Kesederhanaan A.R. Fachrudin Pemimpin Muhammadiyah 22 tahun

 Kesederhanaan A.R. Fachrudin Pemimpin Muhammadiyah 22 tahun
Digiqole ad

Jika kalian anggota dari Muhammadiyah, maka pasti tak asing dengan ulama yang satu ini, K.H. Fachruddin. Beliau merupakan sang pemegang rekor jabatan Ketua Umum Muhammadiyah terlama. Bagaimana tidak, beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah selama 22 tahun, sejak tahun 1968 hingga tahun 1990.
Masa Kecilnya
Fachruddin lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada 14 Februari 1916. Ayahnya adalah seorang Lurah Naib atau penghulu dari Puro Pakualaman yang bernama KH. Fachruddin, sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman. Sedari kecil pak AR-sapaan akrabnya- selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Karena itu, sedari kecil ia telah dibiasakan untuk membantu pekerjaan rumah. Disamping itu ia juga dididik agar menjadi orang yang tidak gumunan (merasa heran). ia dan saudara-saudaranya juga selalu dibiasakan untuk puasa sunnah senin dan kamis.
Pada tahun 1923 Fachruddin kecil bersekolah fromal di Standart School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta. Namun tak berapa lama kemudian, beliau diminta kembali ke desanya setelah usaha batik ayahnya jatuh. Pada tahun 1925 beliau kembali melanjutkan sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kotagede hingga tamat pada 1928. Di tahun yang sama, beliau melanjutkan sekolah ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah belajar di Muallimin, dia pulang untuk berguru kepada beberapa kiai termasuk pada ayahnya.
Keluarganya
Pada tahun 1937, ketika ia sedang liburan ramadhan di Yogyakarta, beliau dijodohkan oleh ibunya Nyai Fachruddin dengan Siti Komariyah, putri pamannya Kiai Abu Amar. Dalam pernikahannya dengan Siti Komariyah, mereka dikaruniai 7 orang anak. Di mata keluarganya, pak Ar tidak pernah marah, beliau selalu bertutur kata yang halus, kalaupun menasihati bahkan diselingin dengan humor. Setiap akan meninggalkan istri dan anaknya sehari semalam, pak Ar mempunyai kebiasaan berpesan kepada istri dan anaknya “Aku arep lungo nang kene semene dino. Kowe kabeh tak pasrahke Gusti Allah (Aku akan pergi ke kota ini sehari semalam, kalian semua saya titipkan kepada Allah Swt.” Tutur Komariyah, menirukan pesan suaminya.
Kehidupan karirnya
Dalam karirnya di Muhammadiyah, pak Ar bekerja dari bawah. Ia pernah menjadi guru di sepuluh sekolah Muhammadiyah, menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah, ketua ranting, keta cabang, ketua wilayah, hingga akhirnya dipercaya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Pak Ar tercatat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama, jabatan itu ia emban atas usul Buya Hamka menggantikah K.H. Fakih Usman yang wafat sebagai pemimpin tersingkat dalam sejarah Muhammadiyah.
“Dalam Muktamar ke-38 Muhammadiyah diputuskan bahwa Fakih Usman diangkat menjadi Ketua PP Muhammadiyah, meskipun K.H. Fachruddin mendapat suara lebih banyak. Kepemimpinan Fakih Usman hanya berlangsung selama sepekan –ini merupakan kepemimpinan tersingkat dalam sejarah Muhammadiyah– karena beliau meninggal,” seperti dilansir pada 1 Abad Muhammadiyah : Gagasan Pembaruan soal Keagamaan.
Sejak penetapannya sebagai pimpinan PP Muhammadiyah, pak Ar terus dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah selama 3 periode berturu-turut yaitu 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985. Salah satu prestasi yang sulit ditandingi dari kepemimpinan A.R. Fachruddin adalah model kepemimpinannya yang merakyat. Artinya sebagai pemimpin, beliau sangat dekat dengan masa yang dipimpinnya. Hal ini dibuktikan dengan keikhlasannya terjun ke daerah-daeerah terpencil. Kondisi yang demikian ini memang ditunjang oleh keteladanan KH. AR. Fachruddin dalam ber – Muhammadiyah, selama duduk sebagai ketua PP Muhammadiyah.
