Pesantren

Ponpes Mambaus Sholihin, Kawah Candradimuka Orang Saleh

HIDAYATUNA.COM – Pondok Pesantren Mambaus Sholihin berlokasi di Jl. KH. Syafi’I No. 7 Suci Manyar Gresik, 7 km dari pusat kota Gresik. Pondok Pesantren Mambaus Sholihin dirintis pada tahun 1969 oleh ayahandnya KH. Masbuhin Faqih yang bernama KH. Abdullah Faqih. Pada awalnya Pondok Pesantren tersebut berbentuk surau kecil untuk mengkaji Alquran dan kitab kuning di lingkungan desa Suci.

KH. Masbuhin Faqih merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik. Beliau lahir pada 31 Desember 1947 Masehi atau 18 Shafar 1367 Hijriyah di Desa Suci Kecamatan Manyar Kabapaten Gresik.

Beliau memiliki silsilah yang mulia, karena terlahir dari pasangan Al Maghfurlah KH. Abdullah Faqih dan Hj. Tswaib. Dari pasangan tersebut terlahir 5 anak (3 Putra dan 2 Putri), Kiai Masbuhin ini merupakan anak pertama dari kelima saudara.

Kalau dilihat dari runtutan silsilah dari ayahandanya hingga Kiai Masbuhin yakni sampai keturunan Sunan Giri. Maka beliau adalah keturunan ke 12 dari kanjeng Sunan Giri Syeikh Maulana Ishaq.

Dengan runtutan silsilah sebagai berikut, “Syeikh Ainul Yaqin (Sunan Giri), Sunan Dalem , Sunan Prapen, Kawis Goa, Pangeran Giri, Gusti Mukmin, Amirus Sholih, Abdul Hamid, Embah Taqrib, KH. Muhammad Thoyyib, KH. Abdullah Faqih, KH. Masbuhin Faqih”.

Dengan Silsilah begitu agung, tidak bisa di pungkiri jika beliau terdapat jiwa dan ruh seorang ulama yang berjuang tangguh tanpa batas waktu seperti embah buyutnya terdahulu.

Hal ini sesuai dengan sebuah kiasan santri “Bapaknya singa maka anak-anaknya pun singa”. Sangat jelas pendidiknya Kiai Masbuhin dilingkungan yang Islami. Muali sejak kecil bersama orang tuanya, hingga ke dunia pendidikan Madrasah Islam.

Kiai Masbuhin dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau didampingi sang istri yang bernama Nyai Hj. Mas’ani. Kehidupannya menjadi seorang istri, Nyai Hj. Mas’ani menjadi isrti yang taat dan setia sehidup semati.

Baca Juga :  Pondok Pesantren Langitan, pendidikan Islam tertua di Indonesia.

Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 12 anak (9 Putra dan 3 Putri). Walaupun pasangan kekasih ini sudah menikah dan mempunyai anak tetap saja masi mengenyam ilmu di Pondok Pesantren Langitan.

Singkat cerita ditengah-tengah menimba ilmu di Langitan, tepatnya pada tahun 1976 M atau pada saat beliau berumur 29 tahun, KH. Abdullah Faqih Langitan memberikan perintah Kiai Masbuhin untuk berjuang di tengah masyarakat suci bersama-sama dengan abahnya. KH. Faqih langitan sudah yakin bahwasannya santrinya ini sudah cukup ilmuya untuk berdakwah dan mengajar di masyarakat.

Waktu demi waktu berlalu, proses berdakwah terus berjalan dan berkembang pesat. Dengan dorongan dan perintah dari guru-guru beliau, KH. Abdul Hadi Zahid Langitan, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Utsman al Ishaqiy Surabaya, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Dimyathi Rois Kaliwungu, Habib al Idrus dan Habib Macan Pasuruan.

Akhirnya pada tahun 1980 KH. Masbuhin Faqih mendirikan pesantren di lokasi yang disepakati oleh para gurunya. Perkembangan itu membuat pesantren berdiri oleh beberapa guru beliau agar proses berdakwah tersebut lancar.

