Objek Moderasi Beragama Ada Pada Kebodohan yang Tidak Disadari

 Objek Moderasi Beragama Ada Pada Kebodohan yang Tidak Disadari

Fenomena Bangsa Beragam (Ilustrasi/Hidayatuna)

Artikel berikut merupakan kiriman dari peserta Lomba Menulis Artikel Hidayatuna.com yang lolos ke tahap penjurian, sebelum penetapan pemenang. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

HIDAYATUNA.COM – Di dalam kenyataan hidup, kadang kita ditempatkan pada posisi pemahaman pengetahuan yang kompleks, namun kurang memiliki kesadaran untuk mengakuinya. Ada dua kemungkinan kenapa kita bisa seperti itu. 

Pertama, cara berpikir kita bergantung dengan informasi yang kita konsumsi sehari-hari sehingga sadar atau tidak, sebenarnya kita paham dengan sesuatu hal. Tetapi akibat tidak terbukanya cara pandang lain, membuat interpretasi kita terhadap suatu masalah akan terlihat sangat kaku.

Kedua, memang kita sama sekali tidak pernah tahu, lantaran belum ada kemauan dari diri sendiri untuk ingin tahu. Ini tidak salah, tingkat pemahaman seseorang berbeda-beda. 

Tetapi itu juga bisa berbahaya apabila kita jadikan alat untuk menyalahkan satu sama lain. Padahal, urusan kebaikan dan kebermanfaatan, sesungguhnya tidak melulu soal benar dan salah, asal imbasnya bisa baik kepada orang lain. 

Sama halnya saat kita menyikapi soal terorisme yang berkembang di Indonesia ini. Secara spesifik bahasa, kata radikal tidak pernah ada kesalahan, asal pemahaman kita mau terbuka dan menerima segala sesuatu yang berkaitan dengan kata tersebut.

***

Radikal selalu diidentikkan dengan kekerasan atau tindakan merugikan orang lain. Namun secara sadar pernah tidak kita berpikir kalau dalam ilmu hidup kadang kita juga memerlukan yang namanya kekerasan. 

Di samping berperan sebagai lawan kata lembut, kekerasan boleh kita terapkan pada diri sendiri berupa ketegasan, kemauan keras, dan prinsip hidup yang sifatnya sangat tersistem dengan rapi. Tujuannya adalah untuk melatih diri kita agar bisa mempunyai daya tahan yang kuat ketika menghadapi suatu permasalahan.

Akan tetapi, sekarang kata Radikalisme sudah dikonsumsi publik menjadi kata terapan yang berbahaya. Apalagi dengan kejadian belakangan ini, yakni pengeboman yang terjadi di gereja katedral dan mabes polri, maka populisme kata radikal semakin hari semakin menakutkan. 

Lebih-lebih jika dikaitkan dengan Islam, kata itu semakin tidak menemukan titik terang makna secara esensial dan substansial. Kemudian, kita sebagai umat muslim juga setidaknya jangan terlalu kaget terhadap stigma buruk yang kita terima. Yakin saja bahwa Islam adalah agama penuh Rahmat dan kasih sayang kepada makhluk.

Agama tidak pernah mengalami kesalahan dalam penerapannya. Kesalahan hanya terjadi pada pelaku agama itu sendiri.

Setiap manusia memiliki interpretasi berbeda dalam menyikapi nilai keagamaan. Tinggal bagaimana kita yang mempunyai kesadaran, mau dan mampu membawa Islam sebagai agama penuh dengan kedamaian.

***

Makna cara berpikir mengakar yang dibawa kata radikal nyatanya juga penting untuk membawa kita pada tingkat pemahaman yang lebih lanjut. Wajar saja apabila kita dihadapkan pada suatu hal baru, lalu cara kita menyikapinya tidak begitu saja menerima, tetapi dianalisis terlebih dahulu menggunakan cara berpikir yang lebih mendalam itu. 

Tindak radikal akan bisa terlihat apabila tindakan kita sudah mengintervensi kehidupan orang lain dan mengganggu mereka. Ditambah lagi tindakan semacam itu dijadikan alasan untuk mengamalkan ajaran Islam. Alasan itu sungguh disayangkan karena sangat bertabrakan dengan ajaran Islam yang senantiasa memerintahkan manusia agar selalu bermanfaat bagi orang lain. 

Maka dari itu salah satu metode untuk memoderasi radikalisme adalah memahami kata Radikalisme sebagai kata yang tidak selalu salah. Makna bahasa sangat sulit mengalami pemurnian apabila sudah jadi doktrin kuat pada manusia, karena laku penyadaran berada pada manusia itu sendiri. 

Jika memang benar-benar ingin melakukan moderasi tingkat lanjut, ada banyak draft kata yang perlu dimurnikan lagi maknanya. Contoh saja pada makna jihad. Jihad tidak bisa diterapkan sama pada satu momen. Artinya, jihad selalu punya konteks yang mengikutinya. Jika selama ini jihad dicirikan dengan perang, maka perang yang baik adalah perang melawan diri kita sendiri. Yang mana sampai saat ini kita selalu kalah dengan hawa nafsu kita sendiri. 

Lalu perang melawan kebodohan itu juga tidak kalah penting. Bodoh dalam hal menyikapi, menganalisis, dan menyerap informasi mentah yang sewaktu-waktu datang tanpa kita sadari. Sebab moderasi tindakan radikal objeknya tidak melulu orang lain, melainkan diri kita sendiri juga sangat penting untuk dimoderasi. 

Ahmad Baharuddin Surya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve − seven =