Peluang Sukses Santri dan Kiat-Kiatnya

 Peluang Sukses Santri dan Kiat-Kiatnya

Perguruan Tinggi Islam Harus Kembangkan Santripreunership (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Santri pada zaman kolonial dan orde baru hanya dikenal sebagai kaum sarungan yang hanya sibuk memperdalam ilmu agama. Kerap dipandang hanya berharta kitab, sarung dan peci yang identik dalam kehidupan pada masa itu.

Namun siapa sangka, santri, kini tampil berbeda dengan polarisasi dalam sendi kehidupan yang melingkupi segi tampilan secara fisik, perkembangan karir hingga perkembangan profesi.

Salah satu yang sering digaungkan saat ini adalah pergeseran yang semula hanya ahli dalam bidang ngaji, ngabdi dan khidmah.

Lain daripada itu, santri kini mulai mengenal dunia baru yang sering disebut dengan dunia usaha, atau menjadi seorang entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur bagi sebagian alumni pesantren menjadi hal yang baru dan menantang.

Tak ada salahnya pula santri mencoba hal baru yang tidak pada umumnya, sebagaimana menekuni dunia kewirausahaan. Sebab hal ini akan membuka peluang dan menaikkan perekonomian umat Islam kedepannya.

Santripreneurship dan Ekonomi Umat  

Umat merupakan fondasi massa besar bagi agama Islam itu sendiri. Umatlah salah satu pendorong akselerasi pergerakan Islam dari tempo dulu hingga sekarang. Namun kendalanya adalah stuck-nya ekonomi umat Islam yang masih berbanding terbalik dengan agama lain.

Hal ini haruslah menjadi perhatian bersama, terlebih para santri. Merekalah yang diandalkan menjadi penggerak agama dalam berbagai lingkup seperti, pendidikan, perekonomian hingga kesehatan.

Sementara itu, salah satu penyokong kemajuan ekonomi adalah lewat jalur perdagangan. Perdagangan sendiri telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw yang diikuti pula oleh para sahabat, seperti Utsman bin Affan.

Lewat perdagangan inilah perekonomian umat Islam mengalami kenaikan yang signifikan. Jika seorang sipil biasa menjadi pengusaha dikenal sebagai entrepreneur, maka santri yang merintis jalan usaha, tak malu untuk disebut santripreneurship.

Dalam hal ini, kemajuan Negara Barat harus dicontoh oleh para santri. Tak lain ialah sebagai harapan penggerak Islam itu sendiri dari segi perekonomian.

Sinergitas dalam Mewujudkan Ekonomi Umat

Selain pesantren, perguruan tinggi Islam harus ambil bagian dalam rangka mendukung penuh pembentukan santripreneurship di seluruh wilayah negeri ini.

Mengapa demikian? Realitanya, sebagian santri kini telah menyadari tentang keseimbangan dalam dunia pendidikan yang ditempuhnya.

Para santri setelah lulus dari pondok pesantren mulai melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Baik yang memiliki basic keagamaan maupun umum untuk melengkapi pengetahuannya.

Maka sebab itu, hendaknya ada sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi Islam dalam mewujudkan ekonomi umat yang berkemajuan dengan program santripreneur.

Salah satu kampus yang memberikan ruang bagi santri atau mahasiswanya untuk berkreasi menjadi seorang entrepreneur adalah INISNU Temanggung. INISNU Temanggung memiliki program “Guru yang berwirausaha”, khususnya di prodi PGMI.

Tips Santripreneur Sukses

Menjadi santripreneur melalui bukan hanya didukung oleh umat Islam dan ulama. Perlu dukungan penuh dan peran pemerintah lewat beragam progam.

Salah satunya hadir dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memberikan stimulus yang tepat guna dan tepat sasaran. Agar pondok pesantren dapat mengembangkan usaha.

Dengan demikian, diharapkan mampu turut mendukung pertumbuhan industri di Indonesia. Sekaligus menjadi agen perubahan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Sindo News: 2021)

Dalam sebuah kesempatan, Pengasuh API Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, Gus Yusuf Chudori memberikan kiat santri menjadi seorang pengusaha sukses.

  • Motivasi Kuat

Pertama, syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin berbisnis itu adalah memiliki motivasi yang kuat.

  • Istiqamah

Kedua, syarat yang harus dipenuhi adalah adanya konsistensi. Dalam bahasa pesantren, konsistensi bisa disebut dengan istiqamah.

  • Memperluas Jaringan

Ketiga, sebagai syarat terakhir adalah punya jaringan. Sebab, usaha tidak akan berkembang tanpa adanya jaringan.

Dalam budaya pesantren, bisa dibilang masih sangat kental budaya silaturahimnya. Untuk itu, ia mengajak para peserta agar memperbanyak saudara melalui berbagai kegiatan, forum-forum, dan lain sebagainya.

Hal ini sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw karena menjaga silaturahmi selain memperpanjang usia, juga memperlancar rejeki.

Hilal Mulki Putra

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 − 2 =