Para Perempuan Penulis Wahyu Al-Qur’an

 Para Perempuan Penulis Wahyu Al-Qur’an

Mengenal Utbah bin Ghazwah: Sahabat Rasulullah Sang Pendiri Basrah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sejarah penulisan dan kodifikasi Al-Qur’an melewati fase-fase yang sangat panjang. Masa penurunannya saja memakan waktu kurang lebih selama dua puluh dua tahun.

Mayoritas ulama membagi Al-Qur’an ke dalam dua kelompok, Makiyah dan Madaniyah. Disebut Makiyah karena mayoritas ayat-ayatnya diturunkan di kota Makkah.

Sementara disebut Madaniyah karena mayoritas diturunkan di kota Madinah. Ada juga yang membagi Al-Qur’an dari sebelum hijrah dan pasca hijrah.

Tulisan ini tidak akan membahas perbedaan pendapat ulama di atas. Disini penulis hendak mengkaji peran para sahabat yang berkontribusi dalam menuliskan Al-Qur’an.

Mereka adalah orang-orang yang jasanya dapat kita rasakan sampai sekarang. Kitab suci Al-Qur’an yang kita baca sekarang ini, semuanya tidak terlepas dari peran sentral mereka.

Di antara mereka ada sahabat-sahabat yang namanya populer di telinga umat Islam, sementara sebagian yang lain tidak.

Para penulis wahyu Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Taratib Al-Idariyyah jumlahnya mencapai 40 orang.

Mayoritas yang kita tahu, para penulis wahyu Al-Qur’an semuanya laki-laki. Seperti Zait bin Tsabit, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Saad, Hanzhalah ibnu Ar-Rabi’ dan lain sebagainya.

Ternyata tidak demikian. Dalam beberapa kitab disebutkan ada peran sahabat perempuan yang turut serta dalam mensukseskan penulisan Al-Qur’an.

Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Futuhul Buldan” sebagaimana yang dikutip oleh Manna al-Qaththan dalam Mabahits fi Ulumil Qur’annya, ia menyebutkan beberapa sahabat perempuan yang diutus untuk menulis wahyu Al-Qur’an.

1. Hafshah binti Umar bin Khatab

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Adi bin Ka’ab bin Luay radhiallahu ‘anha.

Beliau merupakan salah satu istri Rasulullah saw yang lahir dari pasangan sahabat Umar bin Khatab dengan Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb, pada 18 tahun sebelum hijrah dan wafat pada 45 H. Bersamaan dengan 604-665 M.

Hafshah merupakan seorang yang tangguh dan cerdas, ia menjadi seorang perempuan istimewa. Ia merupakan Ummul Mu’minin, sebagai istri seorang yang paling mulia di muka Bumi.

Karena kedekatan hati dan ‘body’ inilah yang memungkinkan beliau yang semasa hidupnya juga pernah memberikan kontribusi lebih terhadap upaya mencatatkan wahyu-wahyu Al-Qur’an yang turun pada suaminya.

Barangkali ini juga alasan ketika sepeninggal wafat Nabi Muhammad saw ia dipercaya membawa mushaf Al-Qur’an.

2. Ummu Kultsum binti Uqbah

Nama lengkapnya Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mui’th. Ia merupakan anak pembesar Quraish Makkah.

Sementara Ibunya adalah Urwa binti Karim bin Rabiah bin Habib bin Abdu Syams. Secara nasab Ummu Kultsum masih memiliki hubungan darah dengan sahabat Usman bin Affan.

Ummu Kulsum merupakan wanita yang sangat mulia, ia rela meninggalkan keluarganya di Makkah untuk berhijrah bersama Rasulullah ke Madinah.

Ia memiliki tingkat keimanan yang sangat kokoh dan kuat. Sebagaimana ia dinobatkan sebagai perempuan pertama yang hijrah di Madinah.

Namanya juga diabadikan Al-Qur’an karena atas perjuangannya dalam membela keimanan, kisahnya menjadi salah satu sabab nuzul QS. al-Mumtahanah/60: 10. Ummu Kultsum meninggal dunia pada 33 Hijriyah.

Kemuliaan lain yang menjadikan dia istimewa ialah karena kontribusinya sebagai salah satu penulis wahyu Al-Qur’an.

Ia memang dikenal sebagai seorang perempuan yang melek huruf, ia bisa membaca dan menulis.

Selain itu barangkali ini dikarenakan dirinya menjadi istri dari anak angkat Nabi Muhammad saw yaitu Zaid bin Haritsah yang notabene sering berjumpa dalam kehidupan Nabi Muhammad saw.

3. Asy-Syifa’ binti Abdullah Al-Qurasyiyah

Beliau memiliki nama lengkap Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams Al-QurasyiahAl-Adawiyah.

Beliau merupakan seorang perempuan yang mempunyai keimanan dan ketaqwaan. Ia semakin istimewa di antara kalangan perempuan Makkah saat itu karena kepandaian dalam membaca dan menulis.

Beliau merupakan sahabat tingkat pertama, seorang tooh muslimah yang memiliki jasa besar terhadap umat Islam saat itu.

Karena keistimewaan di atas, Asy Syifa’ binti Abdullah dijadikan sebagai guru oleh umat Islam.

Yang mengajari para muslimah membaca dan menulis, pengorbanan ini hanya ingin mencari keridhaan Allah semata.

Dari keistimewaan pula maka Rasulullah saw menunjuk beliau menjadi salah satu penulis wahyu saat itu.

Itulah beberapa penulis perempuan yang ditunjuk Nabi Muhammad untuk menuliskan wahyu Al-Qur’an yang sangat jarang kita ketahui.

Dengan demikian kita akan menyadari ternyata perempuan bisa dan mampu memberikan sumbangsih yang nyata terhadap agama. []

Thoriqul Aziz

Thoriqul Aziz merupakan peserta Lomba Menulis Artikel Hidayatuna.com, artikel tersebut adalah tulisan yang lolos ke tahap penjurian sebelum penetapan pemenang.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *