Cancel Preloader

Pemimpin Perempuan dalam Sejarah: Kecerdasan Syajaratu Durri Ratu Mesir

 Pemimpin Perempuan dalam Sejarah: Kecerdasan Syajaratu Durri Ratu Mesir

Syajaratu Durri

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Syajaratu Durri, tokoh perempuan yang cerdas merupakan mantan budak yang kemudian menjadi pemimpin dinasti ketika suaminya meninggal.

Syajaratu Durri dikisahkan kembali dalam buku karya Mohammad Guntur Romli yang berjdul Muslim Feminis Polemik Kemunduran dan Kemajuan Islam. Romli adalah salah satu alumni pondok ternama di Madura yakni al-Amin Prenduan.

Meskipun buku tersebut lebih banyak membahas tokoh feminis golongan laki-laki yang membela kesetaraan gender seperti Qasim Amin, Rifa’ah al-Thanthawi dan Mohammad Abduh.

Syajaratu Durri disebut juga Syajaru Durri atau Syajarahu Durri yang berarti “Pohon Permata”. Dia adalah seorang budak dari Turki yang dibeli oleh Sultan Shalih Najmuddin, Raja dari periode terakhir kekuasaan dinasti Ayyubi di Mesir. Sultan tertarik dengan kecantikan dan kepandaian Syajaratu Durri, ia pun dimerdekakan lalu dinikahi Sultan.

Syajaratu Durri menjadi selir dan ditempatkan di istana yang megah di Jazirah Rawdah yang berada di tengah sungai NIL. Kawasan ini menjadi pusat pemukiman budak  para militer yang disebut Mamailik. Mamalik adalah sebutan untuk kelompok budak belian yang berasal dari Turki. Mereka dimerdekakan atas jasa pengabdian khususnya kemiliteran.

Terlibat dalam Pengambilan Keputusan

Sejak menikah Syajaratu Durri terlibat dalam pengambilan keputusan penting seperti politik dan militer. Meskipun posisinya hanyalah seorang selir, dengan kecerdasannya, ia telah naik layaknya seorang permaisuri.

Periode Sultan Shalih adalah masa yang kritis. Tentara Salib angktan ke tujuh telah mendekati wilayah Mesir yang dipimpin oleh Raja Prancis Louis IX. Mereka datang untuk membalas dendam karena kekalahan mereka pada perang Salib ketiga, sehingga mereka kembali untuk menaklukkan Dinasti Ayyubi.

Akhirnya pada pertempuran babak pertama, gabungan militer Ayyubi-Mamalik kalah. Bandar Dimyati jatuh pada pihak lawan dan akhirnya suami Syajaratu Durri Sultan Shalih meninggal dalam pertempuran tersebut.

Syajaratu Durri mengirim utusan ke Suriah untuk mengabarkan kematian suaminya pada putra Mahkota Raden Shaleh, yakni Turan Syah. Agar bergegas kembali ke Mesir untuk diangkat menjadi sultan.

Ditengah penantisn putra mahkota untuk dijadikan pengganti Sultan Salih, Syajaratu Durri secara de facto sudah memegang kekuasaan di Mesir. Syajaratu Durri menyusun strategi pertahanan dan petempuran selanjutnya bersama wakil sultan.

Ratu Umat Muslim Pelindung Dunia dan Agama

Ketika Kekuasaan Mesir di pegang oleh Syajaratu Durri, semua keputusan ada di tangannya. Salah satu taktiknya untuk melawan musuh, ia menyuruh Amir Baibar al-Banduq dari seorang panglima militer Mamalik untuk menyerang tentara Salib di kawasan Manshurah dengan taktik penyusupan. Akhirnya perang ini berhsail dimenangkan, raja Loius IX berhasil di tawan.

Setelah Puta Mahkota tiba kemudian dibai’at menjadi sultan dinasti Ayyubi. Ketika kekuasaan dipimpin oleh Turan Syah      , banyak konflik terjadi dan akhirmya ia dibunuh. Kemudian dinasti  Ayyubi Runtuh dan kekuasaan dinasti Ayyubi pindah ke dinasti Mamluki. Dinasti Mamluki merupakan koalisi antara Syajaratu Durri dan orang-orang kepercayaannya.

Para pembesar Mamalik membaiʽat Syajaratu Durri menjadi penguasa baru dengan gelar ‘Malikatul Muslimin Ishmatu al-Dunya wa al-Din Syajaratu Durri Ummu al Khalil al-Shalih”. Artinya ratu umat muslim pelindung dunia dan agama, Syajaratu Durri, ibu dari al Khalil sekaligus istri Sultan Shalih.

