Peran Syiah, Sumber Panutan Ayatollah Sistani dalam Politik Arab

 Peran Syiah, Sumber Panutan Ayatollah Sistani dalam Politik Arab

Peran Syiah, Sumber Panutan Ayatollah Sistani dalam Politik Arab (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Teheran – Seorang analis politik Irak menyoroti peran Syiah sumber panutan Ayatollah Ali al-Sistani dalam politik negara Arab. Dilansir dari IQNA, Haidar al-Barjanji mengatakan perintah ulama senior untuk berpartisipasi dalam pemilihan parlemen menunjukkan bahwa ada ancaman besar yang membayangi.

Dia mengatakan, ketika Ayatollah Sistani mengundang semua orang untuk pergi ke tempat pemungutan suara, dia menyadari apa yang akan terjadi setelah pemilihan. Hasil pemungutan suara akan terancam.

Al-Barzanji menggambarkan langkah-langkah dan pernyataan ulama senior sebagai hal yang sangat penting. Ia mengatakan bahwa Ayatollah Sistani memantau dengan cermat perkembangan di Irak.

Ayatollah Sistani tahu bahwa jika politisi gagal mencapai konsensus, negara akan bergerak menuju konflik dan kehancuran. Konflik yang diinginkan Amerika Serikat.

Ditanya tentang hasil pemilu, dia mengatakan ada bukti jelas kecurangan pemilu dan banyak orang Irak, termasuk Kurdi, Syiah, dan Sunni telah memprotes hasil tersebut. Analis mengatakan bukti menunjukkan ada campur tangan asing dan serangan dunia maya dalam pemilu.

“Kami memiliki sistem internet yang dapat dengan mudah menjadi sasaran peretas,” katanya.

Partai-partai politik, lanjut dia, telah menunjukkan bukti serangan siber terhadap pemilu di Irak. Dia menyayangkan komisi pemilihan Irak mengabaikan bukti.

Teror Untuk Perdana Menteri Irak

Rakyat Irak memberikan suara dalam pemilihan parlemen negara mereka pada 10 Oktober untuk memutuskan 329 anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka-lah yang pada gilirannya akan memilih presiden dan mengukuhkan perdana menteri.

Komisi pemilihan mengatakan jumlah pemilih adalah 41%, sedikit lebih rendah dari total partisipasi dalam pemilihan terakhir pada 2018 yang 44,5%. Setidaknya 167 partai dan lebih dari 3.200 kandidat bersaing memperebutkan 329 kursi parlemen Irak.

Dalam kesempatan wawancara yang lain, Al-Barzanji ditanya tentang serangan baru-baru ini yang menargetkan kediaman Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi. Analis mengatakan serangan itu adalah langkah yang dikutuk yang melanggar kedaulatan Irak.

Menurutnya, serangan itu dilakukan oleh mereka yang ingin membawa Irak ke kekacauan dan ketidakstabilan. Al-Kadhimi menjadi sasaran upaya pembunuhan yang gagal dengan drone jebakan awal bulan ini.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas upaya pembunuhan, di mana beberapa anggota tim perlindungan pribadi perdana menteri terluka. Serangan itu terjadi di tengah ketegangan atas pemilihan umum yang telah diwarnai dengan tuduhan penyimpangan di Irak.

Protes berikutnya yang menarik ribuan warga Irak ke jalan-jalan ialah untuk menentang hasil pemungutan suara. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen + fourteen =