Cancel Preloader

Sikap Nabi

Patut Diteladani! Beginilah Sikap Nabi Muhammad kepada Anak-Anak

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kanjeng Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang memiliki kasih sayang melimpah dengan segala kewelasan hatinya dalam segala perbuatan.

Sikap yang dimiliki Nabi Muhammad mampu menjadikan seseorang yang berada didekatnya selalu merasa kagum akan dirinya yang rendah hati. Nyatanya sikap tersebut tidak hanya ia berikan kepada masyarakat secara umum, tetapi juga kepada anak-anak.

Bagaimana Rasulullah menyayangi anak-anak? Apakah akan sama perlakuannya dengan sikap kepada orang dewasa? Justru Rasulullah mengajarkan kasih sayang yang lebih kepada anak-anak.

Mereka memeroleh kasih sayang yang begitu luar biasa dari dirinya melalui pengasuhan yang penuh dengan sikap baik. Diceritakannya bahwa cucunya, yakni Sayyidina Hasan dan Husein menjadi cucu kesayangan Kanjeng Nabi Muhammad Saw sejak kecil.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad sedang pergi ke rumah puteri tercintanya yakni Sayyidah Fathimah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya tentang kepergian Sayyidina Hasan dan Husein. Nyatanya, keduanya ikut ayahnya, yakni Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang pada saat itu sedang bekerja mengambil air di sumur milik seorang kafir.

Upah bekerja Sayyidina Ali adalah sepotong kurma dalam setiap air yang ditimbanya. Kurma hasil upah tersebut dimakan oleh Sayyidina Hasan dan Husein.

Sesampainya di kebun kurma, dipeluknyalah Sayyyidina Hasan dan Husein yang penuh dengan noda kurma di mulutnya dengan penuh kasih sayang. Rasulullah memperlakukan keduanya sama seperti anak-anak pada umumnya.

Menjadikan dadanya sebagai sandaran keduanya untuk bermain. Menemani bermain dengan keduanya menjadi perilaku yang tidak dapat dihindarkan oleh Rosulullah sebagai seorang kakek yang begitu menyayangi kedua cucunya.

Melimpahkan Kasih Sayang ke Semua Anak-Anak

Pernah suatu ketika, keduanya bermain kuda-kudaan hingga Rasulullah memperlambat bangun dari sujudnya lantaran Sayyidina Hasan dan Husein sedang bermain. Keduanya begitu dekat dengan Rasulullah dengan segala bentuk kegiatan-kegiatan anak-anak ditemaninya. Kasih sayang yang diberikan oleh Rasulullah sangat melimpah ruah.

Begitulah Rasulullah memperlakukan kedua cucunya dengan memberikan kasih sayang yang melimpah ruah selayaknya anak-anak pada umumnya. Nyatanya, kasih sayang dilimpahkan oleh Rasulullah, tidak semata-mata diberikan hanya karena anak tersebut adalah cucunya sendiri. Akan tetapi ia berikan kepada anak-anak pada umumnya.

Suatu waktu, ketika di Kota Mekkah baru ditaklukkan oleh tentara muslim. Pada saat itu dikumandangkan azan oleh Muadzin seperti pada umumnya. Kemudian datanglah beberapa anak-anak yang berusaha untuk mengolok-olok azan dengan cacian, makian bahkan sikap tidak terima dengan dikumandangkannya azan.

Apa yang dilakukan Rasulullah? Ia tidak memarahi dan mengusir anak-anak tersebut. Mereka dipanggil oleh Rasulullah, kemudian ia meminta mereka untuk mengulangi azan yang dikumandangkan oleh muazin tersebut. Maka, azanlah mereka dengan suara yang dimiliki oleh versi mereka masing-masing.

Diantara sara azan yang dikumandangkan, Rasulullah menyukai suara salah satu azan dari mereka. Kemudian, dibelainyalah kepala anak tersebut, diberkahi dengan kata-kata penuh rahmat, kasih sayangnya kepada anak tersebut membawa pada ajakan bahwa anak tersebut akan menjadi muazin di Makkah.

Siapa anak tersebut? Ia adalah Abu Mahdzurah al-Jumahi. Seseorang yang dulu sangat membenci Rasulullah, lambat laun menjadi orang yang sangat memuliakan Rasulullah setelah masuk Islam. Apalagi setelah kejadian tersebut, hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Rasulullah dengan segala perlakuan dan sikap yang diberikan kepadanya.

Rasulullah selalu mengajarkan kepada umatnya tentang perilaku baik, menyayangi sesama kepada siapapun bahkan terhadap anak-anak sekalipun ia turut memuliakannya. Hal ini menjadi catatan utama bagi kita sebagai umatnya untuk meneladani segala perilaku Rasulullah yang penuh dengan welas asih dan sayang kepada anak-anak.

Muallifah

Muallifah

Mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada, Penulis lepas

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × 3 =