Polemik Salam Lintas Agama, Salam Pancasila

 Polemik Salam Lintas Agama, Salam Pancasila

Mengenalkan Toleransi dan Rambu-rambunya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – “Salam Pancasila” ketika bernostalgia sejenak, pikiran kita akan melabuh pada keriuhan beberapa waktu lalu yang meramaikan saentero Indonesia. Pasalnya salam Pancasila ini pernah menjadi trending topik yang menggelegar dan menggegerkan publik ramai Indonesia, baik dalam dunia nyata terlebih warga maya yang semakin riuh. Salam Pancasila dianggap sebagai pengganti Assalamualaikum.

Mau diakui atau tidak, Headline berita yang terpampang pun menandakan adanya sinyal-sinyal keriuhan dari pakem pemikiran masyarakat yang telah mengakar dan menguat. Seperti dibuat AntaraNews “Kepala BPIP usulkan Assalamu’alaikum diganti salam Pancasila” atau Media Indonesia memberi Headline begini “Salam Pancasila Gantikan Assalamualaikum, Ini Penjelasan BPIP”. Begitulah kiranya yang menjadi Headline berita kala itu.

Intinya suasana kala itu begitu ramai. Sampai-sampai banyak orang yang menanggapi, mulai dari tokoh, ulama, dan politisi turut bersuara, beragam kecaman, tudingan yang tidak-tidak terhadap kepala BPIP, diangkat di forum Indonesia Lawyers Club (ILC) bahkan banyak video-video yang mempraktikkan salam Pancasila ketika hendak mendatangi rumah.

Padahal tujuannya tidaklah demikian, meski pembahasan ini nampak usang, sebenarnya penting untuk menggaungkan kembali “salam Pancasila” ini. Buku karya Khoirul Anam yang bertajuk Salam Pancasila sebagai Salam Kebangsaan: Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D. yang menindaklanjuti pernyataan Prof. Yudian Wahyudi terkait salam Pancasila yang sempat riuh-sorai.

Jika warganett hanya mampu memberikan komentar dan cibiran, Khoirul Anam berupaya lebih jauh dengan memberikan kajian yang lebih serius. dengan koridor akademik atas polemik tadi dan berupaya menjadi penafsir atas pesona gagasan Yudian Wahyudi terhadap Pancasila.

***

Inspirasi salam Pancasila ini sebenarnya muncul dari “Salam Merdeka”-nya Soekarno. Megawati Soekarno Putri-lah yang kemudian mencetuskannya dan kembali digaungkan oleh Kepala BPIP. Sebagaimana Soekarna yang setiap kali berpidato pasti menyempilkan “Salam Merdeka”.

Sebagai greeting and solutation terhadap rakyat Indoensia yang ingin lepas dari penjajahan dan meraih kemerdekaan. Salam merdeka sebagai wujud semangat bangsa untuk meraih kemerdekaan dan memperat jalinan antar masyarakat untuk misi dan tujuan yang sama, yakni MERDEKA.

Kini Indonesia telah merdeka, sehingga ‘salam merdeka’ terlalu usang untuk kembali digegap-gempitakan. Kemerdekaan yang diraih merupakan hadiah yang luar biasa, dan telah diketahui bersama Indonesia merupakan negara plural yang terdiri dari ragam rupa suku, budaya, ras, dan Agama. Agama yang ada di Indonesia ada 6 agama resmi, lain halnya dengan agama lain yang tidak diakui, dan keyakinan-keyakinan yang masih banyak dianut masyarakat Indonesia.

Indonesia yang plural ini dilengkapi dengan masyarakat yang memiliki ragam latar belakang seringkali terjadi gesekan dan benturan. Bahkan dalam penggunaan salam saja Indonesia seringkali terjadi ketegangan pendapat dan pertarungan pemikiran.

Sebut saja dalam Islam dengan “Assalamu’alaikum”; di Kristen menyebut “salam kebajikan untuk kita semua”; Khatolik dengan “Shalom”; Hindu menyebut “Om Swasti Astu”; Budha dengan “Namo Budhaya”; dan sementara Konghucu menyebut salamnya dengan “salam kebajikan”.

