Persatuan dan Kesatuan dalam Tafsir QS Ali Imran: 103

 Persatuan dan Kesatuan dalam Tafsir QS Ali Imran: 103

Mengenalkan Toleransi dan Rambu-rambunya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Manusia diciptakan oleh Allah SWT. dengan beragam ras, warna kulit, bahasa, budaya, agama dan lain sebagainya. Hal ini karena Allah ingin menunjukkan betapa hebatnya dan Maha Kuasa-Nya kepada semua umat manusia.

Perbedaan tersebut pada satu sisi bernilai positif karena dengan perbedaan dan keragaman tersebut, manusia dapat saling melengkapi satu sama lain. Dari situlah manusia dinamakan makhluk sosial.

Akan tetapi pada lain sisi, perbedaan dan keragaman tersebut dianggap sebagai titik beda oleh sebagian orang atau kelompok. Sehingga sebagian kelompok tersebut merasa unggul dari kelompok yang lain.

Dengan itu, kelompok satu melakukan tindakan intimidasi dan diskriminasi pada kelompok lain, yang akhirnya berdampak negatif dan perpecahan. Oleh karena hal itu, Alquran kembali mengingatkan melalui QS Ali Imran ayat 103 sebagai berikut:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

  1. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Asbabun Nuzul QS Ali Imran: 103

Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa semua umat manusia, meskipun memiliki perbedaan satu sama lain, tidak diperbolehkan untuk berpecah belah. Allah mengajarkan adanya persatuan dan kesatuan pada semua ciptaan-Nya. Dengan cara tetap berpegang teguh pada ajaran-Nya.

Menurut keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ayat ini diturunkan berkaitan dengan suku Aus dan Khazraj yang berada di Madinah. Pada era jahiliyyah, kedua suku ini sering terlibat konflik yang berkepanjngan dan telah banyak pertumpahan darah antara keduanya. Saat Islam datang kedua kaum ini sempat berdamai.

Namun pada suatu saat, api pertikaian antara keduanya hampir berkobar. Penyulut api itu adalah Syaas bin Qais seorang Yahudi tua yang tidak rela keduanya berdamai.

Melalui sulutan Qais, api perpecahan keduanya mulai menyala. Mereka saling membanggakan diri dan menjatuhkan yang lain, bahkan keduanya sudah menghunus pedang hendak berperang.

Akhirnya diturunkanlah ayat ini pada mereka. Demikian keterangan yang diutarakan dalam kitab Asbab al Nuzul karya Al-Wahidi al-Naisaburi.

Meskipun secara spesifik ayat ini diturunkan pada suku Auz dan suku Khazraj, namun dalam memahami suatu ayat Alquran ada kaidah, al-ibrah bi al-umum al-lafdzi la bi khusus al-sabab. Berdasarkan kaidah ini, ayat tersebut memiliki keumuman lafadz yang darinya ayat tersebut dapat dijadikan sebagai acuan oleh umat muslim secara umum dan secara luas kepada umat manusia.

Pentingnya Menjaga Keutuhan

Pakar tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab mengemukakan persatuan dan kesatuan antar umat manusia merupakan keniscayaan yang harus dirawat dan dikelola dengan baik. Sebab, jika hanya mencari perbedaan pada diri manusia tidak pernah ada titik temunya.

Memang sejatinya, secara fitrah manusia menjadi makhluk ciptaan yang berbeda-beda. Namun justru dengan begitulah manusia dapat melangsungkan kehidupannya di pentas bumi ini.

Saat memahami ayat di atas, Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskannya dalam konteks sejarah Indonesia. Dimana persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pernah diusik oleh sebagian kelompok yang melakukan provokasi dan intimidasi dengan menamakan Gerpol, gerilya politik.

Mereka menyebar fitnah di mana-mana dengan tujuan memecah belah bangsa Indonesia. Sejatinya, dalam setiap kurun waktu pasti akan tetap ada sebagian orang yang akan menyulut api perpecahan. Sebagaimana yang  diceritakan dalam sabab nuzul ayat ini dan juga yang pernah terjadi pada bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, dalam ayat tersebut setelah perintah untuk bersatu, diiringi perintah untuk  mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan pada setiap umat. Dalam konteks ini, nikmat tersebut dapat diartikan seperti di antaranya perdamaian,  ketenangan, dan  keamanan.

Bahaya Perpecahan

Perintah untuk persatuan dalam ayat ini tentu mengindikasikan adanya perpecahan. Sebagaimana pada sabab nuzul ayat di atas, suku Auz dan suku Khazraj yang sudah berdamai pasca kedatangan Nabi saw di Madinah.

Hanya karena adanya fitnah yang disebar oleh seorang Yahudi, kedua suku tersebut hendak melakukan peperangan kembali.

Perpecahan antara kelompok manusia akan sangat merugikan, tidak hanya pada kelompok yang bertikai. Bisa jadi imbas perpecahan tersebut pada kelompok lainnya.

Jika perpecahan itu masih tetap terjadi, dampaknya semakin luas. Bahkan tidak hanya umat manusia, makhluk lain juga turut merasakan dampak negatif perpecahan tersebut. Tentu hal ini tidak kita inginkan.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menanggalkan semua perbedaan dan berjalan menuju persatuan. Insya Allah, keamanan dan ketentraman akan tetap kita rasakan.

Thoriqul Aziz

Thoriqul Aziz merupakan peserta Lomba Menulis Artikel Hidayatuna.com, artikel tersebut adalah tulisan yang lolos ke tahap penjurian sebelum penetapan pemenang.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *