Pers Islam, Gus Baha: Bicara Agama Butuh Sanad

 Pers Islam, Gus Baha: Bicara Agama Butuh Sanad

Ilustrasi/Hidayatuna

HIDAYATUNA.COM – Bertepatan dengan Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Februari tidak bisa dilepaskan dengan napas Islam. Sejak era konvergensi media, saat banyak media digabungkan untuk tujuan tertentu, pers Islam justru bak primadona.

Ketertarikan masyarakat Indonesia saat ini pada isu-isu terkait Islam tidak terbendung. Apalagi munculnya fenomena hingga ustaz-ustaz hijrah, semakin membuka lapangan kerja bagi para penulis untuk menyajikan karya jurnalisme damai dan Islami.

Makin banyak orang berbicara mengenai agama dadalam pers Islam. Tentulah hal itu harus sesuai dengan kapasitas yang berbicara. Sebagai apa dan apa yang dikatakannya berdasar atau tidak.

Seperti yang dikatakan Gus Baha, dilansir dari Nusadaily, masalah agama itu tidak boleh sembarangan. Tetapi semua yang disampaikan harus memiliki sanad.

“Tidak seperti yang terjadi di zaman ini. Orang sering membicarakan agama. Seolah-olah, semua orang sekarang memiliki legitimasi untuk berbicara tentang agama. Padahal, agama tidak demikian. Agama tetap membutuhkan sanad, membutuhkan riwayat sehingga tidak sembarang orang boleh berbicara agama apalagi hanya bermodal akal saja,” katanya.

Hal ini relevan dengan Pers Islam, sebagai media dakwah, Pers Islam tidak hanya ayatisasi saja. Meski cara demikian masih membuat orang tersentuh namun Pers Islam tetap harus lebih cerdas menampilkan nilai-nilai Islam pada media Islam.

Rasulullah Teladan dalam Jurnalisme Dakwah

Perjalanan pers Islam jauh sebelum pers nasional dan international lahir, sudah ada sejak jaman Rasulullah dan para sahabatnya. Mulai dari ketika Rasulullah mengabarkan Islam sebagai agama damai. Kemudian berlanjut ketika Rasulullah Saw mengumpulkan ayat-ayat yang ada di batu-batu, daun-daunan, dan lain-lain.

Semua yang dilakukan Rasulullah Saw dalam mengemban dakwah sebagaimana pers Islam saat ini, tentu memiliki dasar yang kuat. Sanad atau riwayatnya langsung dari Allah dan Nabi Muhammad Saw sendiri hingga diriwayatkan oleh para sahabat.

Jika tidak ada sanad yang jelas, khawatirnya menyesatkan dan itu adalah sifat iblis. Manusia dan Iblis memiliki kesamaan yakni memiliki pikiran sehingga sangat dianjurkan untuk bicara soal agama dengan riwayat yang jelas.

Gus Baha mencontohkan, bagaimana iblis dan malaikat yang sama-sama memiliki pikiran. Bahkan, kalau diperbandingkan pikiran kedua makhluk tersebut bisa jadi lebih benar iblis jika hanya dilihat berdasarkan pikiran.

“Ketika agama diikutkan pada pikiran, maka bisa jadi lebih benar iblis karena cara berpikir iblis menganggap bahwa Nabi Adam dianggap lemah. Sementara iblis adalah api sehingga dapat diartikan lebih unggul iblis. Sementara malaikat tidak pernah berpikir, apa yang jadi tugas tinggal malaikat laksanakan. Tidak perlu berpikir,” ujar Gus Baha dalam kanal Youtube yang dikutip Nusadaily.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah al-A’raf ayat 12.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf: 12)

Pers Islam kini bisa dibilang primadona bagi masyarakat luas yang penasaran dengan persoalan agama. Untuk itu sebaiknya menghadirkan pembicaraan mengenai agama wajib memiliki sanad.  Bukan berdasarkan akal semata melainkan harus mengikuti ulama.

Banyak membahas mengenai agama sudah menjadi darah daging bagi Pers Islam, dan persoalan itu sebenarnya merupakan sebuah kepelikan. Hanya ulama yang memahami kepelikan tersebut saat ini.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × 2 =