Pesan Nasionalisme Dari Menara Masjid Tambakberas

 Pesan Nasionalisme Dari Menara Masjid Tambakberas
Digiqole ad

Dr. Setia Budi/Ernest Douwes Dekker mengatakan “Jika tidak karena pengaruh dan didikan agama Islam, maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti yang diperlihatkan oleh sejarahnya hingga mencapai kemerdekaanya”.

Kiprah pesantren dan umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia sangat penting karena para tokoh pergerakan nasional tidak dapat lepas dari dunia pesantren dan spirit Islam. Sebut saja Haji Samanhudi dan Haji Oemar Said TJokroaminoto pendiri Syarikat Islam sebuah organisasi politik pertama di Hindia Belada yang menetapkan “Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia” pada tahun 1912 adalah para santri.

Spriti perjuangan para ulama terus terinisiasi ke generasi berikutnya, mereka seakan telah mendapatkan isyarat akan tegaknya suatu negara Indonesia. Para ulama tidak henti melakukan tirakat  dan riyadloh untuk keselamatan rakyat Indonesia dan kemerdekaan Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh  Kiai Chasbullah Said, ayah dari Kiai Wahab Hasbullah sesudah melakukan tirakat panjangnya, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur ini memberikan pesan yang dituliskan di Menara masjid pesantren (sekarang dikenal dengan Menara Masjid Pondok Induk). Seusai menuliskan pesan tersebut Kiai Chasbullah menutupinya dengan kain satir dan berpesan kepada para santri agar tidak ada yang membuka satir tulisan tersebut.

Beberapa tahun kemudian menjelang wafatnya, ia berpesan lagi kepada santri “Lek misale aku mati omongono nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948 (kalau misalnya aku sudah meninggal katakan kepada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948). Setelah memberikan pesan tersebut beberapa bulan kemudian Kiai Chasbullah wafat dan pesantren diteruskan oleh Kiai Wahab Hasbullah dan pada tahun 1948 dengan didampingi para santri yang terus mengumandangkan shalawat burdah Kiai Wahab membuka tirai tersebut, setelah dibuka ternyata dibalik satir terdapat ukiran huruf hijaiyah ha ra ta mim (ح ر ت م) yang menempel.

Setelah melihat dengan seksama, Kiai Wahab mulai mengerti maksudnya, huruf hijaiyah itu bila disambungkan akan terbaca hurun taamun artinya “Kemerdekaan yang Sempurna”. Pada tahun 1948 kemerdekaan Indonesia mulai diakui dunia, agresi militer belanda juga berhasil dipukul mundur. Karenanya, tahun-tahun sebelumnya ketika kemerdekaan hampir saja diraih Kiai Wahab menyuruh para santrinya untuk I’tikaf di masjid selama sehari penuh dengan membaca amalan shalawat burdah yang merupakan ijazah dari Kiai Chasbullah. Kiai  Wahab memilih menyendiri di dalam sebuah kamar. Begitupun para ulama dan santri di pesantren-pesantren lain juga melakukan hal yang sama.

Bagi pesantren, Indonesia adalah martabat dan harga diri. Memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Bagi umat Islam khususnya para santri kemerdekaan RI adalah rahmat Allah SWT seperti yang tertulis dalam preambule UUD 45 “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakytat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya”.

Sumber : Masterpiece Islam Nusantara, Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) – Zainul Milal Bizawie

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seven − 2 =