Periodisasi Sejarah Islam Versi Harun Nasution

 Periodisasi Sejarah Islam Versi Harun Nasution

Periodisasi Sejarah Islam Versi Harun Nasution (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sejak pertama kali kemunculannya dalam panggung sejarah, Islam kini sudah menginjak usia ke 1412 dalam hitungan Masehi atau 1456 menurut penanggalan Komariyah.

Perjalanan panjang itu bukan tanpa warna dan tantangan. Berkali-kali mengalami konflik dan perseteruan, berkali-kali mengalami perpecahan, dan berkali-kali pula mengalami pergantian sistem pemerintahan.

Dalam kajian ilmu sejarah, membaca sejarah yang panjang memerlukan periodisasi yang tepat agar dapat dipahami dengan mudah. Begitu pun sejarah Islam.

Ada beberapa model yang ditawarkan para sejarawan dalam memetakan sejarah Islam, namun yang paling terkenal khususnya di kalangan akademisi Indonesia adalah periodisasi Islam-nya Harun Nasution.

Harun Nasution dikenal sebagai ahli filsafat Islam. Lulusan American University in Cairo dan McGill University ini sempat berkarir sebagai diplomat sebelum akhirnya mengabdikan diri pada ranah akademik. Beliau merupakan mantan rektor IAIN Syarif Hidayatullah tahun 1973-1984.

Harun Nasution berpendapat bahwa ada tiga fase utama sejarah peradaban Islam. Periode Klasik (650 – 1250 M), Periode Pertengahan (1250 – 1800 M), dan periode modern (1800 – sekarang).

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai titik mulai periode awal sejarah Islam. Ada yang bertolak dari sejak pengangkatan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah 610 M, ada pula yang bertolak dari peristiwa hijrah Nabi 622 M.

Belum diketahui secara pasti mengapa Harun Nasution mengambil tahun 650 M sebagai angka permulaan, barang kali itu hanya penanda ‘kasar’ saja agar mudah diingat.

Masa Klasik (650 – 1250 M)

Dalam bukunya berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” Jilid I, Harun Nasution membagi periode klasik menjadi dua masa, yakni masa kemajuan Islam dan masa disintegrasi.

Masa kemajuan ini ditandai dengan ekspansi dan integrasi, yang meliputi era Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayah dan separuh pertama masanya Abbasiyah.

Semenanjung Arabia telah ditaklukan sebelum Nabi wafat, sedangkan luar Arabia dimulai setelah Khalifah Abu Bakar al-Shidiq. Masa kekhalifahan Abu Bakar berlangsung singkat (632 – 634 M).

Ekspansi besar-besaran dimulai pada masa Umar bin Khattab (634 – 644 M). Pada masanya, wilayah Islam sudah meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Suria, Irak, Persia dan Mesir.

Usman bin Affan memerintah paling lama di antara Khulafa al-Rasyidin (644 – 656 M). Pada masanya, di kalangan umat Islam mulai terjadi perpecahan yang berujung terbunuhnya khalifah Usman. Sebagai pengganti, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah (656 – 661 M).

Pasca Khalifah Ali RA, sistem pemerintahan Islam beralih menjadi Dinasti. Umayyah menjadi dinasti pertama Islam yang berlangsung selama 90 tahun. Pada masa Umayyah, peradaban Islam mulai terbentuk dan mencapai masa-masa keemasan. Khalifahnya terkenalnya diantaranya Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, dan Umar bin Abdul Aziz.

Pada tahun 750 M, Abul Abbas al-Shaffah mendirikan dinasti Abbasiyah (750 – 1258 M). Pemerintahan yang mulanya berpusat di Damaskus berpindah ke Baghdad. Abbasiyah sebelum tahun 1000 M masih bisa dikatakan solid dan mengalami masa kejayaannya.

Di masa Abbasiyah paruh pertama inilah perhatian terhadap ilmu pengetahuan memuncak, terutama di era khalifah Harun al-Rasyid (785 – 809 M) dan al-Makmun (813 – 833 M).

Bagian kedua dari masa klasik adalah masa disintegrasi (1000 – 1250 M). Masa ini ditandai dengan semakin banyaknya wilayah-wilayah otonom yang tidak bisa dikatakan berada dalam kekuasaan Abasiyah. Sebut saja misal kerajaan Idrisi di Fez, Dinasti Aghlabi di Tunis, Dinasti Tulun di Mesir, Dinasti Ikhsyid Baghda, Dinasti Fatimiah Mesir dan masih banyak lagi.

