Panglima Santri Jawa Barat Seharusnya Dukung Film The Santri

 Panglima Santri Jawa Barat Seharusnya Dukung Film The Santri
Digiqole ad

Oleh: Didi M Hadi (Mahasiswa Sastra Arab UIN Yogyakarta)

Terkejut melihat tanggapan Uu Ruzhanul Ulum yang akrab di sapa kang Uu sebagai orang nomor dua di Jawa Barat yang menilai dari satu sisi terhadap Film The Santri dengan penilaian negatif dan terkesan mengecam untuk tidak menayangkan film tersebut. Tanggapan itu saya baca di tautan jabar.sindonews.com. Kang Uu mengungkapkan keberatannya terhadap film The Santri kepada awak media, “Saya melihat trailer film The Santri di youtube, saya merasa keberatan.” Selasa, 7 September 2019 (jabar.sindonews.com)

Rasa keberatan kang Uu didasarkan atas beberapa adegan dalam cuplikan trailer film The Santri yang di tayangkan di youtube. Karena ia merasa tidak ada tradisi santri di pondok pesantren selama yang ia alami di pondok pesantren. Terdapat dua fokus yang ia kritisi dari trailer film the santri yang ia tonton, yaitu pertama santri berpacaran karena melihat di trailer itu di tampilkan santri putra berdekatan dengan santri putri, tanpa ada pemisah yang ketat seperti halnya di pesantren-pesantren pada umumnya. Yang kedua yaitu toleransi yang berlebihan dengan adegan santri masuk gereja, karena menurutnya hal yang demikian dalam ajaran syari’at Islam termasuk murtad.

Bahkan Uu Ruzhanul Ulum yang memiliki julukan Panglima Santri Jawa Barat ini meminta film The Santri untuk tidak di tayangkan ke masyarakat luas kalau tidak ada perbaikan di film tersebut. “Saya berharap film itu tidak tayang. Kalau tayang judulnya jangan the santri,” ujar Uu di jabar.sindonews.com. Dari ungkapan ini menandakan bahwa Uu sangat yakin adanya kesalahan yang fatal pada film The Santri dan tidak sama sekali melihat sisi positif atau nilai-nilai yang lain dari film ini.

Sebagai seorang publik figur dan tokoh agama seharusnya Uu bijaksana dalam menanggapi beredarnya kontroversi film The Santri. Bukan malah memberikan penilaian negatif yang meresahkan kalangan masyarakat yang mendukung di tayangkan nya film The Santri. Sehingga bermunculan stigma negatif terhadap film the santri, padahal film tersebut belum di tayangkan secara utuh. Inilah yang menjadi saya kaget dan heran mendengar kritikan Uu Ruzhanul Ulum terhadap film the santri. Karena beliau yang memiliki julukan Panglima Santri harusnya mendukung dan mengajak khalayak masyarakat untuk menyaksikan film the santri sebagi media eksistensi santri di kalangan masyarakat. 

Beberapa hal yang perlu di kritisi dari tanggapan Uu Ruzhanul Ulum terhadap film The Santri. Yaitu yang pertama Ia berlebihan ketika mengungkapkan adegan pacaran pada film The Santri, saya kira ini terlalu dangkal dalam mengamati adegan di trailer tersebut, tanpa melihat secara utuh konteks dari adegan tersebut. Memang di adegan itu di tayangkan sosok santri putra dan santri putri berbarengan tanpa ada pemisah atau skat yang menghalangi diantara keduanya. Akan tetapi tidak ada adegan yang sampai tanpa batas seperti halnya di sinetron-sinetron yang menampilkan pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan atau pelukan dengan bukan mahram, di trailer film the santri saya tidak melihat adanya adegan yang semacam itu. Tapi saya melihat dari tayangan trailer film the santri disitu ada nilai kesetaraan gender, dimana santri putra dan santri putri memiliki hak kreativitas yang sama yang penting tidak sampai melanggar syari’at Islam. Dari sini seharusnya kita bisa mengambil pelajaran bahwa persoalan gender di pondok pesantren tidak lagi di pandang sebagai persoalan yang sensitif, inilah yang di namakan akhdzu bil jadiidil ashlahmegambil budaya baru yang lebih baik. 

Selanjutnya persoalan toleransi yang berlebihan, Uu Ruzhanul Ulum tidak melihat sabab musababdan konteks adegan santri itu masuk gereja. Karena memang belum melihat secara utuh film tersebut, baru hanya trailernya saja. Seharusnya sebelum berstatement perlu lihat dulu konteks dari kejadian tersebut. Melihat dari berbagai aspek dan sudut pandang, bukan hanya dari satu perspektif, apalagi sampai mevonis murtad. Karena perihal masuk gereja ini masih menjadi ikhtilaf(perbedaan pendapat) di kalangan para ulama. Memang ada yang mengharamkan jika seorang muslim masuk ke tempat ibadah non muslim, tetapi ada juga beberapa ulama yang membolehkan dengan alasan tertentu. Tapi yang saya tekankan disini bukan persoalan itu dan seharusnya tidak perlu di persoalkan karena masih bersifat ikhtilafdikalangan para ulama. Perlu di tekankan disini adalah persoalan tanggapan yang tanpa pengamatan lebih komprehensif. Padahal seharusnya adegan itu di pandang positif melihat kondisi bangsa saat ini yang krisis toleransi khususnya toleransi antar umat beragama. Dari film ini agama Islam, khususnya santri menampilkan nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Menghilangkan stigma buruk tentang Islam yang membuat teror terhadap agama lain, justru sebenarnya malah  menunjukkan kerukunan dan kedamaian di  antara umat beragama.

Sebagai Panglima Santri, seharusnya Uu mendukung dan memberikan nilai positif terhadap film The Santri. Karena film tersebut selain mengisahkan tentang nilai-nilai santri yang luhur, juga di bintangi langsung oleh kalangan santri. Ini menunjukkan kreatifitas santri yang multi talenta yang harus di dukung dan di kembangkan khususnya di dunia intertain. Supaya santri bisa berlaga di berbagai bidang termasuk dunia intertain. Karena kalau tidak dari kalangan santri sendiri yang mendukung siapa lagi yang akan mendukung. Kang Uu sebagai Panglima Santri harusnya menjadi orang pertama yang mendukung Film The Santri memberikan semangat dan motivasi kepada semua santri untuk selalu memberikan kreatifitas dan inovasi bagi bangsa.

Selebihnya, perbedaan pendapat di kalangan umat merupakan hal yang wajar, termasuk berbeda pendapat antara seorang santri dengan kyai. Begitupun Pak Uu Ruzhanul Ulum sebagai panglima santri merupakan panutan saya karena saya pernah mengikuti kajian bulanan di pondok yang didirikan oleh kakek beliau yaitu Ponpes Miftahul Huda Tasikmalaya, meskipun tidak pernah di bimbing langsung oleh beliau tapi saya menganggap beliau sebagai guru dan saya ta’zim kepada beliau. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve + 11 =