Ponpes Salafiyah Syafiiyah Berharap UU Pesantren Miliki Dampak Positif

 Ponpes Salafiyah Syafiiyah Berharap UU Pesantren Miliki Dampak Positif
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Situbondo – Pengasuh Pondok Pesantren, atau Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, KH Afifuddin Muhajir mendukung adanya UU Pesantren yang sudah disahkan menjadi Undang-Undang (UU) dan berharap berdampak positif, meskipun ada atau tidaknya UU tersebut, pesantren akan tetap hidup secara mandiri.

“Melalui pengesahan UU Pesantren, masyarakat luas harus tahu peran pondok pesantren yang selama ini tidak bisa dilihat sebelah mata. Kalau perlu tidak hanya UU Pesantren tapi diadakan Kementerian Kepesantrenan,” tegasnya, di Situbondo, Jumat (27/9/2019).

Perlu diketahi bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Misalnya, yang didirikan oleh Wali Songo.

“Jasa pesantren terhadap pendidikan di negeri ini sangat besar. Barangkali tidak banyak orang tahu, kalau Pangeran Diponegoro juga seorang santri yang hidup di tengah kerajaan Mataram. Ini sejarah yang perlu diketahui dan tidak bisa dipungkiri,” imbuhnyanya.

Selama ini pesantren tidak bisa dipisahkan dari Nadhlatul Ulama (NU), namun pesantren sudah berdiri lebih dahulu dibandingkan NU. Pesantren, ujarnya, berperan sebagai benteng penjaga akidah ahlusunnah wal jamaah, pengawal moral bangsa, serta penyangga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sesungguhnya pesantren tidak meminta lebih dari hak-haknya, Saya sering sampaikan bahkan ke Presiden Jokowi, bahwa pesantren tidak perlu dianakemaskan, tidak dianaktirikan saja sudah cukup,” paparnya.

Selain itu, pengasuh dari Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo itu juga memberi argumentasi bahwa UU Pesantren merupakan bentuk tidak dianaktirikannya pesantren, sekaligus pengakuan peran pesantren selama ini.

Sebagai salah satu pihak yang turut memberikan poin terpenting dalam UU tersebut atau masukan terhadap RUU Pesantren meliputi penguatan moral bangsa dan mempertahankan nilai luhur bangsa.

“Pesantren kan perpaduan antara nilai agama Islam dan nilai luhur bangsa Indonesia. Di situlah terjadi perpaduan,” pungkasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 + eighteen =