***

Ketika kita mengikuti sebuah perkumpulan publik misal, pasti dihadiri orang-orang yang berbeda latar belakang. Pasti kita pernah mendengar ucapan dari  para pelaku narasumber maupun panitia menggunakan salam dari semua agama yang ada, atau presiden ketika memberikan pidato, dan pejabat-pejabat publik lain tak jauh berbeda. Sama-sama menyebut kesemuanya, tiada lain hanya untuk memberi penghormatan terhadap masyarakat yang bhineka dengan ragam agama yang dipunya.

Namun, ketika dihadapkan dengan realitas sosial keberagamaan. Ada beberapa ulama dan beberapa golongan atau organisasi masyarakat (ormas) Islam yang menyatakan keharamannya untuk mengucapkan salam lintas agama karena dianggap memperkeruh keimanan atau mengganggu stabilitas iman. Atau mengatakan telah mengakui kebenaran agama dari salam yang terucap. Hingga dimunculkan hadis yang berbunyu “Man Tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” Barang siapa yang menyerupai sekelompok orang, maka ia merupakan bagian dari mereka. Meskipun masih banyak pendapat yang yang pro dengan pegucapan salam lintas agama.

Atau biasanya dalil yang digunakan untuk pelarangan mengucapkan salam kepada non-muslim adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang memiliki arti begini “Janganlah kalian awali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu salah seorang mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggir”

Bahkan Khoirul Anam membeberkan fakta mengejutkan terkait polemik salam yang tak berkesudahan bahwa Gus dur pernah menawarkan “Selamat Pagi” sebagai salam kebangsaan. Bahkan ada yang lebih keukuh menolak untuk mengucapkan salam dari agamanya sebagaimana dilakukan Dr. Daoed Djoesoef yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan ia merupakan seorang muslim dari Aceh. (Lihat, Koirul Anam, hal. 5)

Salam Pancasila sebagai Salam Kebangsaan

Untuk meredam ketegangan ini “Salam Pancasila” yang sempat menghebohkan sebagaimana digaungkan kembali oleh Kepala BPIP tiada lain bukan bermaksud menggantikan “Assalamu’alaikum” yang bersifat Ushuli dan Ibadh mahdhah, misal usai pelaksanaan shalat bukan lagi melafalkan assalamua’alaikum melainkan salam Pancasila, atau ketika hendak bertamu lantas menggantikannya dengan Pancasila. Oh tentu tidak!

Namun salam Pancasila diharapkan bisa menjadi redaksi salam yang dapat diterima semua lapisan masyarakat Indonesia, diharapkan menjadi kesepakatan nasional, sehingga pejabat publik dan semua orang yang berkepentingan tidak perlu lagi menyebutkan salam lintas agama dalam pertemuan publik (hal. 6)

Prof Yudian menyebut bahwa “Salam Pancasila memiliki status ibadah ghairu mahdlah, karena ia menyerukan persatuan yang yang diperintahkan oleh Allah Swt, serta termasuk dalam Maqashid al-dlaruri dari hukum Islam” (hal. 96)

Betapapun ada pejabat publik yang masih meyakini pengharaman untuk mengucapkan salam terhadap non-muslim, itu sah-sah saja. Tapi sebagai tokoh publik terlebih pemimpin daerah yang bukan saja dari kalangan masyarakat muslim, apa iya hanya akan mengatakan “Assalamu’alaikum”. Salam Pancasila hadir untuk ini, upaya peredaman atas polemik salam yang terus ada.

Bukankah Pancasila telah diyakini dan diakui bersama? Bahkan dalam tubuh Islam sendiri mengakui bahwa muatan yang ada dalam Pancasila telah mencerminkan nilai-nilai islami dan bersumber dari nash-nash quran dan hadis. Mulai dari sila pertama hingga sila kelima.

Jadi apa yang salah jika mengucapkan salam Pancasila dalam forum-forum publik. Toh salam Pancasila tak jauh beda dengan salam-salam lainnya seperti salam dua jari atau salam satu aspal atau salam-salam lain sebagaimana digegap-gempitakan komunitas-komunitas lainnya.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *