Penjelasan Habib Muhsin Mengenai Haul Sebagai Tindak Laku Nabi
HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Habib Muhsin bin Muhsin Al-Hinduan menyampaikan pesan Nabi Muhammad SAW. Pesan tersebut diriwayatkan oleh Fairuz ad-Dailami bahwa menyebut nama orang salih, bisa jadi penebus dosa. Dengan mengingat dan menyebutnya, maka akan turun rahmat dan barakah.
Disampaikan saat menghadiri acara Maulid Nabi dan Haul Muassis Nahdlatul Ulama (NU), Panggung, dan Bata-Bata. Serta pelantikan Pengurus Anak Ranting (PAR) NU se-Pragaan, Rabu (1/12/2021) di Pondok Pesantren Al-Azhar Panggung Pakamban Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.
Habib Muhsin mengatakan haul merupakan peringatan atas kematian seseorang yang putarannya dihitung dalam satu tahun. Haul dan maulid nabi adalah amaliyahnya Nahdlatul Ulama (NU) yang sejak dulu hingga kini masyarakat tak pernah menolaknya.
“Dalam suatu riwayat menyatakan, asal mula haul diawali saat ulama NU mengartikan sebuah dalil yang menyatakan bahwa orang yang beribadah haji tidak fokus pada Allah, maka ingatlah kepada sesepuhnya yang sudah wafat guna dihadiahkannya sehingga ia kembali ingat kepada Allah,” kata Habib Muhsin, dikutip Sabtu (4/12/2021).
Nabi Sosok yang Penuh Kasih Sayang
Habib Muhsin menegaskan, nabi sosok yang penuh kasih sayang kepada semua makhluk. Wajar, Allah tidak akan menyiksa suatu kaum jika di tengah-tengahnya ada Muhammad SAW.
“Ketika Nabi Nuh berdakwah, umatnya menutup telinganya dan kabur. Selama 950 tahun, ternyata Nabi Nuh memiliki santri 80 orang. Sisanya tenggelam saat Allah menurunkan bencana. Nabi Ibrahim pernah diuji oleh Allah saat perjalannya di langit. Ketika melihat sebuah kaum yang nista, lantas beliau memohon kepada Allah untuk menegurnya dengan sebuah musibah. Sama juga saat Allah mengujinya untuk menyembelih Ismail AS,” jelasnya.
Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang rahmatan lil ‘alamin, tambahnya, alkisah nabi keluar dari rumah bersama sahabat untuk mencari suara tangis yang pusatnya ada di sebuah pepohonan. Ternyata tangis itu adalah suara kayu yang biasa disandari nabi. Seketika pohon itu dipeluk hingga akhirnya tak terdengar tangis lagi.
“Seandainya kayu ini tidak dipeluk, maka akan menangis sampai kiamat. Sama dengan kisah nabi saat memohon kepada Allah untuk memberikan surga kepada umatnya ketika beliau berada di surga. Begitulah potret ar-Rahman dan ar-Rahimnya nabi,” pungkasnya.