus.

Aktivitas keagamaan yang dilakukan antara lain, salat wajib berjemaah, salat tarawih, membaca Alquran (tadarrus) pesantren kilat, atau diskusi-diskusi keagamaan.

Ketika mereka berhadapan dengan kondisi pandemi yang tak kunjung usai, ditambah memang mereka juga hidup di era digital seperti saat ini, maka pelaksaan ibadah puasa pun tidak lepas dari dunia digital.

Era digital adalah era di mana akses informasi serba mudah dan cepat, plus ditunjang oleh perangkat teknologi informasi dan komunikasi canggih. Orang-orang dapat meng-update informasi, berkomunikasi, dan memanfaatkan berbagai fitur aplikasi pada smartphone, tablet, atau perangkat internet yang dimilikinya.

Klik untuk menonton Podcast Hidayatuna bersama Jaringan Gusdurian

Puasa di Media Sosial, Pentingkah?

Media sosial, ibarat kata kini menjadi dunia ke-dua bagi sebagaian manusia, bahkan, boleh dibilang hampir seluruhnya. Seperti yang kita ketahui, bahwa media sosial dengan kebebasan ruangnya, tentu dapat memberikan kebaikan maupun keburukan.

Kebaikannya, kita bisa dengan mudah mengakses, dan menyebarkan hal-hal yang baik untuk kita dan masyarakat umum. Mau kapan pun, di mana pun bisa dengan mudah.

Keburukannya adalah bila kita tidak cermat untuk menyaring informasi, maka kita akan mudah terpapar berita-berita yang buruk. Tak jarang bahkan kerap mengontaminasi pikiran-pikiran kita akan hal-hal yang buruk.

Buktinya bisa kita lihat, seperti orang-orang yang terpapar, radikalisme, ekstrimisme yang mengarah pada terorisme, belakangan ini.

Di alam media sosial, kita juga kerap menemui narasi-narasi fitnah, hoax, yang berujung pada perselisihan dan peperangan, bahkan perpecahan. Apalagi di bulan suci Ramadhan seperti sekarang ini, pentingkah berpuasa media sosial?

Saya kira penting. Mengapa? Kalau melihat esensi berpuasa, puasa identik dengan menahan diri, menahan segala sesuatu yang membatalkan, dari makan dan minum, demi kesucian diri.

Ketika hal ini dituangkan pada situasi bermedia sosial kita, saya kira akan baik, agar kita juga menahan diri untuk tidak berbicara dan menebarkan hoax di mana-mana. Serta agar tidak menimbulkan fitnah, ataupun kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan.

Kekacauan di Media Sosial dan Prediksi Nabi Akan Datangnya Zaman Fitnah

Saya jadi teringat petuahnya Gus Ulil Abshar Abdalla beberapa waktu lalu, di akun youtubenya Gus Mus Channel (12/04/2019). Saya kira cocok, untuk dituangkan pada situasi Ramadhan Digital seperti ini.

Gus Ulil memberikan solusi dengan membahas satu hadis nabi Muhammad Saw yang relevan dengan keadaan di dalam masyarakat digital sekarang. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang berbunyi: Satakunu fitanun al-qoidu fiha khoirun min-alqoim.

Hadis ini berbicara mengenai datangnya suatu zaman yang diprediksikan oleh Kanjeng Nabi. Beliau berkata, pada suatu zaman, akan ada zaman di mana di situ terjadi fitnah.

Apa itu fitnah? Beliau menjelaskan, secara umum (zaman) fitnah adalah zaman ketika terjadi kekacauan sosial, kegalauan sosial, terjadi misinformasi, disinformasi dan kesalahpahaman. Ditambah konflik dan ketegangan di masyarakat karena adanya informasi yang macam-macam sehingga membuat orang bingung.

Gus Ulil menganggap situasi yang sekarang kita hadapi inilah yang pernah disebutkan Nabi Saw dalam prediksinya. Di era media sosial ini, lanjutnya, kita berhadapan dengan situasi kekacauan sosial karena adanya media baru yang namanya media sosial.

Resep Menghadapi Kekacauan Media Sosial

Gus Ulil menjelaskan satu resep kanjeng Nabi untuk menghadapi keadaan seperti ini. Kata kanjeng Nabi, ketika engkau menghadapi zaman fitnah seperti ini, maka yang perlu dicermati adalah sikap-sikap berikut.

Al-qoidu fiha khoirun min al-qoim

Ketika menjadi fitnah maka orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri.

Wal-qoimu fiha khoirun min-masi

Orang yang berdiri saja, tidak bergerak kemana-mana, dia lebih baik daripada orang yang jalan-jalan biasa.

Wal masi fiha khoirun minas-sai

Orang yang jalan biasa (tanpa lari) atau joging lebih baik daripada orang yang lari.

Artinya, ketika terjadi fitnah seperti ini, maka yang diperlukan adalah sikap untuk hati-hati. Kalau Anda bisa diam, lebih baik daripada Anda bergerak. Kalau Anda bergerak tapi tidak menimbulkan huru-hara, lebih baik daripada bergerak menimbulkan huru-hara.

Menimbulkan huru-hara yang bagaimana? Yakni dengan menyebarkan informasi yang tidak jelas, dengan membagikan hoax, informasi yang keliru, dan seterusnya.

Artinya, kalau kita menghadapi situasi seperti ini, sikap yang dianjurkan kanjeng Nabi adalah kita lebih baik bersikap hati-hati. Jangan menambahkan keributan, jangan menimbulkan, menambahkan kekacauan, dalam situasi yang sudah kacau.

Kecuali jika Anda sudah punya kemampuan untuk mengatasi masalah atau kekacauan ini, maka Anda boleh bertindak. Jadi kalau dibahasakan dengan sekarang, pada zaman terjadi fitnah, maka orang yang tidak punya smartphone lebih baik daripada orang yang punya smartphone.

Kalau pun Anda punya handphone saja, itu lebih baik daripada yang punya smartphone kemudian main medsos. Atau orang yang main medsos saja, tetapi tidak ikut menyebarkan hoax, lebih baik daripada main medsos tetapi menyebarkan hoax.

Melihat dari penggunaannya, perangkat teknologi informasi dan komunikasi berperan seperti dua mata pisau. Jika digunakan secara optimal, dapat dimanfaatkan untuk menunjang kelancaran dan kekhusyuan pelaksanaan ibadah puasa selama Ramadhan.

Tetapi sebaliknya, jika salah menggunakannya, justru dapat menjadi penganggu kekhusyuan ibadah puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. Tabik.

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen + nine =