Cancel Preloader

Perempuan dalam Aksi Terorisme: Korban Sekaligus Aktor

 Perempuan dalam Aksi Terorisme: Korban Sekaligus Aktor

Perempuan Terorisme (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kasus terorisme seolah tak pernah usai meski berbagai upaya keamanan telah dikerahkan. Kenyataannya, dari kasus tersebut masih sering kecolongan dan menimbulkan dampak yang besar. Baik itu pada fasilitas maupun korban jiwa, dari luka-luka hingga yang meninggal.

Di Indonesia sendiri, kasus terorisme ditemukan telah terjadi di beberapa daerah. Hal tersebut biasanya memiliki keterkaitan dengan peristiwa pengeboman yang sebelumnya pernah terjadi.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku terorisme belum sepenuhnya diberantas. Masih ada turunan dan ajaran yang terus berkembang dan melancarkannya di momen dan tempat yang tepat. Seperti halnya kasus belum lama ini di Gereja Katedral Makassar sebelum memperingati Hari Paskah.

Lebih mirisnya lagi, aksi terorisme ini juga melibatkan perempuan di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, pelaku dalam bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah sepasang suami-istri yang mana melibatkan perempuan.

Pasangan yang rela menghabisi nyawa secara langsung di tempat. Tidak lama berselang, kembali terjadi kasus penyerangan di Mabes Polri yang pelakunya lagi-lagi seorang perempuan.

Peran Terorisme dari Laki-Laki ke Perempuan

Sebelumnya diketahui bersama bahwa dalam suatu aksi terorisme dan berbagai kegiatan jihad lebih dominan dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki banyak melakukan aktivitas langsung di lapangan, sedangkan perempuan memiliki peran di belakang layar.

Hal ini sebagaimana dikutip melalui Kompas.com. Pada kurun waktu 15 tahun (2001-2015), peran perempuan dalam aksi terorisme lebih kepada invisible rules atau di belakang layar.

Dimana perempuan ini biasanya bertugas sebagai operasional fasilitator, pembawa pesan, dan perekrutan. Namun, berbeda dengan yang terjadi sekarang.

Perempuan turut memiliki andil untuk terjun langsung ke lapangan dalam melancarkan misi terorisme. Mereka berani memegang senjata hingga bom dan akhirnya turut terbunuh dalam aksinya tersebut.

Jalur Perempuan Menuju Terorisme

Keterlibatan perempuan dalam terorisme bisa dilakukan melalui berbagai sumber. Bahkan seringkali orang-orang yang ada di sekelilingnya tidak menyangka jika orang tersebut telah terseret dalam kasus terorisme.

Pasalnya karakternya yang seperti tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut bisa saja terjadi.

Pengenalan pada jaringan terorisme misalnya saja melalui jalur pernikahan. Dimana dari pihak suami yang sebelumnya sudah mengenal jaringan tersebut, kemudian menikah dengan seorang perempuan dan turut mengenalkan jaringan itu kepada istrinya.

Dengan alasan agama bahwa seorang istri harus patuh dan taat kepada suaminya, maka sang istri pun harus mengikuti ajaran suaminya tersebut. Kemudian bisa juga melalui jalur pertemanan.

Ketika dalam lingkaran pertemanan terdapat orang yang tergabung dalam jaringan terorisme. Sudah tentu dalam suatu obrolan yang mereka jalin, biasanya akan menyerempet pada masalah jihad dan ajaran-ajaran yang berbau terorisme.

Ketika sudah berbicara tentang jihad, maka hal tersebut akan mengarah pada perjuangan membela agama. Lagi-lagi atas dasar agama, bujuk rayu untuk bergabung pun bisa terjadi.

Kemudian jalur lainnya adalah melalui suatu aktivitas kajian dan media sosial. Inilah yang juga kerap terjadi hingga akhirnya banyak menarik para perempuan untuk tergabung dalam aksi terorisme. Sehingga, dalam hal ini pemilihan aktivitas kajian dan pemfilteran dalam penggunaan media sosial menjadi sangat penting.

Perempuan Dianggap Lebih Mudah Terpengaruh

Peran perempuan dalam terorisme yang sekaligus bisa disebut sebagai korban dan aktor. Ini tidak terlepas dari stigma yang mendarah daging bahwa perempuan adalah sosok yang dianggap mudah untuk dipengaruhi.

Stigma inilah yang kemudian banyak memanfaatkan perempuan untuk dirayu dan diiming-imingi dengan segala yang nikmat. Salah satunya iming-iming akan pahala besar jika menurut pada suami atau turut serta dalam berjuang untuk agamanya, yang tanpa disadari hal tersebut justru menyalahi.

Setiap perempuan yang terlibat dalam terorisme tentu memiliki alasan atau motivasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting sekali untuk bisa memberikan perhatian yang lebih. Agar keikutsertaan perempuan dalam aktivitas terorisme tidak semakin meningkat.

Hentikan pandangan bahwa perempuan adalah sosok yang mudah diperdaya, terutama dengan pemahaman jihad ala terorisme. Dengan cara meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemikiran perempuan.

Dengan demikian, perempuan bisa berpikir secara logis dan menjalankan kehidupannya dengan mengeksplor diri. Serta jauh dari berbagai tindakan terorisme, atau yang menyalahi hukum dan menciderai kemanusiaan serta agamanya.

Widya Resti Oktaviana

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fourteen − ten =