Nama dan gelar Syajaratu Durri selalu disebut dalam khotbah di Masjid-Masjid. Namun kepemimpinannya tidak punya legitimasi politik dan agama. Jika ia belum memperoleh restu dari penguasa Dinasti Abbasi di Baghdad.

Dinasti ini dianggap sebagai pusat legalitas kekuasaan yang mengatasnamakan Islam kala itu. Sang ratu, tidak bisa menghindar dari kenyaataan. Ia mengirimkan utuasan untuk meminta restu dari khalifah al-Mu’tashim.

Namun permintaannya ditolak mentah-mentah oleh khalifah al-Mu’tashim dengan mengirimkan sebuah pesan kepada tentara Mamalik yang berisi:

“Jika sudah tidak ada lagi laki-laki di anatara kalian, beritahu kami! Maka kami akan mengirimkan laki-laki dari Baghdad untuk memimpin kalian”.

Syajaratu Durri Terlibat Penikahan Politik

Penolakan dan penghinaan tersebut membuat perpecahan di antara petinggi Mamalik. Ada yang pro mendukung sang Ratu tetap memimpin, ada yang kontra untuk mundur dari jabatan.

Hal ini membuat Syajaratu Durri mengambil posisi aman dan mengalah agar stabilitas politik tetap terjaga. Dengan menikahi seorang panglima militer bernama Amir Izzudin Aibak Turkumani.

Pernikahan tersebut tidak lebih dari pernikahan politik meskipun Izzudin Aibak memenuhi syarat agar ia menceraikan istri pertamanya. Syajaratu Durri tak mau dimadu saat itu.

Selanjutnya Izzudin Aibak diangkat menjadi sultan dinasi Mamalik dan stabilitas politik terkendali. Meskipun Syajaratu Durri tidak lagi menjadi sultanah bukan berarti ia tidak memiliki kekuasaan.

Akhir Hayat Syajaratu Durri

Sultan al-Muiz harus berbagi kekuasaan dengan istrinya. Meskipun secara simbolis dipimpin oleh seorang sultan laki-laki, namun Syajaratu Durri juga memiliki peran penting dalam memutuskan suatu perkara.

Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama yakni hanya tujuh tahun. Keduanya terlibat konflik yang pemicunya sultan al-Muiz menyunting putri penguasa Mungol.

Bukan hanya itu, Syajaratu Durri juga mendengar dia akan didepak dari istana agar ia tidak bisa memiliki kewenangan. Konflik keduanya tidak dapat dipadamkan, akhirnya al-Mu’iz dibunuh oleh pengawal Syajaratu Durri.

Namun, kematian al-Muiz bukan berarti menemui jalan lapang untuk kembali menjadi menduduki kursi pemerintahan. Kala itu peta politik telah berubah total. Pembebasar Mamalik yang dipimpin Amir Syaifuddin Qutus tidak setia lagi kepada sang ratu.

Qutus ingin balas dendam kepada Syajaratu Durri atas kematian al-Muiz dengan dalih  ingin mengangkat Ali putra al-Muiz dari istri pertama. Akhirnya, Syajaratu Durri ditangkap. Ia dilempar dari pucuk benteng istana, jatuh dan tewas seketika. Ia menemui ajalnya di tengah intrik poitik dan penghiatan.

Syajaratu Durri seorang perempuan yang mantan budak. Tetapi ia bisa memegang kekuasaan sampai-sampai ia bisa menaklukkan tentara Salib yang tangguh dengan strategi-strategi yang cerdas. Ironisnya, ia diremehkan oleh khlifah a-Mu’tashim karena ia adalah seorang perempuan dan ia meninggal ditengah intrik politik dan penghiatan.

Kisah Syajaratu Durri membuktikan pada kita, perempuan pada saat itu sudah memiliki wewenang untuk memimpin dalam sebuah tatanan pemerintahan. Tidak hanya itu, sosok Syajaratu Durri mengajarkan bagaimana menjadi sosok pemimpin perempuan yang tangguh, sosok yang kuat. Wallahu a’lamu

Nafilah Sulfa

Nafilah Sulfa

https://hidayatuna.com/

Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa Pamekasan Madura, dan Mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir semester akhir di IAIN Madura. Pegiat kajian Feminisme.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × one =