Perintah Memuliakan Tetangga Perspektif Hadis

 Perintah Memuliakan Tetangga Perspektif Hadis

Perintah Memuliakan Tetangga Perspektif Hadis

HIDAYATUNA.COM – Selain ayat Al-Qur’an, banyak sekali hadis Rasulullah saw. yang mengemukakan pentingnya memuliakan tetangga. Rasulullah saw. sebagai representasi ajaran Islam yang sempurna, juga banyak memberikan contoh bagaimana memperlakukan tetangga dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hadis tentang memuliakan tetangga di antaranya adalah sebagai berikut.


a. H.R. Muslim No. Hadis 1780
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sehingga aku mengira bahwa tetangga diberi hak mendapatkan harta warisan juga.”


b. H.R. Muslim No. 1781
Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu memasak gulai, perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, lalu berilah mereka dengan baik.”


c. H.R. Muslim No. 47
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah saw. Sabdanya, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkata yang baik atau diam. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya.”


d. H.R. Muttafaq’alaih No. 310
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan kejahatannya.”

e. H.R. Muslim No. 1567
Dari Abdullah ibn Salam r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan penuh kedamaian.”


f. H.R. Bukhari No. 6018
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir janganlah menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau hendaklah diam.”

Hak dan Kewajiban Bertetangga

Perwujudan etika bermasyarakat, menurut Al-Qur’an, pertama tercermin pada kesadaran tentang hak dan kewajiban hidup bertetangga. Kedua, tercermin dari tata cara bertamu, baik kepada tetangga maupun kepada yang bukan tetangga, yang diatur sedemikian rupa di dalam Al-Qur’an. Ketiga, tercermin dalam pelaksanaan dan aktualisasi silaturahim di antara al aqrabin, orang-orang yang dekat dengan kita, baik hubungan darah maupun tempat tinggal.

Aktualisasi silaturahim merupakan merupakan pesan Al-Qur’an yang bernilai fundamental dalam sistem sosial Islam. Silaturamim, menurut Al-Qur’an akan memperkuat jaringan ukhuwah Islamiyah diantara sesama Muslim. Keempat, etika bermasyarakat, menurut Al-Qur’an tercermin dalam tata pergaulan bermartabat yang didasarkan atas prinsip saling pengertian, saling mencintai, dan menyayangi serta saling menghormati di antara warga masyarakat.


Dalam konteks bertetangga dengan sesama Muslim, di antara hak dan kewajiban bertetangga menurut Imam Al Ghazali adalah mengucap dan menjawab salam jika bertemu, memenuhi undangan jika diundang, mendoakan ketika mendengar sesamanya bersin, menjenguk ketika sakit, melayat ketika meninggal dunia, memenuhi dan menepati jika berjanji, menasihati jika meminta nasihat, menjaga kehormatan jika sedang berjauhan, menyukai sesama layaknya diri sendiri, dan tidak menyukai apa yang menimpa sesama seperti tidak menyukai atas apa yang menimpa pada diri sendiri.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Empat perkara yang termasuk hak seorangMuslim atas dirimu ialah, engkau membantu orang yang berbuat baik di antara mereka, engkau memohonkan ampun bagi orang yang berdosa di antara mereka, engkau mendoakan di antara mereka dan engkau mencintai orang yang bertaubat di antara mereka.” Dengan kata lain, kewajiban seorang Muslim kepada tetangganya adalah sebagai berikut.


a. Terhadap tetangga yang seagama dan sedarah
1) Mengucapkan salam;
2) Menjenguknya jika sakit atau meninggal dunia;
3) Mendoakan atas dosa dan kesalahannya;
4) Memperlakukannya dengan baik;
5) Menjaga kehormatan dan kemuliaannya;
6) Menjaga harta bendanya dari yang akan merusak atau menghilangkannya;
7) Menjaga jiwanya dari kerusakan dan kezhaliman;
8) Memberi bantuan saat dibutuhkan maupun tidak;
9) Tidak menyakitinya secara fisik maupun mental;
10) Menuaikan hak-hak warisan sesuai ketentuan Islam.


b. Terhadap tetangga yang seagama dan beda keturunan:
1) Mengucapkan salam;
2) Menjenguknya jika sakit atau meninggal dunia;
3) Mendoakan atas dosa dan kesalahannya;
4) Memperlakukannya dengan baik;
5) Menjaga kehormatan dan kemuliaannya;
6) Menjaga harta bendanya dari yang akan merusak atau menghilangkannya;
7) Menjaga jiwanya dari kerusakan dan kezhaliman;
8) Memberi bantuan saat dibutuhkan maupun tidak;
9) Tidak menyakitinya secara fisik maupun mental;


c. Terhadap tetangga yang berbeda agama dan beda keturunan
1) Memperlakukannya dengan baik;
2) Menjenguknya jika sakit atau meninggal dunia;
3) Menjaga kehormatan dan kemuliaannya;
4) Menjaga harta bendanya dari yang akan merusak atau menghilangkannya;
5) Menjaga jiwanya dari kerusakan dan kezhaliman;
6) Memberi bantuan saat dibutuhkan maupun tidak;
7) Tidak menyakitinya secara fisik maupun mental;

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 + 6 =