KajianWawasan Islam

Perdebatan Soal Halal-Haram Makanan, Ini Kata Gus Baha

HIDAYATUNA.COM – Perdebatan halal atau haram dalam kehidupan tidak bisa dihindari meski belum terjadi. Misalnya, soal halal-haram makanan, pasti ada yang tidak dijelaskan oleh Nabi.

Gus Baha dalam kajiannya mengungkapkan, Nabi memakan daging unta sudah pasti halal, memakan daging kambing berarti halal. Jelas, tidak makan daging babi karena haram. Itu beliau, mansus, yaitu orang yang cerdas dan pemberani.

Pertanyaannya, bagaimana bila ada hewan yang mirip kambing dan mirip babi? Mirip karena sama jumlah kakinya ada empat, napasnya ngos-ngosan seperti babi, culun seperti babi tapi juga mirip kambing.

Menurut Gus Baha, mau tidak mau ulama pasti tersiksa karena mereka memang ulama, tidak seperti kita awam yang tinggal memilih mau ikut yang halal atau haram.

Maka, kemudian ulama membuat kaidah al-ashlu fil asy-yaai al-ibahah (الأصل في الأشياء الإباحة). Dalam bahasa Indonesia artinya, “Hukum asal dari segala sesuatu adalah mubah”.

“Itu al-hillu (halal) atau al-haram (haram)?” tanya Gus Baha kepada jemaahnya.

“Kalau tidak ada ketentuan, kita beri taruhan awal. Sebagian ulama mengira halal lebih dulu karena Allah menciptakan alam ini untuk manusia. Maka setelahnya keluar dalil hatta yadullu ad daliilu ala tahrimih sehingga ada dalil haram,” lanjut kiai asal Rembang ini.

Jika sesuatu tidak ada penjelasan yang tegas dalam nash Syariat tentang halal-haram, maka ia halal hukumnya. Sebagaimana firman Allah SWT.

وسخر لكم ما في السماوات وما في الأرض جميعا منه

“Dan Dia telah menundukkan untuk kalian semua yang ada di langit dan di bumi, (sebagai rahmat) dari-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13

Kemudian bisa saja awalnya menjadi haram karena Allah menciptakan alam seisinya untuk manusia dan kita diizinkan untuk itu, namun kita tidak pernah tahu apa yang diizinkan oleh Allah. Jika demikian, maka haram lebih dulu hukumnya.

Baca Juga :  Sejarah Pemeliharaan Al-Quran pada Masa Sahabat

Mengenai perdebatan halal-haram makanan ini, Gus Baha mengingatkan agar kita mengembalikan semuanya dari awal makanan tersebut. Awalnya halal berarti boleh dimakan, dan awalnya haram maka tinggalkanlah.

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close