Cancel Preloader

Pentingnya Don’t Judge by Cover!

 Pentingnya Don’t Judge by Cover!

Kisah Hasan dan Husain (Ilust/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Ada sebuah pengalaman yang menakjubkan, yang saya temui selama kurang lebih dua bulan ini. Pengalaman ini dimulai ketika saya baru saja pulang dari warung kopi, sekitar pukul 12.00 WIB.

Waktu itu, menyadari perut yang sedang lapar, saya memutuskan untuk mampir sejenak di sebuah gerobak yang menjual nasi goreng di pinggir jalan.

Awalnya, semua berjalan sebagaimana biasanya. Saya datang, kemudian duduk sejenak mengantre giliran untuk ditanya ihwal pesanan karena memang sang penjual sedang melayani pembeli lainnya.

Setelah sang penjual nasi goreng selesai melayani pembeli lainnya, kini giliran ia melayani saya. Inilah poin yang saya sampaikan di atas, sebuah pengalaman yang menakjubkan itu dimulai.

Setidaknya ada tiga pesan yang saya tangkap dari sang penjual nasi goreng tersebut, yakni: Pentingnya mengucap zikir, pentingnya senantiasa bersyukur, pentingnya adab, dan pentingnya untuk tidak berbuat mubadzir.

Ihwal Pentingnya Mengucap Zikir

Sesaat sebelum menanyai saya, sang penjual tersebut, sembari membersihkan peralatan masak mengucap “Alhamdulillah, Ya Allah”. Sontak, mendengar perkataan tersebut, saya merasa takjub. Dalam batin saya, “jarang-jarang ada yang begini”.

Rasa takjub saya tidak berhenti sampai di sini. Setelah saya memesan, dan sang penjual pun memulai memasak dengan mengawalinya “Bismillah”. Begitu pun seterusnya sampai pesanan saya jadi.

Ihwal Pentingnya Bersyukur

Di tengah-tengah ia memasak, saya iseng mencoba bertanya. “Mas, itu kalau nasinya tidak habis bagaimana?”

Ia menjawab, “tidak apa-apa, Mas. Berapa pun yang saya dapatkan hari ini, ini adalah rezeki yang Allah berikan kepada saya. Tidak peduli berapa pun itu, mau rugi ataupun untung, Mas”.

Ihwal Pentingnya adab

Masih di sela-sela ia memasak, saya mengajukan pertanyaan lain. “Mas kalau dagang di sini terus?” Ia menjawab, “oh, ya tidak, Mas. Sebelum jam sebelas, saya berkeliling desa dulu sambil memukul kentongan ini.”

Oleh karena pemahaman saya sedikit tentang desa ini, saya mengajukan pertanyaan, “Mampir ke pesantren dulu tidak, Mas?”

Inilah poinnya, yang membuat saya takjub dan minder seketika. “Tidak, Mas. Saya kalau lewat pesantren hanya lewat saja, Mas. Tidak berani memukul kentongan, apalagi berhenti di sana. Soalnya ada Kiai yang harus  kita hormati, saya tidak berani, Mas. Jaman sekarang itu, Mas, orang pada lewat depan rumah Kiai pada ngebut-ngebut, pakai knalpot nyaring. Haduh, Mas, tidak habis pikir saya.”

Ihwal Tidak Berbuat Mubadzir

Setelah selesai memasak pesanan nasi gorengnya, saya melihat sang penjual tersebut dengan sangat teliti menuang seluruh nasi yang di alat masak. Termasuk di spatula ke dalam bungkusan pesanan saya.

Sontak saya bertanya, “Harus begitu ya, Mas?”

Ia menjawab, “Iya, Mas, memang harus begini. Jangan sampai ada sisa-sisa yang tertinggal. Ini pesan dari ibu saya, bahwa perbuatan mubadzir itu tidak baik. Selain masih banyak di luar sana yang membutuhkan, mubadzir juga berdampak pada rezeki kita kedepan, Mas”.

Anjuran untuk Melihat tidak dari Luarnya Saja

Barangkali, dengan melihat kejadian di atas, kita harus kembali merenungkan pepatah dalam Bahasa Arab yang sangatlah populer. Artinya: “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Pepatah ini mungkin sangatlah sederhana, namun sulit dalam mengaplikasikannya. Kita, terkhusus di sini adalah penulis sendiri, terkadang justru terjebak pada penampilan luarnya saja dalam melihat sesuatu.

Sementara hal-hal yang tersembunyi acapkali terabaikan.

Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (w. 709 H)—Allah Yarham—, dalam kitanya al-Hikam pernah menyinggung ihwal persoalan ini. Ia memberikan sebuah nasihat yang, secara langsung maupun tidak, telah membuat kita tersadar akan pentingnya memperhatikan sesuatu tidak terbatas dalam penampilan luarnya saja.

أَبَاحَ لَكَ أَنْ تَنْظُرُمَا فِيْ الْمُكَوَّنَاتِ, وَمَا أَذِنَ لَكَ أَنْ تَقِفَ مَعَ ذَوَاتِ الْمُكَوَّنَاتِ: قُلِ انْظُوُوْا مَاذَا فِيْ السَّمَوَاتِ, لِئَلَّا يَدُلَّكَ عَلَى وُجُوْدِ الْاَجْرَامْ

“Allah Swt. mengizinkan Anda untuk melihat semua yang terdapat di alam semesta. Akan tetapi, Dia tidak menginginkan Anda untuk sampai di situ saja. Katakanlah: ‘Lihatlah sesuatu yang ada di langit, Dia membukakan bagi Anda pintu pemahaman dan tidak mengatakan ‘Lihatlah langit’. Semua itu dilakukan-Nya untuk menunjukkan kepada Anda tentang keberadaan benda langit”.

Berangkat dari nasihat di atas, semakin jelas akan pentingnya tidak melihat sesuatu hanya terbatas dalam penampakan luar. Bahwa Allah SWT. senantiasa menghadirkan sesuatu selalu dengan pesan-pesan yang dikandungnya.

Dengan memperhatikan sesuatu tidak terbatas pada penampakan luar, kita akan mendapatkan segala hikmah dan pesan yang mungkin saja akan berguna pada diri kita. Wallahualam.

Muhammad Arman Al Jufri

Muhammad Arman Al Jufri

https://hidayatuna.com

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − 1 =