Cancel Preloader

Pentingnya Peace Education di dalam Kemajemukan Indonesia

 Pentingnya Peace Education di dalam Kemajemukan Indonesia

Peace Education (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Indonesia dengan kemajemukan masyarakat di dalamnya. Rasa-rasanya di sepanjang perjalannya dari dulu hingga kini, tampak menjadi negeri yang penuh dengan konflik dan kerusuhan yang tak kunjung selesai.

Konflik demi konflik silih berganti, bahkan boleh dibilang merata di seluruh kawasan Indonesia. Konflik apa pun itu.

Padahal, sebenarnya Indonesia mempunya semboyan yang amat menggigit, yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia. Semboyan itu, juga telah menjadi sebuah komitmen dalam kemajemukannya, agar masyarakat Indonesia selalu hidup bersama, rukun dalam pluralitasnya.

Tetapi faktanya, berbagai konflik dan kekerasan masih terus terjadi hingga kini. Aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar atau penyerangan markas Mabes Polri beberapa waktu belakangan menjadi bukti.

Saya menduga keras, bahwa konflik dan kekerasan itu kerap kali terlahir dari sebuah ketidakseragaman. Ketidakseragaman ini juga tidak disikapi dengan adil dan bijaksana dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sendiri.

Misalnya saja ada beberapa kelompok atau golongan yang mempunyai sikap “ya pokoknya harus seragam, kalau tidak ya pokoknya harus seragam”. Barangkali itulah kira-kira yang memicu lahirnya sebuah konflik dan kekerasan.

Padahal, Indonesia sendiri ditakdirkan sebagai negara yang majemuk. Lalu, apakah memang sebenarnya bangsa ini, hingga detik ini memang belum siap hidup dalam sebuah rumah kemajemukan (pluralitas) itu?

Pluralitas Indonesia Menjadi Sebuah Keniscayaan

Di dalam hal kehidupan beragama misalnya, apakah tidak sadar, bahwa Indonesia itu terbuat dari berbagai agama? Apakah tidak sadar juga bahwa Islam lah yang mendominasi?

Kalau Tuan dan Puan seorang yang beragama Islam, seharusnya bersikap cerdas. Bahkan selalu menyadari, bahwa sebagai agama yang memang ditakdirkan sebagai agama “mayoritas” dalam sebuah bangsa, seharusnya juga melindungi yang “minoritas” dalam menjalani kehidupan.

Bukan kok malah sebaliknya, dengan kemayoritasnya justru semena-mena kepada yang minoritas.

Dalam hal lain lagi misalnya, Indonesia tidak hanya hal agama saja yang bervarian, tetapi dalam sendi kehidupan pun banyak macamnya. Mulai dari adat istiadat, budaya, suku, dan lain sebagainya.

Hal itu, seharusnya kita sadari dengan cerdas dan bijaksana, bahwa bukanya perbedaan-perbedaan itu memang sudah ditakdirkan oleh Allah, ya? Saya kira Tuan dan Puan sudah tahu semua hal itu, saya tak perlu repot-repot menunjukkan lagi.

Peace Education sebagai Pembangunan Perdamaian Kehidupan

Hemat saya, bahwa berbagai konflik dan kekerasan yang lahir dari ketidaksetujuannya dengan sebuah pluralitas ini, harus melalui proses yang amat panjang. Tidak bisa diselesaikan secara instan.

Apalagi kalau kita lihat, bagaimana geliat konflik dan kekerasan yang kian tinggi di Tanah Air ini. Maka, dalam hal ini, saya sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh Ahmad Nurcholish (2017).

Bahwa penyelesaikan konflik, ia berpendapat misalnya, dengan memasukkan resolusi konflik dan peace building. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan perdamaian ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, sejak dini.

Memang benar, bahwa, ketika pendidikan perdamaian dijadikan sebagai bagian proses pembelajaran di dunia pendidikan, tidak hanya di perguruan tinggi saja. Akan tetapi diterapkan sejak tingkat dasar.

Maka saya kira sikap yang mengedepankan perdamaian pada setiap lini kehidupan individu akan terbentuk dan mengakar kuat pada diri masing-masing. Terlebih siswa-siswi itulah yang nantinya akan membawa bangsa Indonesia ke depan.

Menumbuhkan Sikap Pluralisme

Oleh sebab itu, dalam rangka pembangunan perdamaian, pendidikan perdamaian dari sekolah dasar ini menjadi sebuah kepentingan sekaligus keharusan bersama. Sebab di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang menginginkan rusaknya persatuan Indonesia.

Mereka juga menanamkan sikap-sikap intoleransi, suka menebar ujaran kebencian, benci dengan pemerintah, ditanamkan sejak usia dini.

Hal ini, sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Dina Sulaeman dalam sebuah tayangan Youtubenya Dedy Corbuzier. Ia mengatakan yang kira-kira begini, sikap intoleransi, ujaran kebencian, radikalisme di negera barat telah ditanamkan sejak dini. Hal tersebut ditanamkan melalui narasi-narasi dan materi di buku-buku pelajaran mereka.

Oleh sebab itu, dengan adanya pendidikan perdamaian di dalam dunia pendidikan, terlebih di setiap sendi kehidupan kita. Saya yakin, bahwa konflik-konflik atau kekerasan yang terus terjadi, lambat laun akan sirna.

Melalui pendidikan perdamaian itu, akan lahir sikap menerima pluralitas kehidupan Indonesia sehingga kerukunan pun akan kita rasakan bersama. Semoga.

Rojif Mualim

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

sixteen − 4 =