Ramadan Waktunya Menempa Diri Menuju Pribadi Qurani, Meneladani Nabi

 Ramadan Waktunya Menempa Diri Menuju Pribadi Qurani, Meneladani Nabi

Ramadan Waktunya Menempa Diri Menuju Pribadi Qurani (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Ramadan merupakan hadiah spesial Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW dalam menempa diri menuju pribadi Qurani. Ramadan menyimpan banyak keistimewaan di dalamnya.

Maka rugi bin bangkrut bagi orang yang menyia-nyiakan Ramadan yang penuh berkah berlimpah ruah. Salah satu keistimewaan tersebut Allah gambarkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183 yakni la’allakum tattaqun, menjadi manusia-manusia yang bertaqwa.

Untuk mendapatkan predikat tattaqun tentu tidak bisa diraih dengan mudah. Menujunya butuh pengorbanan, penempaan, dan keistikamahan.

Menempa diri dengan hal-hal yang tidak disukai, terlebih selama Ramadan. Untuk menjadi pribadi Qurani (berakhlak sesuai nilai-nilai Alquran) membutuhkan tenaga ekstra.

Oleh karenanya, Alquran memberikan indikator untuk mencapai pribadi Qurani.

1. Mendengarkan Bacaan Alquran dengan Tekun

Apabila dibacakan Alquran dengarkan dengan tekun (Al-A’raf [7]: 204). M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menyebutkan bahwa, ayat di atas memerintahkan agar percaya dan mengagungkan wahyu Ilahi.

Oleh karena itu, apabila dibacakan Alquran oleh siapa pun, maka dengarkanlah ia dengan tekun lagi bersungguh-sungguh.

Betapapun, lanjut Shihab, penghormatan kepada Alquran mengharuskan kita mendengarnya kapan dan di mana saja ia dibacakan. Sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi dan dalam keadaan yang tidak menyulitkan atau mendengarkan. (al-Misbah, Vol. 4, hlm. 438).

Adapun menurut Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menyebutkan bahwa ayat ini menjadi landasan diwajibkannya mendengar Alquran, baik itu di dalam atau pun di luar salat. Ini berlaku untuk seluruh kondisi dan keadaan.

Pendapat di atas dapat kita ambil benang merahnya. Betapa pentingnya mendengar dan menyimak dengan tenang apabila dibacakan Alquran agar kita mendapatkan rahmat dari Allah.

2. Membaca Alquran (tilawatil Qur’an)

Imam Nawawi menyebutkan dalam kita Al-Adzkar bahwa membaca Alquran (tilawatil Qur’an) adalah paling utamanya zikir. Ddalam Alquran disebutkan keutamaan membacanya pada QS. Fathir [35]: 29-30.

Dalam kitab Mukhtar al-Hadist (no. 1021, hlm. 126) disebutkan keutamaan membaca Alquran.

“Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka. Melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisiNya.“ (HR. Abu Daud)

Hal di atas menggambarkan bahwa membaca Alquran merupakan aktivitas yang mulia. Aktivitas yang melibatkan semua banyak indra manusia; lisan, mata, dan pendengaran.

Tidak sampai disitu, aktivitas membaca Alquran juga harus diniati karena Allah bukan embel-embel duniawi. Oleh karena itulah, melalui hadis Nabi, orang yang membaca Alquran diberi pahala 1 huruf satu kebaikan.

“Siapa saja membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran), maka dia mendapatkan satu kebaikan. Setiap satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif-lam-mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

3. Mempelajari (tafaqquh fiddin)

Hal yang tidak kalah penting dari mendengar dan membaca adalah mempelajari, memahami, dan mentadabburinya. Ini penting di tengah semangat  orang mempelajari Alquran dengan slogan “Kembali kepada Alquran dan sunnah” yang cenderung disalah pahami.

Kalau kita mau jujur, kelompok yang sering menggaungkan slogan tersebut cenderung literal memahami Alquran. Tak heran bila kemungkinan menyimpangnya lebih besar.

Untuk memahami Alquran banyak perangkat keilmuan yang haru kita kuasai seperti nahwu, sharaf, mantiq, balaghah, usulut-tafsir, qawaidud-tafsir, dan lain-lain. Tidak ujug-ujug kembali kepada Alquran dan sunnah.

Dalam hal itu, di tengah derasnya informasi, setidaknya ada dua hal. Pertama, pilih guru yang sudah jelas, baik itu sanad, kredibilitas keilmuan, dan moderat. Kedua, ceramahnya tidak mengandung provokasi, kebencian, dan penuh caci maki.

Mempelajari Alquran dari guru-guru yang jelas ini penting agar tidak salah memahami Alquran dan sunnah. Sebab, seorang guru akan mempengaruhi apa yang kita pelajari (didapat) darinya.

4. Mengamalkan Isi Alquran

Puncak dari mendengarkan, lalu membaca, kemudian mempelajari adalah mengamalkannya. Semuanya akan sia-sia tanpa diamalkan.

Di dalam Alquran, keimanan selalu digandengkan dengan amal (perbuatan) baru kemudian mendapat ganjaran (ex. QS. Al-Bayyinah [98]: 7). Bukankah puncak dari pribadi Qurani adalah mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari?

Imam Ja’far bin Hasan Al-Bazanji, pengarang Maulid Al-Barzanji menggambarkan sosok mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW:

“Dia (Muhammad) manusia paripurna, tampan rupawan nan berbudi pekerti mulia. Mengarahkan kepada jalan kebenaran. Akhlaknya Alquran (kana khuluquhul qur’an). Citra pokoknya adalah pemaaf.”

Semoga kita semua dapat meneladani akhlak Kanjeng Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadan ini. Wallahu’alam bish-showab.

 

Abdus Salam

Santri di PP. Sunan Pandanaran, Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − 1 =