Orangtua Mencium Anaknya yang Sudah Dewasa, Bolehkah?

 Orangtua Mencium Anaknya yang Sudah Dewasa, Bolehkah?

Bentuk kasih sayang orangtua dengan sang anak (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Mencium anak merupakan ekspresi kasih sayang orangtua kepada sang buah hati, apalagi jika anak itu masih kecil. Islam pun sangat menganjurkan orangtua untuk sesering mungkin mencium anaknya sehingga anak merasa tercukupi kebutuhan batinnya.

Lalu apakah kebiasaan mencium anak sejak kecil ini dibolehkan apabila tidak lepas sampai si anak dewasa? Apalagi ketika anak sudah menikah, apakah orangtua masih boleh menciumnya?

Anak yang sudah dewasa biasanya lebih sering berkeinginan untuk mencari pengalaman dan mendalami kehidupannya sendiri. Pertemuan dengan orangtua pun semakin jarang, apalagi jika sang anak sudah menikah.

Di momen ini tentu kebersamaan semakin berkurang dan kerinduan orangtua dengan sang anak semakin memuncak. Tidak jarang orangtua mencium anaknya ketika bertemu setelah lama tidak berjumpa.

Ini merupakan salah satu bentuk kerinduan yang besar dari orangtua ke sang anak atau sebaliknya. Selain mencium, tentu orangtua juga ingin mendekap erat anaknya dengan pelukan.

Pendapat Ulama Mencium Anak yang Sudah Dewasa

Dalam kasus ini, ulama berpendapat bahwa orangtua boleh mencium anaknya yang sudah dewasa atau sudah menikah. Meski berbeda jenis, misalnya seorang ibu mencium anak lelakinya, atau seorang ayah mencium anak perempuannya yang sudah dewasa tidak masalah.

Demikian halnya dengan sang anak yang sudah dewasa dan ingin mencium orangtuanya, justru hal tersebut sangat dianjurkan terutama jika diniatkan sebagai bentuk bakti. Hal ini sebagaimana ditulis dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, disebutkan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw mencium Sayidah Fatimah, putri beliau.

Saat itu beliau bertamu ke rumah Sayidah Fatimah, begitu juga sebaliknya. Lalu Sayidah Fatimah mencium Rasulullah Saw ketika ia bertama ke rumah Rasulullah Saw.

Begitu juga dengan Sayidina Abu Bakar Al-Shiddiq, beliau pernah juga mencium Sayidah Aisyah. Ini menunjukkan bahwa orangtua boleh mencium atau memeluk sang anak yang sudah dewasa. Anak pun juga demikian halnya.

Riwayat yang dimaksud adalah sebagai berikut;

رُوِيَ أَنَّ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّل فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ، وَتُقَبِّلُهُ إِذَا دَخَل عَلَيْهَا وَكَذَلِكَ صَحَّ عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَبَّل ابْنَتَهُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw mencium Sayidah Fatimah ketika dia bertamu kepada Rasulullah Saw, dan Sayidah Fatimah mencium Rasulullah Saw ketika beliau bertamu kepada Sayidah Fatimah. Begitu juga shahih bahwa Abu Bakar mencium anaknya Sayidah Aisyah.

Dengan demikian, jelas bahwa tindakan mencium dan memeluk anak yang sudah dewasa adalah dianjurkan sebagai bentuk kasih sayang dan ungkapan kerinduan. Bagi anak, bisa menjadi pahala jika diniatkan sebagai bentuk bakti.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − three =