Puasa Tasu’a, Hari Kesembilan Muharram

 Puasa Tasu’a, Hari Kesembilan Muharram

Kumpul-kumpul dan Makan di Rumah Duka (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Asal disyariatkan puasa Tasu’a dijelaskan oleh Ahli Hadis, Syekh Abdurrauf Al-Munawi:

ﺃﺭاﺩ ﺃﻥ ﻳﻀﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﻳﻮﻣﺎ ﺁﺧﺮ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﻫﺪﻳﻪ ﻣﺨﺎﻟﻔﺎ ﻟﻬﺪﻱ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ

Nabi menghendaki Asyura digabung dengan hari lain agar petunjuk dari Nabi berbeda dengan Ahli kitab (yang hanya Asyura saja).” (Faidl Al-Qadir, 5/260)

ﻓﻴﺴﻦ ﺻﻮﻣﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺼﻤﻪ ﻷﻥ ﻣﺎ ﻋﺰﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻬﻮ ﺳﻨﺔ

Maka puasa Tasu’a disunahkan meskipun Nabi belum melakukan, sebab keinginan kuat dari Nabi juga disebut sunah. (Faidl Al-Qadir, 5/260)

Puasa Sunah Tasua dan Asyura
Puasa Sunah Tasua dan Asyura (Foto: Ma’ruf Khozin FB)

Riwayat selengkapnya disampaikan oleh Sahabat Ibnu Abbas:

ﺣﻴﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭاء ﻭﺃﻣﺮ ﺑﺼﻴﺎﻣﻪ ﻗﺎﻟﻮا: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺇﻧﻪ ﻳﻮﻡ ﺗﻌﻈﻤﻪ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻓﺈﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻌﺎﻡ اﻟﻤﻘﺒﻞ ﺇﻥ ﺷﺎء اﻟﻠﻪ ﺻﻤﻨﺎ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺘﺎﺳﻊ» ﻗﺎﻝ: ﻓﻠﻢ ﻳﺄﺕ اﻟﻌﺎﻡ اﻟﻤﻘﺒﻞ، ﺣﺘﻰ ﺗﻮﻓﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam puasa Asyura’ dan Nabi memerintahkan puasa Asyura’ maka Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, Asyura’ adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”

Nabi bersabda: “Tahun depan -jika Allah menghendaki- maka kita puasa pada hari kesembilan”. Belum sampai tahun depan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam wafat. (HR Muslim)

ﻭﺭﻭاﻩ ﻋﻨﻪ اﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺑﻠﻔﻆ ﻵﻣﺮﻥ ﺑﺼﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﻗﺒﻠﻪ ﻭﻳﻮﻡ ﺑﻌﺪﻩ

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan redaksi: “Sungguh aku perintahkan puasa sehari sebelum Asyura dan sehari sesudahnya”

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *