Cancel Preloader

Puasa Ramadhan Di depan Mata, Waspada Wacana Buka Bersama

 Puasa Ramadhan Di depan Mata, Waspada Wacana Buka Bersama

Cara Allah Menjaga Kesucian Rasulullah dari Makanan (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Bulan Ramadhan sudah di depan mata, puasa kian hari kian dekat saja. Tak terasa. Setiap Muslim pasti berbahagia menyambutnya, tapi ada juga yang waspada, seperti saya.

Pasalnya, setiap bulan Ramadhan, buka puasa adalah momen yang ditunggu-tunggu semua kalangan, terutama yang menjalankan ibadah puasa. Biasanya momen buka puasa menjadi ajang berkumpulnya keluarga atau bahkan ajang balas dendam dengan menghantam semua menu yang disajikan di meja makan.

Momen buka puasa inilah yang cukup mengkhawatirkan. Banyak sekali umat Muslim yang memanfaatkannya untuk ajang silarurahmi dengan modus buka bersama.

Teman arisan, teman sekolah, rekan kerja, hingga teman-teman yang pernah dekat secara personal, kalau bisa semua dikumpulkan untuk berbuka puasa bersama. Wajar saja, setelah seharian penuh menjalani kewajiban berpuasa, tampaknya kita haus menikmati momen Ramadhan dengan hal-hal di luar yang menjadi kewajiban.

Kapan lagi kalau bukan sekarang? Itulah yang menjadi landasan kita dalam mewacanakan buka puasa bersama. Bisa dibilang, inilah histeria menyambut Ramadhan.

Hati-Hati Berjanji

Wacana buka puasa bersama ini menjadi kewaspadaan karena di dalamnya terdapat janji-janji untuk hadir. Faktanya, kebanyakan kasus wacana buka puasa bersama ini berakhir sekadar wacana.

Membuat janji memang mudah bagi sebagian banyak orang, namun mudah pula untuk mengkhianati janji yang telah dibuat. Ini termasuk ke dalam dosa lisan, meski praktiknya saat ini banyak terjadi via media sosial seperti grup-grup WhatsApp, atau yang lainnya.

Berjanji dalam wacana buka puasa bersama kemudian tidak menepatinya, apalagi tanpa alasan adalah salah satu tanda kemunafikan. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda,

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)

Menepati Janji Bukan Hal Sulit

Tanda munafik ini juga dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr ra, Nabi Saw bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya, akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen.). Dan jika ada pada dirinya salah satunya, maka dia memiliki sifat kemunafikan, sampai dia meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk peringatan baik kepada orang lain, pen.), Dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melebihi batas. ” (HR. Bukhari no. 34 dan Muslim no. 59, lafadz hadits ini milik Bukhari)

Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan mencirikan kesucian, maka jangan sampai kita nodai dengan kemunafikan di dalamnya. Ini sebagai pengingat untuk bersama bahwa siapa pun bisa menjadi orang munafik dengan tidak menepati janji.

Seyogianya kita bisa menerapkan kewaspadaan ini dalam masa berlaku saat wacana buka puasa bersama nanti. Dengan begitu, berarti telah menjaga diri dan menghindari dosa yang dapat menodai nilai ibadah. Wallahu’alam bi-Showab .

Pipit Enfiitri

Pipit Enfiitri

https://hidayatuna.com/

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 − 9 =