Disintegrasi dalam lapangan politik berdampak pada disintegrasi pada aspek yang lebih luas, seperti kebudayaan dan pendidikan.

Pada masa ini, nyaris tidak ada aktivitas ilmiah yang berarti. Ditambah lagi perang Salib yang berkepanjangan 1096 – 1270 M.

Masa Pertengahan (1250 – 1800 M)

Harun Nasution membagi pula periode ini ke dalam dua masa, masa kemunduran (1250 – 1500 M) dan masa tiga kerajaan besar.

Pada masa kemunduran, ditandai dengan penyerangan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan terhadap Badhdad (1258 M). Pasca penyerangan, Baghdad untuk beberapa waktu di bawah kekuasaan Dinasti Ilkhan.

Pada masa ini, desentralisasi dan disintegrasi dalam dunia Islam meningkat. Di zaman ini pula lembaha khilafah hancur secara formal. Tidak ada otoritas tunggal yang diakui sampai kerajaan Usmani mengangkat khalifah yang baru di Istanbul.

Selanjutnya, masa tiga kerajaan dibagi menjadi dua fase. Fase pertama yakni fase kemajuan (1500 – 1700 M), dan fase kedua adalah fase kemunduran (1700 – 1800 M). Tiga kerajaan yang dimaksud adalah Turki Usmani, Safawi di Persia, dan Mughal di India.

Di fase kemajuan ini, Harun Nasution menyebutnya sebagai Kemajuan jilid dua. Kemajuan jilid pertama diraih pada masa klasik. Pada kemajuan II ini ditandai dengan penaklukan Konstantinopel atau Istanbul yang dipimpin Sultan Muhammad al-Fatih (1451 – 14 81 M). Di masa kemajuan inilah wilayah Usmani menaklukan Eropa.

Sementara itu, di daratan Persia berdiri dinasti Shafawi yang beraliran Syi’ah (1507 – 1722 M). Di barat berbatasan dengan Turki Usmani, sedangkan di timur berbatasan dengan Mughal. Raja-rajanya yang terkenal adalah Syah Ismail (1500 – 1524 M), Syah Tahmasp (1524 – 1576 M) dan Syah Abbas (1557 – 1629 M).

Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur (1482 – 1530 M) di Delhi. Sultannya yang terkenal adalah Sultan Akbar (1556 – 1606 M), Jehangir (1605 – 1627 M), Syah Jehan (1628 – 1658 M), dan Aurangzeb (1659 – 1707 M).

Harun Nasution memberi catatan bahwa kemajuan di masa ini lebih banyak pada aspek politik, dan jauh lebih kecil dari kemajuan Islam pada jilid pertama. Selain dalam aspek politik, kemajuan yang dicapai biasanya berupa literatur dan arsitektur.

Memasuki tahun 1700-an, dunia Islam mulai mengalami kemunduran. Turki Usmani tidak lagi memiliki sultan-sultan kenamaan. Pemberontakan di mana-mana. Peperangan dengan Eropa sering mengalami kekalahan.

Di Persia, Kerajaan Safawi mendapat serangan dari raja Afghan, penganut paham Sunni. Sedangkan di India, di bawah pemerintahan Aurangzeb, terjadi pemberontakan-pemberontakan dari pihak golongan Hindu selaku mayoritas penduduk India.

Di masa ini, kekuatan militer dan politik umat Islam menurun. Monopoli perdagangan Barat-Timur sirna. Perkembangan ilmu pengetahuan stagnan.

Di saat yang sama, Eropa menikmati kekayaan yang diambilnya dari hasil penemuan benua Amerika dan keuntungan yang didapat dari perdagangan dengan Timur Jauh.

Puncaknya ketika Napoleon menduduki Mesir sebagai salah satu pusat Islam terpenting tahun 1798 M yang kemudian menyadarkan umat Islam bahwa di Barat sudah lahir peradaban baru yang lebih maju dari era sebelum-sebelumnya.

Periode Modern (1800 M)

Periode ini merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon yang membelalakkan mata umat Islam telah merangsang sebagian tokoh dan pemikir Islam.

Di sana sini terjadi kemerosotan dalam Islam, sedangkan Barat terus mengalami kemajuan.

Beberapa tokoh seperti Jamaludin al-Afghani (1838 – 1897 M) gigih menyuarakan Pan Islamisme, sedangkan Muhammad Abduh (1849 – 1905 M) getol menyuarakan pentingnya modernisasi terutama di dalam aspek pendidikan. Jika dulu Barat yang belajar pada Islam, maka kini Islamlah yang belajar pada barat. []

Uu Akhyarudin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *