Rahim Titipan sebagai Ikhtiar Mendapatkan Anak

 Rahim Titipan sebagai Ikhtiar Mendapatkan Anak

Delima, Simbol Tauhid Jawa Ritual Mitoni Bayi di Kandungan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Mengenai hukum rahim titipan, para ulama saling berselisih pendapat. Syekh Yusuf al-Qaradhawi semula mengharamkan hukum anak yang lahir dari rahim titipan.

Dikutip dari Republika.co.id, hal tersebut lantaran proses reproduksi dari air mani laki-laki yang membuahi rahim istri orang lain dinilai sangat keliru. Sebab, istri dari suami yang melakukan rahim titipan dengan memberikan air maninya itu dianggap tidak memiliki hubungan dengan anak tersebut.

Antara anak dan ayah pun tidak memiliki hak waris-mewarisi. Demikian juga dengan istri dari ayah yang menitipkan air mani ke rahim istri orang lain. Sebab, ibunya yang asli adalah yang memberikan embrio dengan air mani dari suami aslinya.

Untuk itu, Syekh Yusuf berpendapat bahwa hukumnya mutlak haram karena memiliki satu kesamaan dengan zina, yaitu mengakibatkan percampuran nasab. Syekh Qaradhawi berpendapat, syariat Islam tidak mengakui tujuan tindakan tersebut sesuai dengan hukum-hukum syariat.

Belakangan, Syekh Yusuf al-Qaradhawi kemudian meralat pernyataannya yang kemudian memperbolehkan rahim titipan tersebut. Syekh Yusuf menyandarkan pendapat yang membolehkannya setelah sempat memastikan keharamannya, hal itu ia tulis dalam “Dhawabuth wa Ahkam”.

Menurut pandangannya, pembolehan itu karena janin yang tumbuh dari air mani orang lain maka ia akan menjadi anak dari pria yang memiliki air mani tersebut. Sedangkan, istrinya yang tidak mengandung dan tidak melahirkan, itulah ibu janin yang sebenarnya, dan ibu yang mengandung tidak disebut sebagai ibu kandung.

Waspada Percampuran Nasab

Sementara itu, dalam buku ‘Fikih Kedokteran Kontemporer’ Endy Astiwara menjelaskan, Syekh Qaradhawi telah mencampuradukkan hukum serta perkara-perkara halal dan haram. Hal ini dilakukan tanpa didasari dengan keterangan sehingga pendapatnya pun dinilai berseberangan dengan nas Alquran dan pokok-pokok syariat.

Syekh Abdullah bin Zaid memberikan kritikan terhadap pendapat Syekh Yusuf. Ia merasa perlu menjelaskan pembuahan dalam kedua cara tersebut benar-benar ilegal.

Pertama, melalui pembuahan dengan air mani laki-laki asing tanpa perantara. Kedua, tentang implantasi embrio ke dalam rahim wanita lain.

Menurutnya kedua cara itu dinilai sama-sama ilegal karena inti dari kedua cara tersebut adalah memindahkan sperma laki-laki selain suaminya ke dalam rahim wanita yang bukan istrinya. Padahal, wanita tersebut wajib memelihara dirinya dari tercampur oleh air mani laki-laki yang bukan suaminya.

Abdullah bin Zaid menegaskan, ketetapan hukum rahim titipan oleh Syekh Yusuf al-Qaradhawi didasari pertimbangan qiyas yang lemah dan keliru. Ia menjelaskan, pokok yang batil tidak bisa dijadikan dasar qiyas karena qiyas terhadap hal yang tidak benar akan menghasilkan hukum yang tidak benar pula.

Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Man ahdatsa fi amrina hadza maa laisa minhu fahuwa raddun.” Yang artinya, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya maka ia ditolak.”

Abdullah bin Zaid juga mengatakan belum ada satu pun ulama yang memperbolehkan rahim titipan. Rahim titipan dalam kenyataannya dinilai sebagai percampuran nasab kepada orang yang tidak memiliki hubungan sah.

Sehingga harus diwaspadai percampuran nasab yang ilegal atau zina. Wallahu’alam bi-Showab.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen + 17 =