Praktik Alquran Saat Pemilihan Abu Bakar Sepeninggal Nabi Saw

 Praktik Alquran Saat Pemilihan Abu Bakar Sepeninggal Nabi Saw

Syafaat Nabi Muhammad atas umatnya yang berdosa (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sesuatu yang benar-benar mengerikan telah terjadi segera setelah tersebar kabar wafatnya Nabi Saw. Beberapa suku Arab yang telah masuk Islam yang tersebar di daerah Arabia Selatan melalukan semacam pemberontakan melawan pemerintahan resmi di Madinah.

Di antaranya meliputi daerah Yaman, Najran, Jizan, ‘Asir, Dhofar, dan Oman; dan daerah Arabia Tengah telah. Alasan mendasarnya dari terjadinya konflik ini adalah hadirnya asumsi dari kalangan ini bahwa kesetiaan mereka kepada pemerintahan telah berakhir seiring dengan wafatnya Nabi Saw.

Secara lebih lanjut, perdebatan yang cukup panas juga muncul di kalangan umat muslim. Mereka mengklaim atas hak untuk menjadi pemimpin umat yang menggantikan Nabi Saw.

Harus diakui bahwa secara eksplisit, dengan merujuk kepada Asma Asfaruddin (Afsaruddin, 2008). Rasulullah Saw pada dasarnya tidak memberikan instruksi khusus ihwal kriteria maupun cara-cara yang ditujukan dalam proses pemilihan penggantinya setelah wafat, termasuk kepada kalangan sahabat.

Tulisan ini berusaha melihat temuan Asma menyangkut dialektika pemilihan pemimpin yang melibatkan kalangan sahabat dan para umat muslim. Mereka yang hidup pada generasi tersebut setelah wafatnya Nabi Saw yang di dalamnya dianggap terdapat praktik Alquran dan proses transmisi pengetahuan.

Mengapa Nabi Saw tidak Menunjuk Penggantinya?

Pertanyaan ini mungkin satu dari sekian pertanyaan yang seringkali dimunculkan di kalangan umat Islam. Catatan Asma dalam bagian ini telah menunjukkan bahwa ada dua pendapat yang saling bertentang.

Pertama, bagi kalangan yang mempercayai bahwa pada dasarnya Nabi Saw benar-benar tidak menunjuk penggantinya. Umumnya terdapat dalam catatan kalangan Sunni, merujuk pada argumen bahwa kalangan muslim awal merupakan gerakan apokaliptik. Ini adalah gerakan yang mempercayai adanya hari akhir.

Nabi Saw dan para muslim mengharapkan dunia berakhir dalam masa-masa hidup mereka. Kedua, bagi kalangan yang menolak asumsi tersebut, umumnya berasal dari kalangan Syi’ah klasik, menganggap bahwa Nabi Saw. justru telah menetapkan Ali sebagai penggantinya sebelum wafatnya.

Terlepas dari perdebatan tersebut, jika melihat secara lebih mendalam. Pada dasarnya persoalan pemerintahan dan administrasi politik bukanlah topik utama yang berada dalam lingkup wahyu ilahi.

Asma menganggap bahwa persoalan politik merupakan sesuatu yang temporal, dapat dirancang, diubah, dan ditetapkan dengan pertimbangan akan kemaslahatan manusia.

Topik utama yang dibicarakan Alquran terkait persoalan ini justru condong pada pemenuhan kebutuhan. Untuk memilihara hukum dan ketertiban di bumi, mencegah kekacaun, dan mencegah tindakan korupsi di bumi.

Isyarat jelasnya dapat ditemukan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 11, 27, 205; QS. Al-A’raf [7]: 56, 85; QS. Al-Anfal [8]: 73; QS. Hud [11]; 116.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Pengganti Nabi Saw

Beberapa saat setelah Nabi Saw wafat, Umar bin Khattab segera membentuk sebuah majelis perkumpulan. Majelis ini dihadiri oleh kalangan Muhajirin (migran Mekkah) dan kalangan Anshar (kalangan Madinah) di sebuah serambi (Saqifa).

Peristiwa ini selanjutnya dikenal dengan peristiwa Saqifah. Inisiatif yang dilakukan Umar ini didasarkan pada kondisi yang mulai tidak kondusif di kalangan muslim awal ihwal siapa yang berhak untuk menggantikan posisi pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi Saw.