Kelebihan lain selama dalam kepemimpinanya adalah beliau mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan kelompok intelektual. Ulama kharismatik ini tidak bersedia dipilih kembali pada tahun 1990, meskipun masih banyak orang yang mengharapkannya. Alasan beliau adalah ingin adanya alih regenerasi yang sehat di Muhammadiyah. Selepas beliau menjadi pimpinan selama beberapa periode, beliau diangkat menjadi dewan penasihat PP Muhammadiyah, beliau masih aktif melaksanakan kegiatan tabligh ke berbagai tempat.
Kesederhanaannya
KH. AR. Fachruddin dikenal karena sosoknya yang sangat sederhana. Bhakan setelah menjabat sebagai pimpinan organisasi yang masanya jutaan tidak mengubah kepribadian dan kesederhanaan beliau. Menjadi pimpinan Muhammadiyah beberapa tahun bukan tidak mungkin untuk beliau mempunyai mobil atau rumah, bahkan tidak sedikit yang menawarkannya mobil dengan cuma-cuma, namun beliau selalu menjawab dengan alasan sederhana, ia tidak bisa menyetir dan tidak ingin direpotkan dengan hal seperti itu.
Menurut pengakuan seorang indekos di Jalan Cik Ditiro 19A puluhan tahun silam, masih membekas dalam ingatan Syarifudin Simon bagaimana sederhananya pak Ar, bahkan pak Ar pernah menjual bensin eceran untuk membiayai kuliah anaknya di depan rumah yang dipinjami Muhammadiyah. Ya, sampai wafatnya beliau, beliau tidak memiliki rumah sendiri. Rumah yang ia tinggali bersama keluarganya adalah rumah milik perserikatan Muhammadiyah. Sekali waktu beliau ingin membeli rumah, namun uang muka dan cicilan yang telah dibayarkan dibawa lari oleh pengembang. Hingga akhir hayatnya beliau tidak memiliki rumah sendiri.
Meskipun kehidupannya yang sederhana, namun pergaulan beliau sangatlah luas, teman-temannya berasal dari berbagai kalangan. Beliau adalah orang yang berteman dengan siapa saja, tidak pernah membedakan status seseorang. Simon mengatakan, Gus Dur pernah datang berkunjung ke kediamannya untuk membicarakan masalah nasional. Sekali waktu seusai sholat subuh berjamaah dengan anak-anak kosnya, Pak Ar bercerita bahwa dirinya baru saja mengirimkan surat kepada Presiden Soeharto. Isi suratnya singkat, tentang rencana Muhammadiyah mendirikan universitas di Yogyakarta. “Pak Harto, Muhammadiyah bade bangun universitas, menawi kerso monggo” kata Simon menirukan ucapan Pak Ar mengenai isi surat kiriman ke Soeharto.
Simon bercerita bahwa seminggu kemudian, Presiden Soeharto memberikan balasan surat kepada pak Ar, dan dilamnya terdapat cek dengan nilai beberapa ratus juta.
Jum’at, 17 Maret 1995, kabar duka datang dari Rumah Sakit Islam Jakarta, Pak A.R wafat, beliau meninggal setelah menerima perawatan intensif selama tiga pekan karena komplikasi penyakit vertigo, pembengkakan jaringan dan leukimia. Presiden Soeharto, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum MUI KH. Hasan Basri, Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan sempat melayatnya di rumah sakit. Jenazah beliau kemudian dibawa ke Masjid Istiqlal untuk disholatkan.
Presiden Soeharto memesan khusus sebuat pesawat Hercules untuk membawa jenazah pak A.R ke kampung halamannya di Yogyakarta. Jenazah K.H. A.R. Fachruddin keudian dimakamkan di Pemakaman Umum Karang Kajeng, berderet dengan pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan.

Sumber :

  • Pemikiran Kh. A.R. Fachruddin Dalam Perkembangan Muhammadiyah Di Indonesia (1968-1990), Muhammad Iqbal Malueka, Prodi Ilmu Sejarah, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.
  • https://tirto.id/ar-fachruddin-cahaya-kesederhanaan-muhammadiyah-cpwf
  • http://lazismujaktimlife.blogspot.com/2013/09/biografi-singkat-kh-ar-fachruddin.html
  • http://fimadani.com/kh-ar-fachruddin-dan-muhammadiyah/
  • https://www.merdeka.com/peristiwa/pak-ar-fachruddin-pemimpin-umat-yang-tak-pernah-punya-rumah-teladan-kesederhanaan-6.html

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nine + 1 =