Nyai Bariroh Tambakberas: Perempuan Sufi Penghafal Quran dengan Mata Batin yang Tajam

 Nyai Bariroh Tambakberas: Perempuan Sufi Penghafal Quran dengan Mata Batin yang Tajam

Bu Nyai Lathifah: Sang Ummul Ma’had Ahli Riyadlah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur telah melahirkan banyak tokoh besar yang patut dijadikan teladan. Salah satunya adalah Nyai Bariroh, seorang perempuan sufi penghafal Alquran yang memiliki mata batin yang tajam.

Kisah mengenai Nyai Bariroh mungkin saja tidak tertulis dalam lintasan sejarah pesantren maupun madrasah.

Tetapi kisahnya menempati ruang tersendiri terutama bagi para santri dan orang-orang yang pernah berjumpa dengan beliau.

Nyai Bariroh dilahirkan dari Rahim Nyai Mas Wardliyah Abdurrochim dalam keadaan normal.

Tetapi ia kemudian mengalami kebutaan akibat kelalaian pengasuhnya sewaktu kecil sehingga penglihatannya tak lagi berfungsi. Semenjak ayahnya meninggal, kondisi penglihatannya semakin memilukan.

Ditambah dengan kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil dan juga faktor memiliki saudara banyak, Nyai Bariroh kekurangan perhatian dari keluarganya sendiri.

Akhirnya Nyai Sa’diyah Wahab mengambil alih pengasuhannya dan ia pun dibuatkan kamar khusus di sudut musala pondok putri Al-Lathifiyah Tambakberas.

Dikenal sebagai sosok perempuan penghafal Quran yang istiqomah, sejak kecil ia telah memulai hafalannya dalam bimbingan pasangan ulama Kiai dan Nyai Wahab Chasbullah.

Bahkan ia termasuk dalam keponakan yang beruntung pernah merasakan kasih sayang Kiai Wahab khususnya semasa beliau memulai hafalannya.

Peran Kiai Wahab Chasbullan sangat besar dalam proses menghafal Quran sang nyai.

Kiai Wahab melantunkan beberapa potongan ayat Alquran kemudian ditirukan oleh Bariroh kecil. Hal ini kadang dilakukan oleh Kiai Wahab sembari menggendong Bariroh kecil.

Bariroh pun mengulang-ulang bacaan Quran-nya sampai ia benar-benar hafal.

Karena memiliki kecerdasan serta daya ingat yang tajam, ia pun berhasil menghafalkan ayat demi ayat dalam kurun waktu yang tidak lama.

Keponakan dari Nyai Bariroh, Umdah Nasrullah, mendapat kisah langsung dari sang nyai mengenai proses transmisi pengetahuan dan hafalan Quran tersebut.

Kehidupan Nyai Bariroh bagaikan kehidupan seorang perempuan sufi yang amat terjaga.

Betapa tidak, alkisah ia tak pernah keluar dari biliknya di sudut Musala Al-Lathifiyah kecuali untuk kebutuhan khusus terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Ia juga dikenal sebagai sosok perempuan yang rajin dan sangat istiqomah melakukan riyadhoh hingga mendapat julukan sebagai paku bumi.

Ketajaman batin sang nyai juga turut diakui oleh beberapa orang yang pernah menemaninya.

Sensitivitas indra keenam serta ketajaman batiniahnya terasah melalui keistiqomahannya melakukan puasa Daud.

Sosoknya dikenal mampu menilai karakter seseorang melalui sebuah interaksi serta dapat mendeteksi keberadaan makhluk ghaib di sekitarnya.

Konon, sikap atau reaksi dari sang nyai terhadap orang lain yang mendatanginya menjadi salah satu tolok ukur untuk menguji kebaikan serta kemurnian hati seseorang.

Ketika ia menerima kehadiran seseorang, itu pertanda atau isyarat bahwa orang tersebut memiliki kebaikan dari hati terdalam.

Pernah suatu ketika, ia mengatakan bahwa, sebut saja Dewi, adalah seorang Bu Nyai. Kini, Dewi telah menjadi Bu Nyai yang membimbing 1000 santri dalam kurun waktu tidak lama setelah ia mendirikan pesantrennya.

Lisan sang nyai tak pernah berhenti berdzikir dan melafalkan subhanallah berulang kali. Beliau enggan berbicara apalagi jika diajak membicarakan orang lain.

Menjelang akhir hayatnya, beliau tidak bisa beranjak dari peraduan. Namun meski begitu, tasbih tak pernah lepas dari tangannya.

Berdasarkan kesaksian dari Imadul Ummah yang menyertai beliau pada saat-saat terakhirnya, tiga hari sebelum wafatnya, sang nyai tidak pernah lagi mengeluarkan kotoran dari dalam tubunya.

Jenazah beliau bersih, hangat dan wajahnya disertai dengan senyuman.

Dari kisah hidup beliau, kita dapat belajar bahwa ketekunan dan ketulusan akan mengantarkan kita pada suatu level kehidupan yang justru membebaskan.

Membebaskan dari nafsu angkara murka dalam diri manusia dan juga kesombongan manusia.

Kisah hidupnya menjadi pengingat dan penggugah kesadaran bagi kita semua untuk berintrospeksi bahwa kebaikan dan ketulusan hati haruslah murni dan datang dari nurani yang terdalam dan tidak dibuat-buat. Wallahu a’lam bisshowab.

[Referensi: Buku Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah]

Lutfi Maulida

Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta. Perempuan yang menyukai bacaan, film/series dan kuliner. Dapat disapa melalui Instagram @fivy_maulidah dan surel [email protected]

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × 4 =