Perbandingan Peristiwa Sejarah, Sunan Gresik Hidup Se-zaman dengan Ibn Khaldun

 Perbandingan Peristiwa Sejarah, Sunan Gresik Hidup Se-zaman dengan Ibn Khaldun

Ibnu Khaldun (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ada banyak hal menarik ketika membandingan peristiwa-peristiwa sejarah di suatu wilayah dengan wilayah tertentu di belahan dunia lainnya. Kebiasaan membandingkan peristiwa sejarah ini kerap dilakukan oleh cendekiawan muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla (Gus Uli).

Salah satu temuan Gus Ulil saat membandingkan peristiwa sejarah di Jawa dengan peristiwa sejarah di belahan dunia Islam lainnya adalah bahwa Wali Sanga tertua yakni Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim ternyata hidup sezaman dengan sejarawan Islam terkenal Ibn Khaldun.

“Saya suka melihat peristiwa-peristiwa sejarah di Jawa dalam perbandingan. Misalnya: di Gresik, ada situs Islam tertua; makam perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang wafat 1082 M. Pada tahun itu, al-Ghazali berumur kira-kira 24 tahun, dan sudah selesai ngaji dengan Imam Haramain,” tulis Gus Ulil melalui akun Twitter pribadinya @ulil, dikutip Selasa (1/9/2021).

Perbandingan lainnya lanjut Gus Ulil adalah tentang Wali Sanga tertua adalah Sunan Gresik, yaitu Maulana Malik Ibrahim. Ia wafat pada 1419 M.

“Dengan demikian ia hidup hampir se-zaman dengan sejarawan besar Islam dari Tunusia, Ibn Khaldun, yang wafat pada 1406. Sunan Gresik hidup pada zaman ketika tafsir Jalalain belum ditulis,” ungkapnya.

Sejarah Kerajaan Demak

Hal lainnya adalah tentang Kerajaan Demak. Berdasarkan dalam versi yang populer, Kerajaan Demak berdiri pada 1475 M.

Menurut Gus Ulil, tahun tersebut merupakan tahun ketika kira-kira Imam Suyuti mulai menulis tafsir Jalalain yang amat populer di seluruh dunia Islam, termasuk di Indonesia.

“Pertanyaannya: Apa kira-kira kitab tafsir yang populer pada zaman Kerajaan Demak?” tanya Gus Ulil.

Ia menjelaskan, saat ini belum ada data yang valid mengenai hal ini. Tetapi, tafsir yang paling populer di belahan dunia Islam lain pada zaman Demak itu ialah tafsir al-Baiḍāwi, Anwār al-Tanzīl.

“Imam al-Baiḍāwi wafat pada 1319, pada era Majapahit, dan sebelum era Wali Sanga,” jelasnya.

Begitu pula dengan kasus pesantren tertua di Jawa. Sebagaimana diketahui pesantren tertua didirikan di Surabaya oleh Sunan Ampel yang wafat pada 1481 M. Pada tahun ini, kitab fikih mazhab Syafi’i yang amat populer, Taqrib, sudah ditulis oleh Imam Abu Syuja’ (w. circa 1196 M).

“Apakah kitab ini sudah diajarkan di Ampel? Sangat mungkin,” ungkapnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five + fourteen =