Pakar Sebut Impian Zionis Melucuti Senjata Perlawanan Palestina Nihil

 Pakar Sebut Impian Zionis Melucuti Senjata Perlawanan Palestina Nihil

Pasukan Zionis Israel culik 20 warga Palestina (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Teheran – Seorang pakar media Palestina mengatakan bangsa Palestina menganggap perlawanan bersenjata sebagai satu-satunya cara untuk menghadapi rezim Zionis Israel. Ia menambahkan bahwa impian rezim untuk melucuti perlawanan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Wael Karaz menjawab pertanyaan tentang situasi di Jalur Gaza dan bagian lain Palestina. Dilansir dari IQNA pada peringatan kemenangan rakyat Gaza atas rezim Zionis dalam Perang 22 Hari. Ia mengatakan bahwa perang Gaza 22 Hari adalah invasi brutal tiga minggu rezim Zionis di Jalur Gaza.

Rezim Israel membunuh banyak warga sipil tak berdosa dalam agresi 22 hari di Gaza. Akan tetapi, akhirnya harus menerima kekalahan tanpa mencapai tujuannya.

Dalam wawancaranya dengan IQNA, Karaz mengatakan bahwa, bertahun-tahun setelah kekalahannya pada 2009. Israel berusaha memaksa perlawanan Palestina untuk menyerahkan senjata mereka sebagai imbalan pembukaan kembali penyeberangan perbatasan Gaza.

Rezim Zionis juga berusaha untuk mendapatkan dukungan dari opini publik dunia tentang masalah ini. Tetapi apa yang dicari musuh untuk terjadi, tidak akan pernah terjadi, katanya.

Karaz mengacu pada Operasi Pedang al-Quds dan mengatakan bahwa itu menunjukkan apa arti pertempuran yang sebenarnya. Persatuan yang diciptakannya pun akan menjadi jalan menuju kemenangan dan pembebasan Palestina.

‘Operasi Pedang al-Quds’

Nama ‘Operasi Pedang al-Quds’ digunakan oleh kelompok perlawanan yang berbasis di Jalur Gaza yang diblokade Tel Aviv, termasuk Hamad dan Jihad Islam. Hal itu untuk menentukan operasi pertahanan mereka melawan perang terbaru rezim di wilayah pesisir pada Mei 2021.

Operasi tersebut melihat perlawanan menembakkan lebih dari 4.000 roket ke wilayah pendudukan. Memaksa rezim untuk mati-matian menyerukan gencatan senjata setelah hanya 11 hari.

Operasi itu juga berusaha untuk membalas dendam di Tel Aviv atas pelecehan selama berminggu-minggu terhadap penduduk Palestina Sheikh Jarrah di Yerusalem al-Quds. Karaz mengatakan, bangsa tersebut akan melanjutkan perlawanannya terhadap rezim Tel Aviv dengan segala kekuatannya.

Dia memuji dukungan Republik Islam Iran untuk perlawanan dan perjuangan Palestina dan bangsanya serta dukungan dari negara-negara Arab. Di antaranya seperti Aljazair, Maroko, Tunisia dan Sudan, menyesali bahwa penguasa di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah membuat konsesi kepada rezim pendudukan bukannya membantu Palestina.

Ditanya tentang negosiasi tahanan, dia mengatakan rezim Zionis sangat ingin memiliki informasi tentang keberadaan dan kondisi tahanan yang ditahan oleh pasukan perlawanan. Akan tetapi perlawanan Palestina telah menjelaskan bahwa hanya setelah pembebasan tahanan Palestina dari penjara Israel, dapat Tel Aviv menerima informasi itu.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 + one =