Pro Kontra RUU Minol, Ini Hukum Minum Khamr

 Pro Kontra RUU Minol, Ini Hukum Minum Khamr

Pro Kontra

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Rancangan Undang-undang Larangan Minuman Beralkohol (RUU Minol) telah digodok oleh DPR. RUU ini mengatur sanksi pidana bagi peminum khamr (alkohol) berupa pidana penjara maksimal dua tahun atau denda maksimal Rp 50 juta.

RUU ini pun menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Lantas bagaimana hukum minum khamr atau minuman beralkohol dalam Islam?

Dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan redaksi Hidayatuna, hukum minuman khamr dalam Islam secara tegas hukumnya adalah haram. Keharaman khamr ini dengan jelas difirmankan Allah SWT langsung dalam surah Al-Maidah ayat 90 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Pada ayat terakhir tersebut, Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa tindakan meminum khamr, berjudi, undi nasib, adalah perilaku yang dilarang. Untuk itu perilaku itu disebut sebagai rijsun (najis/keji), seiring setan senantiasa hendak berbuat menjerumuskan manusia ke dalam lembah kehinaan.

Hukum Meminum Khamr dalam Islam

Maka dari itu, orang yang meniru perilaku setan, dianggap sebagai orang yang hendak menjerumuskan dirinya sendiri dalam lembah kehinaan (rijsun) tersebut. Salah satunya adalah melalui khamr, judi, dan sebagaimana digambarkan dalam ayat tadi.

Sahabat Abdullah ibn Umar ra, suatu ketika berkata: “Diriwayatkan dari Baginda Nabi SAW, Sesungguhnya kelak para peminum khamr akan dihadirkan di hari kiamat kelak, dengan wajah yang menghitam, kedua bola matanya pucat, lidahnya terjulur hingga ke dadanya, dari kedua betisnya mengalir sesuatu yang seumpama darah. Mereka akan dipertontonkan dan dilecehkan di hadapan manusia.”

Maka dari itulah kemudian Baginda Nabi memberikan peringatan dalam sabdanya, “Jangan kau mengucapkan salam padanya. Jangan menjenguknya ketika ia sakit. Jangan mensalatinya ketika ia mati. Karena sesungguhnya mereka di sisi Allah, kedudukannya seperti penyembah berhala.”

Bagaimana mau diucapkan salam? Padahal salam adalah doa keselamatan, sementara peminum khamr memilih untuk dirinya ketidakselamatan. Bagaimana mau dijenguk? Sedangkan sakitnya itu sudah dibuatnya sendiri sebab kebiasaannya minum khamr.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

9 + 9 =