Pasca Ledakan Beirut, Yaman Telusuri 4.900 Ton Amonium Nitrat di Pelabuhan Aden

 Pasca Ledakan Beirut, Yaman Telusuri 4.900 Ton Amonium Nitrat di Pelabuhan Aden

Pasca Ledakan Beirut, Yaman Selidiki Keberadaan 4.900 Tin Amonium Nitrat di Pelabuhan Aden

HIDAYATUNA.COM – Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada kepala jaksa banding provinsi Aden, Ali Ahmed Al-Awash memerintahkan penyelidikan untuk menentukan kebenaran laporan media terkait adanya 130 kontainer amonium nitrat, bahan peledak yang menghancurkan Beirut minggu lalu, yang dikabarkan telah ditinggalkan di pelabuhan untuk beberapa waktu.

Sebelumnya jurnalis Yaman Fatehi Ben Lazerq, editor situs berita dan surat kabar Aden Al-Ghad, menerbitkan sebuah laporan pada hari Jumat (7/8/20) yang mengatakan bahwa sekitar 4.900 ton amonium nitrat disimpan dalam 130 kontainer telah berdebu di pelabuhan selama tiga tahun terakhir.

Dikutip hidayatuna.com , Minggu (9/8/20), narasi tersebut mendorong Korporasi Pelabuhan Aden Teluk Yaman untuk menolak keras kabar penyimpanan amonium nitrat di lokasi tersebut. Korporasi mengatakan bahwa apa yang ditulis reporter tersebut mengacu pada pengiriman lama 140 kontainer senyawa organik urea yang biasanya digunakan sebagai pupuk pertanian.

Korporasi mengklaim bahan tersebut tidak “eksplosif atau radioaktif”. Namun amonium nitrat, bagaimanapun, telah digunakan dalam membuat bom di seluruh dunia, termasuk yang diledakkan dalam pemboman World Trade Center 1993.

Dilansir dari Arab News, pada hari Jumat (7/8/20), anggota parlemen Yaman bergabung dengan masyarakat menuntut penyelidikan segera atas klaim adanya amonium nitrat yang tersimpan di pelabuhan tesebut.

Ali Hussein Ashal, anggota Parlemen Yaman, mengirim surat kepada pemerintah meminta klarifikasi tentang keberadaan 130 kontainer pupuk berukuran 40 kaki yang terbengkalai di pelabuhan Aden, dan apa alasan impor bahan tersebut.

Mohammed Alawi Amzrabeh, ketua Perusahaan Pelabuhan Aden Teluk Yaman, mengatakan kepada bahwa mereka menyimpan kontainer pupuk pertanian yang “aman” di pelabuhan setelah koalisi pimpinan Saudi menolak pengiriman masuk ke negara itu.

Terlepas dari jaminan perusahaan terkait bahwa bahan yang dipermasalahkan tidak menimbulkan risiko, beberapa pejabat pemerintah mengatakan kepada Arab News bahwa koalisi yang dipimpin Saudi dan pemerintah yang diakui secara internasional telah mengklasifikasikan pupuk urea sebagai bahan peledak yang dapat digunakan oleh Houthi yang didukung Iran. Sehingga untuk tujuan militer, bahan tersebut dilarang masuk pelabuhan Yaman dan dilarang untuk mengimpornya tanpa izin.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × five =