Pentingnya Mengajarkan Ilmu Kalam

 Pentingnya Mengajarkan Ilmu Kalam

Prioritas Amal bagi Orang Berilmu (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Hakikat daripada ilmu kalam adalah bagaimana kita memahami dunia ini berdasarkan al-Ma’lum Minaddin Bidhoruroh. Sekiranya jika hasil dari pikiran kita bertentangan dengan al-Ma’lum Minaddin Bidhoruroh maka secara Ilmu Kalam itu adalah hasil yang salah dan mesti diulangi proses berpikirnya dari awal. Berbeda dengan hakikat Ilmu Filsafat yang lebih umum dari Ilmu kalam yaitu berfikir tanpa ada batasan apapun atau hanya dibatasi oleh badihiyat (hal-hal yang perlu dan wajib diketahui, dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim) saja.

Dari sini kita mengetahui bahwa Ilmu Filsafat itu lebih umum daripada Ilmu Kalam akan tetapi ilmu kalam lebih kompleks ( rumit dan khusus) dari pada filsafat. Bahkan saya mengklaim bahwa Ilmu Kalam Hakikatnya lebih hebat daripada falsafat karena sampai sekarang tidak ada satupun maqthu’ (keterputusan) Ilmu Kalam yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmiyah. Akan tetapi banyak sekali maqthu’ Filsafat yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmiyah seperti theori Uquul Asyaroh (Sepuluh Akal).

Faktor inilah yang menyebabkan pertikaian bertahun-tahun bahkan berabad-abad antara Falasifah  dan Mutakallimin yang dulu pada zaman al-Imam Arrozy dimenangkan oleh Mutakallimin sampai derajat orang yang ingin belajar Filsafat mesti belajar menggunakan metodologi Ilmu kalam.

Ironisnya pada zaman sekarang banyak orang bahkan beberapa dari mereka santri malah lebih memilih belajar filsafat Isyroqi atau malah falsafat barat dikampus-kampus non Islam atau negara barat. Daripada mempelajari Ilmu Kalam yang mana itu adalah ilmu paten dalam Islam serta lebih hebat dari filsafat itu sendiri dan karena sebab inilah saya pernah bertemu beberapa orang yang dulu pernah belajar agama kemudian menjadi “Liberal”.

Dulu saya merasa aneh dengan fenomena ini akan tetapi lama-kelamaan saya sadar bahwa diantara sebab daripada fenomena ini adalah sangat sedikitnya (atau bahkan tidak ada) yang menjelaskan Ilmu kalam secara layak sebagai sebuah ilmu. Metodologi berfikir secara Islami malah sekarang orang yang ingin belajar Ilmu Kalam disuruh mengcounter Wahabi, Liberal dll yang tidak sesuai dengan Ahli Sunnah. Akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat dari Mazhab Ahli Sunnah itu apa?!

Untuk mengetahui yang salah mesti mengetahui yang benar dahulu baru bisa mengetahui yang salah. Dengan makna jika dia mengetahu apa itu ahli sunnah maka selain ahli sunnah itu tidak benar. Berbeda jika hanya mengetahui yang salah maka belum tentu dia mengetahui yang benar. Contohnya jika dia mengetahui : Wahabi salah, Syi’ah salah, Mutazilah salah setelah itu dia akan bingung serta bertanya: terus yang benar apa?

Akibat dari sedikitnya yang belajar Ilmu Kalam akhirnya banyak Aqidah selain ahli sunnah dikira sebagai aqidah ahli sunnah sperti Allah diatas ‘Arsy, Allah punya Allah, Allah itu wujud Mutlaq dll.  Atau bahkan daripada cara berdalil pada amaliyahnya seperti yang tidak dilakukan Rasul berarti adalah bid’ah. semua ini bukan Aqidah atau metodologi ahli sunnah dalam berfikir. Tersebarnya Wahabi, Syi’ah dan lainnya juga karena tidak adanya tradisi ilmu kalam ditengah-tengah kita.

Semoga Allah mengangkat lagi tradisi Ilmu kalam dibumi nusantara ini.

Habib Ali Baqir al-Saqqaf

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *