Penyusupan Akidah dalam Kitab Syekh Abdul Qadir Jailani

 Penyusupan Akidah dalam Kitab Syekh Abdul Qadir Jailani

Penyusupan akidah dalam kitab Syekh Abdul Qadir Jaelani (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ketua Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin beberapa waktu lalu melakukan pertemuan singkat bersama Sidi Syekh Fadil Al-Jailani di kantor Jailani Center, Istanbul Turki. Syekh Fadil sendiri merupakan cicit Syekh Abdul Qadir Jailani.

Pada kesempatan itu, kata Ma’ruf Khozin, Syekh Fadil membuka kitab Syekh Abdul Qadir Jailani yang bernama Al-Ghunyah. “Beliau membacakan uraian Syekh Abdul Qadir tentang bab Iman,” ungkap Ma’ruf Khozin melalui catatannya yang diunggah di akun Facebook pribadinya dikutip Rabu (13/10/2021).

الايمان يزيد بالطاعة وينقص بالعصيان ويقوى بالعلم ويضعف بالجهل

“Iman dapat bertambah karena ibadah dan iman bisa berkurang karena perbuatan dosa. Iman menjadi kuat karena ilmu. Dan iman menjadi lemah karena bodoh,” maksud dari bunyi tulisan Arab tersebut.

Lalu kemudian tiba-tiba ada kalimat:

وقد انكرت الأشعرية زيادة الايمان ونقصانه

“Sungguh kelompok Asy’ariyah ingkar terhadap bertambah iman dan berkurangnya iman”

Syekh Fadil menjelaskan baik secara langsung atau dalam catatan kaki yang beliau Tahqiq:

هذه عبارة مدسوسة

“Ini adalah redaksi yang disusupkan,” tegas Syekh Fadil kepada Ma’ruf Khozin.

***

Menurut Syekh Fadil, Syekh Abdul Qadir Jailani tidak pernah mencela Ulama Asy’ariyah.

“Kebetulan sekali beliau sebagai cicit Syekh Abdul Qadir Jailani dan membahas kitab Al-Ghunyah, langsung saja saya tanyakan apakah benar dalam Al-Ghunyah tersebut Syekh Abdul Qadir Jailani memaknai Istiwa’ dalam Al-Qur’an dengan makna duduk dan bersemayam?” tanya Ma’ruf Khozin.

Dengan nada tinggi Syekh Fadil menjawab: “Madsus, itu juga susupan!!!” Tidak hanya di negara anda. Di negara lain juga mereka melakukan itu”, kata Syekh Fadil dengan nada tinggi.

Syekh Fadil kemudikan menjelaskan dalam Bahasa Arab dengan membuka kitab Al-Ghunyah 1/267 bab sifat Arsy dan Istiwa’, bukti kalau itu susupan adalah dengan melakukan komparasi terhadap Tafsir Al-Jailani yang juga karya Syekh Abdul Qadir Jailani (Syekh Fadil sudah mentahqiqnya). Di dalam Tafsir tersebut ketika menjelaskan makna Istawa Syekh Abdul Qadir menafsirkan:

استقر بالرحمة العامة

“Allah menetap dengan rahmat-Nya yang luas”

“Beliau menjelaskan bukan dzat Allah yang menetap, tapi rahmat-Nya. Artinya Syekh Abdul Qadir tetap melakukan Takwil sama seperti ulama Asy’ariyah,” jelasnya.

Dengan demikian, pernyataan kelompok Salafi bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani memiliki keyakinan akidah seperti mereka adalah pengakuan yang tidak benar dan mereka hanya menggunakan kitab yang telah didistorsi.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − seventeen =