Penculikan Muslim di Kenya: Para Pemimpin Desak untuk Bertindak

 Penculikan Muslim di Kenya: Para Pemimpin Desak untuk Bertindak

Penculikan Muslim di Kenya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Tehran – Setidaknya 40 anggota agama Muslim mendapat penculikan oleh penyerang tak dikenal sejak Januari. Hanya 10 yang kembali ke keluarga mereka, menurut Dewan Tertinggi Muslim Kenya, angka-angka ini tidak termasuk mereka yang diculik di Timur Laut yang mayoritas penduduknya Islam.

Para pemimpin Muslim mengatakan kampanye pemerintah melawan terorisme telah berubah menjadi perang melawan Islam dan Muslim. 

“Kami menyaksikan strategi yang disengaja untuk menanamkan rasa takut di kalangan Muslim. Dan mencegah mereka pergi ke masjid, yang seharusnya menjadi tempat yang disucikan,” kata Sheikh Hassan Ole Naado, ketua Dewan Tertinggi Muslim Kenya. 

“Meskipun banyak seruan kepada pemerintah untuk menyelidiki dan mengakhiri pelanggaran ini. Negara telah memilih untuk tetap diam,” tambah Ole Naado. 

Pemerintah membantah tuduhan tersebut. Insiden tersebut menarik perhatian para pemimpin Kristen, yang telah bekerja sama dengan Muslim di Kenya dalam dialog perdamaian dan antaragama, pembangunan dan pekerjaan kemanusiaan. 

“Ini harus menjadi perhatian semua warga Kenya,” kata Uskup Katolik Roma Wilybard Lagho, dari Keuskupan Malindi, kepada Religion News Service. 

Penculikan, yang berfokus pada cendekiawan dan pengusaha Muslim, telah membuat beberapa dari mereka yang diculik trauma. Dampak itu dialami setelah mereka muncul kembali setelah beberapa hari, lainnya menghilang tanpa jejak.

Aksi Terorisme dengan Modus Penculikan

Baru-baru ini, Kenya mengalami serangkaian serangan berdarah terhadap gereja, instalasi pemerintah dan tempat-tempat umum. Di mana al-Shabab, afiliasi al-Qaida yang berbasis di Somalia di Afrika Timur, telah mengambil tanggung jawab. 

Sebagai tanggapan, pemerintah telah bergerak untuk memperkuat upaya kontraterorisme. Para pemimpin Muslim dan kelompok hak asasi manusia di negara itu menuduh pemerintah melakukan pembunuhan di luar proses hukum.

Ditambah lagi penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang dan penghilangan paksa serta mengganggu kebebasan berkumpul dan beribadah, saat melaksanakan kegiatan anti-terorismenya. Lagho tidak mengesampingkan keterlibatan al-Shabab.

“Terorisme memiliki jaringan yang sangat besar,” kata Uskup. Organisasi teroris, lanjut dia, mungkin memiliki alasan untuk menculik orang.

“Jika mereka pikir orang-orang memiliki banyak informasi atau mereka mengira mereka telah mengkhianati organisasi itu,” imbuhnya. Tetapi mereka yang diculik tidak cocok dengan profil yang konsisten.

Tokoh Penting Target Incaran Penculikan

Dalam insiden terbaru, Hassan Nandwa, seorang sarjana Islam, akademisi dan pengacara, diculik pada 28 Oktober setelah meninggalkan salat di Masjid Jamia di Nairobi. Sepuluh hari kemudian, dia dijatuhkan di Mwingi, sebuah kota sekitar 100 mil jauhnya. 

Sebelumnya, pada bulan September, Sheikh Abdiwahab Abdisamad, seorang ulama dan analis keamanan regional, diculik, hanya untuk muncul kembali 12 hari kemudian. 

Menurut Dewan Tertinggi Muslim Kenya, dua minggu sebelum penculikan Nandwa, Mohammed Abubakar Said yang berusia 22 tahun diculik dari sebuah masjid. Dia tidak pernah ditemukan.

Yassin Mohmoud, seorang sopir ambulans di Kabupaten Lamu, dan Hassan Dahir Osman, seorang pengusaha, telah hilang sejak Juni. 

“Muslim di negara ini sedang dikepung. Mereka menjadi sasaran. Ada pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan dalam skala besar,” kata Sheikh Abdullahi Abdi, ketua Forum Pemimpin Muslim Nasional.

“Kami akan memobilisasi umat Islam ke orang terakhir untuk memastikan hak-hak kami dilindungi,” pungkasnya.

 

 

https://iqna.ir/en/news/3476527/unexplained-disappearances-in-kenya-muslim-leaders-urge-for-action

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 3 =