Setidaknya, dengan merujuk Asma, terdapat tiga klaim atas persoalan ini yang mengalami perdebatan yang cukup panjang dan menegangkan. Ketiga klaim tersebut hadir dari para pendukung Ali bin Abi Thalib, kalangan Muhajirin, dan kalangan Anshar.

Selama perkumpulan ini, meskipun Ali tidak hadir dalam perkumpulan ini dikarenakan persoalan penyusunan salinan tertulis mushaf Alquran juga mengurus pemakaman Nabi Saw. Para pendukung Ali bersikeras untuk mengangkat Ali menjadi pengganti Nabi Saw. sebagai pemimpin umat Islam.

Klaim ini didasarkan pada anggapan bahwa pada saat Nabi Saw masih hidup, ia telah menunjuk Ali sebagai penggantinya. Selain itu, dua alasan lain yang memperkuat klaim ini adalah bahwa Ali merupakan saudarah sedarah Nabi Saw. yang memiliki moral dan pengetahuan yang mumpuni.

Kaum Anshar Menyuarakan Pilihannya

Di lain sisi, Asma juga memperlihatkan bahwa selama perkumpulan ini, kalangan Anshar bersuara. Mereka menyuarakan bahwa umat Islam harus memilih pemimpin yang berasal dari kalangan Anshar dan kalangan Muhajirin.

Ini menandakan bahwa kalangan Anshar pada dasarnya menyarankan untuk adanya dua pemimpin sekaligus. Kemudian dengan segera ditolak oleh Umar. Istilah yang dihadirkan Umar cukup menarik: ‘Dua pedang dalam satu sarung itu tidak akan pernah berhasil’.

Untuk menengahi perdebatan yang sedang terjadi, Umar mengajak kepada para sahabat dan umat muslim awal untuk bersama-sama merenungi QS. An-Nisa [4]: 90 sembari memegang tangan Abu Bakar.

Ayat ini dipahami merujuk kepada peristiwa persinggahan Nabi Saw dan Abu Bakar di sebuah gua saat melakukan perjalanan menuju Madinah pada tahun 622. Segera setelah itu, Umar menyatakan kesetiaannya kepada Abu Bakar dan mengajak para sahabat yang hadir untuk ikut menyatakan kesetiaannya untuk mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin.

Kesetiaan Abu Bakar dalam Melayani Islam

Penggunaan referensi QS. An-Nisa [4]: 90 nampaknya telah menarik beberapa sarjana untuk ikut dalam perbincangan ini. ‘Amr ibn Bahr al-Jahiz (w. 869), misalnya dalam Risalat al-‘Utsmaniyyah, ia memberikan cacatan yang cukup menarik.

Menurutnya, ayat ini berbicara berkenaan dengan kepergiaanya bersama Nabi Saw di tengah bahaya yang besar. Secara bersamaan, menegaskan kesetiaan dan kedekatan yang luar biasa dengan Nabi Saw.

Sebagai akibatnya, kepercayaan yang kuat untuk jabatan ini banyak ditekankan di beberapa sumber yang ditemuinya. Lebih lanjut, hadirnya QS. An-Nisa [4]: 90 dalam perdebatan saat peristiwa Siqafah menjadi teks penguatan dalam wacana kepemimpinan.

Hal ini untuk menggarisbawahi kesaksian, kesetiaan, dan keberanian, serta keunggulan sosok Abu Bakar yang tidak terbantahkan lagi dalam melayani Islam di antara para sahabat yang lain. Terlepas dari ketegangan-ketegangan yang hadir setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai pemimpin yang menggantikan Nabi Saw.

Namun sampai pada titik ini, kita melihat bahwa Umar pada dasarnya telah sampai pada titik di mana ia mempraktikkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya terkait pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin, dan melakukan transimisi pengetahuan bahwa sosok pemimpin Islam harus memiliki kesetiaan dan keberanian dalam melayani Islam. Wallahu’alam.

 

 

Referensi

Afsaruddin, A., 2008. The first Muslims: history and memory. Oneworld, Oxford.

Muhammad Arman Al Jufri

https://hidayatuna.com

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ten − nine =