Penjelasan MUI: Berhubungan Suami-Istri Harus Suka Sama Suka

 Penjelasan MUI: Berhubungan Suami-Istri Harus Suka Sama Suka

Nafsu Laki-Laki Lebih Besar daripada Perempuan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam mengenal konsep consent dalam Islam, seorang suami tidak boleh melakukan pemaksaan terhadap istrinya. Ketua Komisi Perempuan dan Anak Majelis Ulama Indonesia (MUI), Siti Ma’rifah, menjelaskan hal tersebut.

“Di dalam Islam juga suami kan tidak boleh memaksa, istri juga melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas, menyadari kewajibannya. Itu juga tidak boleh memaksa. Di dalam agama juga apapun tidak boleh ada memaksa,” ujar Ma’rifah, dikutip Senin (20/12/2021).

Ia menyampaikan bahwa persetujuan perempuan dalam Islam menekankan persetujuan dalam melakukan aktivitas seksual suami istri.

“Pasalnya, jika tak memiliki consent, maka tindakan tersebut juga bisa tergolong pelecehan atau kekerasan seksual,” katanya.

Namun, menurut dia, jika konsep consent tersebut diterapkan dalam hubungan selain suami-istri, maka akan menjadi hal tidak dibenarkan.

“Jadi kalau itu ditaruh di ranah yang bukan hubungan suami istri itu akan keliru,” ucapnya.

Consent selama ini memang kerap disebut sebagai budaya yang berasal dari Barat. Ma’rifah pun menilai, konsep ini menyebabkan pergeseran budaya yang lebih permisif dan menyebabkan pada praktik kebebasan seksual di Indonesia.

“Iya betul. Makanya dalam membuat suatu regulasi kajiannya kan harus komprehensif. Jadi, tidak hanya aspek legalnya saja, tapi juga harus dilihat dari sudut moral, etika, agama,” katanya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 5 =