Bersama-sama dengan Anak-anaknya mereka mendirikan suatu pondok yang diberi nama PP. At-Thohiriyyah, yang mana dengan filosofi berada di desa Suci. KH. Masbuhin pada waktu itu masih pulang pergi dari langitan ke Suci.

Beliau masih beranggapan bahwa menimba ilmu di langitan belum sempurna kalau tidak dengan waktu yang lama. Inilah salah satu kelebihan beliau, yakni haus akan ilmu pengetahuan agama Islam.

Hal ini didasari oleh perasaan khawatir beliau akan timbulnya nafsu, karena mendirikan pondok harus benar benar didasari oleh ketulusan hati untuk Nasrul Ilmi (untuk menegakkan Agama Allah), bukan atas dorongan nafsu, apalagi punya keinginan mendapatkan santri yang banyak.

Baca Juga :  Sejarah dan Kiprah Ponpes Darul Ulum Jombang

Tepat pada tahun 1980 M, beliau sudah mendapat restu untuk meninggalkan Pondok Pesantren Langitan. Dengan itulah beliau sekarang harus berkonsentrasi dalam mengurus Pondok Pesantren At-Thohiriyyah bersama dengan abahnya. Sedangkan nama madrasahnya Roudhotut Tholibin mengikut nama masjid “Roudhtus Salam”

Pada tahun 1980 PP. At-Thohiriyyah dirubah menjadi PP. Mamba’us Sholihin, keadaan ini sesuai dengan usulan KH. Usman Al-Ishaqi, nama itu dirubah menjadi Mambaus Sholihin, yang berarti sumber orang-orang saleh.

Karena nama suatu pondok dirasa mempunyai arti dan harapan yang penting. Perjuangan KH. Masbuhin dalam memajukan pondoknya tidak kenal lelah. Setahap demi setahap pembangunan pondok dilakukan, mulai dari komplek sampai sekolahannya.

Dengan relokasi yang cukup banyak beliau mampu membuat MBS (singkatan dari Mamba’us Sholihin) lebih maju baik itu gedungnya maupun kualitas sumber daya manusia di dalamnya.

Bahwasannya sosok Kiai Masbuhin Faqih merupakan pemuda yang giat, tekun belajar, suka bekerja keras dan optimis dalam suatu keadaan apapun. Waktu di Pondok Pesantren Langitan. Beliau banyak melakukan tirakat, seperti memasak sendiri, melakukan ibadah puasa sunnah dan lain-lain.

Di sana juga, Beliau sempat menjadi khadam (pembantu dalem) kyai. Hal ini sampai menjadi jargon beliau dalam menasehati santri MBS (Mambaus Sholihin), yakni “nek mondok ojo belajar tok, tapi nyambio ngabdi nang pondok iku”. Dengan penuh keihlasan dan kesabaran, beliau jalani semua kehidupan diatas demi mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah.

Tepat pada tahun 1997 M, suasana duka menyelimuti pondok pesantren dan masayrakat desa Suci. Abah beliau meninggal dunia pada umur 77 tahun. sosok suri tauladan dan landasan perjuanagn beliau sudah tidak ada. Dengan keadaan itulah beliau harus membawa MBS menggantikan abahnya.

Baca Juga :  Ponpes Kaligrafi Al Quran Lemka, Mencetak Ahli Kaligrafi Profesional

Dengan kegigihan dan perjuangan keras dalam berda’wah menyebarkan agama Islam, KH. Masbuhin menjadi ulama yang terkenal, tidak di Indonesia saja tetapi sampai ke luar negeri khususnya di negeri Hadaramaut Yaman. Beliau sangat mencintai dan mengagungkan para dzuriyyah rasulullah SAW.

Hal inilah yang menjadikan beliau terkenal di negara tersebut. Dengan sifat tersebut pula, apabila ada habaib dari yaman yang datang ke Indonesia maka beliau meminta agar bisa menyempatkan mampir ke Pondok Mambaus Sholihin walaupun sebentar.

Sumber

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close