Cancel Preloader

Perempuan Harus Mendapatkan Ruang Publik yang Aman

 Perempuan Harus Mendapatkan Ruang Publik yang Aman

Perempuan Harus

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Setiap waktu perempuan kerap dihantui dengan rasa khawatir dan cemas ketika berada di ruang publik. Terjadinya kekerasan seksual dan pelecehan seksual membuat posisi perempuan selalu tidak aman ketika sedang beraktivitas di luar rumah hingga malam tiba.

Sedangkan perempuan yang pulang malam karena menjalankan aktivitasnya tidak bisa menjadi penyebab terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual.

Kita menyadari betul bahwa ruang publik adalah milik bersama, baik laki-laki dan perempuan. Sudah sepatutnya ruang publik dijaga keamanannya agar setiap orang bisa menggunakannya secara bebas tanpa rasa khawatir.

Sebelum Islam datang, mayoritas orang menganggap bahwa perempuan adalah hina. Menjadi hal yang umum jika perempuan waktu itu dijual, tidak mendapatkan hak waris. Bahkan orang Arab memiliki kebiasaan untuk mengubur anak perempuan dalam kondisi hidup-hidup.

Perempuan merasakan ketidakamanannya dalam menjalani hidup di dunia ini. Bagaimana perempuan bisa bebas berekspresi dan turut berpartisipasi di ruang publik jika keamanannya tidak terjamin?

Islam Hadir dan Memuliakan Perempuan

Hadirnya Islam telah merubah dunia yang semula gelap menjadi terang, yang semula tidak adil dengan kaum perempuan menjadi adil dan memuliakan kaum perempuan.

Bahkan Allah SWT telah menyerukan agar bisa memperlakukan perempuan dengan baik sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 19.

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.

 Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersbarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Bahkan Nabi saw sendiri juga telah bersabda agar selalu memuliakan kaum perempuan melalui hadist riwayat Muslim:

Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan.

Melalui dalil-dalil tersebut telah membuktikan bahwa Islam sangatlah menyayangi perempuan dan tidak mengenyampingkan keberadaan perempuan di dunia ini.

Kekerasan Seksual Pada Perempuan Meningkat dari Tahun Ke Tahun

Keamanan perempuan hingga saat ini nyatanya belum juga terjamin dengan baik. Hal ini berdasar dokumentasi yang dilakukan secara rutin oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001.

Diketahui bahwa sepanjang tahun 2019 terdapat 421.752 kasus yang ditangani oleh Pengadilan Agama, 14.719 kasus ditangani oleh lembaga mitra pengada layanan di Indonesia, dan 1.419 kasus dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan.

Di ranah publik atau komunitas, catatan tahunan (CATAHU) 2020 telah terjadi 3.062 kasus kekerasan terhadap perempuan, di mana sebesar 58% dari angka tersebut merupakan kasus kekerasan seksual.

Melalui data yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan ini sudah cukup membuat kita prihatin dengan kondisi perempuan, terutama yang aktif menjalankan aktivitasnya di ruang publik.

Namun, tidak sedikit perempuan yang berusaha untuk mengalahkan rasa takutnya akan ancaman kekerasan tersebut selama dirinya beraktivitas di luar rumah. Hal ini tidak terlepas dari dorongan untuk tetap melanjutkan kehidupan dengan mencari penghasilan.

Sarana Publik Tidak Memadai Pengaruhi Tindak Kekerasan Pada Perempuan

Sudah sering kita mendengar berita di media bahwa perempuan menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual saat berada di transportasi umum, di trotoar saat perempuan sedang berjalan, bahkan saat perempuan sedang berkendara sekali pun.

Hal ini memiliki keterkaitan antara sarana prasarana yang tidak memadai dengan aksi jahat terhadap perempuan. Di mana transportasi umum yang tidak dilengkapi dengan sistem keamanan secara baik seperti pemasangan CCTV.

Maupun jalan-jalan yang kurang memberikan penerangan, terutama di jalan-jalan sempit seperti gang. Hal ini sangatlah penting sebagai pendukung keamanan bagi para perempuan saat sedang beraktivitas di luar rumah.

Fenomena ini pun tidak terlepas dari adanya riset yang dilakukan oleh Yayasan Plan Internasional mengenai kota yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak perempuan seperti yang dikutip dalam kumparan.com.

Diketahui sebesar 56,08% responden menyatakan fasilitas yang aman adalah fasilitas pendidikan. Sedangkan fasilitas yang paling tidak aman adalah transportasi publik.

Kekerasan dan Pelecehan Pada Perempuan Tidak Bisa Ditoleransi

Adanya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan yang ditujukan kepada perempuan bukanlah kasus sederhana. Kita harus sadar bahwa dampak yang ditimbulkan sangatlah besar.

Perempuan bisa mengalami trauma dan takut untuk beraktivitas di ruang publik lagi sehingga menghambat untuk bisa mengeksplor dirinya. Penyembuhan trauma sendiri tidaklah dalam waktu yang singkat.

Ini bukanlah luka fisik yang menunggu beberapa hari kemudian kering dan sembuh. Tetapi luka tersebut telah menciderai mental dan rasa percaya dirinya.

Oleh karena itu, segala bentuk kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan tidaklah bisa ditoleransi. Karena sampai kapan pun sulit rasanya untuk menghilangkan luka yang dibuat agar bisa benar-benar sembuh.

Hingga saat ini ruang publik yang aman untuk perempuan belumlah tersedia sesuai harapan. Perempuan masih harus selalu waspada ketika beraktivitas di luar rumah.

Namun perempuan tidak ingin berhenti begitu saja. Ada tekat yang sangat besar dalam diri perempuan untuk bisa bebas dan merasa aman di ruang publik. Tentunya hal ini tidak terlepas dari pastisipasi seluruh masyarakat untuk saling mendukung.

Widya Resti Oktaviana

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − five =