Pembunuh yang Masuk Islam di Zaman Nabi

 Pembunuh yang Masuk Islam di Zaman Nabi

Samammah, pembunuh yang masuk Islam (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sammamah, seorang pembunuh sekaligus pembesar kharismatik dari Kabilah Hunaifiyyah masuk Islam setelah berhasil ditangkap umat Islam. Pasalnya ia telah banyak membunuh kaum Muslimin saat itu.

Sebelum ditahan, Sammamah terlebih dahulu dihadapkan kepada Rasulullah Saw untuk menentukan keputusan apa yang hendak diambil. Setelah melihat keadaan Sammamah, Rasulullah Saw tidak banyak berkomentar dan hanya berkata, “Perlakukan dia dengan baik!”  

Setelah itu, segera para sahabat yang ada di sekelilingnya langsung membawa Sammamah ke lokasi penahanan. Di ruang tahanan, ketika makan, Sammamah sangat.

Sammamah bisa melahap semua jatah makanan 10 orang sekaligus tanpa merasa bersalah. Perilaku tawanan baru itu disampaikan kepada Rasulullah. 

Melihat hal itu, Rasulullah tidak banyak memberikan komentar dan hanya pergi ke bilik istrinya. Beliau berkata, “Hari ini aku kedatangan tamu yang doyan makan. Hidangkan padanya semua makanan yang telah kalian siapkan!” 

Setelah menerima hidangan yang disediakan istri Rasulullah itu, Sammamah menghabiskan semua makanan yang dihidangkan padanya. Sementara Rasulullah dan keluarga yang juga kelaparan mengalah tidak ikut makan.

Hingga beberapa pekan, tapi Rasulullah tetap baik kepada Sammamah meski Sammamah hanya makan, minum, dan tidur. Rasulullah juga selalu memperhatikan perkembangan kondisi Sammamah.

Menyatakan Keislamannya kepada Rasulullah

Setiap kali bertemu Nabi, Sammamah selalu mengatakan, “Muhammad! Aku telah membunuh orang-orangmu. Jika kamu ingin membalas dendam, bunuh saja aku,” katanya dengan nada tinggi.  

Mendengar perkataan itu, Rasulullah tidak banyak bicara dan hanya menatap lawan bicaranya sambil sedikit tersenyum. Melihat sikap Nabi Muhammad seperti itu Sammamah semakin sombong dan kembali berkata:

“Namun, jika kamu menginginkan tebusan, aku siap membayar sebanyak yang kamu inginkan.”

Seperti keadaan tadi, Rasulullah hanya mendengarkan ucapannya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, Rasulullah membebaskan Sammamah sehingga ia bebas pergi ke mana saja. 

Setelah melangkah beberapa jauh, Sammamah berhenti di bawah sebuah pohon. Ia selalu berpikir, berpikir, dan terus berpikir memikirkan sikap Nabi Muhammad yang begitu ramah dan baik. 

Kemudian, ia duduk di atas pasir dan masih tetap tidak percaya, mengapa orang yang menawannya tidak memperlakukan dirinya dengan kasar. Sementara sebaliknya, ia telah membunuh banyak sahabat Rasulullah.

Setelah beberapa lama memikirkan sikap Rasul yang baik, ia beranjak bangkit kembali menuju kediaman Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Setelah masuk Islam, Sammamah menghabiskan beberapa hari bersama Rasulullah kemudian pergi ke Mak kah untuk mengunjungi Ka’bah.

Patuh dan Setia pada Nabi Saw

Sesampainya di sana, Sammamah menyatakan dengan suara lantang: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.  Saat itu Makkah masih berada di bawah kekuasaan Quraisy. Orang-orang menghampirinya dan mengepungnya.

Pedang sudah terayun-ayun mengintai kepala dan lehernya.  Salah seorang dari kerumunan itu berkata, “Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia! Dia adalah penduduk Imamah. Tanpa suplai makanan dari Imamah kita tidak akan hidup.” 

Sammamah menimpali, “Tetapi itu saja tidak cukup! Kalian telah sering menyiksa Muhammad. Pergilah kalian menemuinya dan minta maaflah pada beliau dan berdamailah dengannya! Kalau tidak, Aku tidak akan mengizinkan satu biji gandum dari Imamah masuk ke Makkah,” katanya. 

Sammamah kembali ke kampung halamannya dan ia benar-benar menghentikan suplai gandum ke Makkah. Bahaya ke laparan mengancam penduduk Makkah.  

Para penduduk Makkah mengajukan permohonan kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad! Engkau memerintahkan agar berbuat baik kepada sanak dan tetangga.”

“Kami adalah sanak saudaramu, akankah engkau membiarkan kami mati kelaparan dengan cara seperti ini?” 

Seketika itu pula, Rasulullah menulis surat kepada Sammamah, memintanya untuk mencabut larangan suplai gandum ke Makkah. Sammamah dengan rela hati mematuhi perintah tersebut.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nine − one =