NU Kultural vs NU Struktural, Bagaimana Pergerakannya?

 NU Kultural vs NU Struktural, Bagaimana Pergerakannya?

Santri menghafal Alquran (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai salah satu ormas Islam terbesar yang ada di Indonesia. Para penganutnya pun lebih banyak merupakan orang-orang tradisional yang biasanya berada di pedesaan, setidaknya itu paradigma yang terbangun selama ini di masyarakat.

Meskipun saat ini warga NU sudah merata bukan hanya di desa saja melainkan juga di muslim perkotaan. Hal ini dibuktikan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Alvara Research Center di 10 kota besar di Indonesia dan menunjukkan sebanyak 58,8 warga muslim di perkotaan mengaku sebagai Nahdliyin.

Dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia, NU memiliki dua gagasan yang tak bisa lepas darinya, yakni Islam Politik dan Islam Kultural. Azyumardi Azra mendefinisikan kedua istilah ini, bahwa Islam Politik adalah sebuah gerakan yang berorientasi pada kekuasaan atau gerakan politik, dan tujuannya sudah jelas, yaitu untuk mencapai kekuasaan.

Sedangkan Islam Kultural lebih berorientasi pada masyarakat akar rumput, tidak fokus pada kekuasaan dan dakwah secara langsung, menerapkan nilai-nilai keislaman lewat pesantren, lembaga pendidikan, bidang ekonomi-sosial. (Azyumardi Azra, “Revisitasi Islam Politik dan Islam Kultural di Indonesia”,  Indo-Islamika, 2012: 233-234)

Awal Kemunculan Islam Politik dan Islam Kultural

Ada dua versi berbeda yang menjadi cerita sejarah kemunculan dua gagasan NU ini. Pertama, gerakan Islam ini muncul pada masa Belanda, khususnya perempatan terakhir abad ke 19. Istilah Islam politik berkembang saat Snouck Hurgronje masih aktif menjadi penasihat Belanda.

Ia membangi Islam politik dan Islam ibadah atau ritual. Belanda Sendiri merasa terancam dengan gerakan Islam politik karena fokus mereka ingin mengganti sistem negara menjadi pan-Islam atau khilafah. Oleh sebab itulah, Snouck menyarankan agar lebih mengakomodir Islam ibadah yang fokus pada amaliah keagamaan dan nantinya yang akan berkembang menjadi Islam Kultural.

Kedua, kemunculan selanjutnya disinyalir pada masa Orde Baru di mana pada saat itu Islam berada pada posisi yang dilematis. Umat Islam dibenturkan dengan modernisasi yang dibawa oleh pemerintah.

Mereka dihadapkan dengan pilihan untuk mendukung. Padahal jelas-jelas preferensi Barat atau tidak sama sekali dan berarti kehilangan dukungan dari pihak luar.

Akibat dari keadaan itu lahirlah sikap umat Islam pada waktu itu menjadi tiga:

Tipologi Apologi

Pertama, tipologi apologi, mereka berusaha untuk menerima dengan penyesuaian diri dan adaptasi pada proses modernisme.

Apologi

Kedua, apologi terhadap ajaran Islam tapi di sisi lain menolak modernisasi karena dinilai sebagai sekularisasi dan westernisasi. Pada tipologi ini mempunyai ciri khas pemikiran yang sangat kaku dan rigid.

Pola Kreatif

Ketiga, pola kreatif dengan berusaha mendialogkan keduanya dengan mengutamakan pendekatan intelektual.

Dari ketiganya, tipologi yang paling berpengaruh adalah bagian ketiga. Di mana mereka berusaha melakukan pembaharuan pemikiran Islam seperti yang dilakukan Nurcholis Madjid, yang nantinya berkembang menjadi Islam Kultural.

Gagasan ini sejatinya berusaha mengkritisi Orde Baru, bahwa apa yang telah dilakukan rezim itu telah membuat umat Islam dituduh sebagai anti-modernis, kolot bahkan sampai dituduh anti-pancasila. (Dawam Raharjo, Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, 1993: 381-382, Syafi’i Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia, 1995: 6)

Melihat Gerakan Kultural dan Politik dalam Tubuh NU

Untuk mengetahui ini, sederhana saja, kita hanya perlu melihatnya dalam ruang lingkup yang lebih kecil, dalam lingkaran NU. Fakta yang tidak bisa dibantah bahwa dalam tubuh NU sendiri ada golongan—atau lebih tepatnya memilih—untuk mengikuti jalur politik, bukan kultural.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Gus Dur sendiri sampai menjadi puncak tertinggi dalam dunia politik, Presiden. Apa yang dilakukan Gus Dur dan orang-orang yang memilih jalur politik adalah hanya untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk umat, dalam artian tujuan-tujuan atau nilai-nilai NU diharapkan bisa dianut oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Namun, bukan berarti ingin meng-NU-kan Indonesia hanya saja dengan kekuasaan kewenengan-kewenangan tertentu yang bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang diharapkan lebih populis. Itulah tujuan sebenarnya dari gerakan Islam atau NU Struktural.

Mereka yang aktif dalam organisasi yang ada dalam NU juga ikut dalam gerakan ini. Meskipun tidak secara murni politik praktis, seperti IPNU IPPNU, ANSOR, BANSER, dan sebagainya.

Bagi mereka yang menganut NU Struktural justru tak kalah penting karena mereka langsung menyentuh masyarakat kalangan bawah. Pada faktanya Mbah Hasyim sendiri yang lebih dikenal oleh masyarakat luas karena kedekatannya dengan masyarakat. Dalam hal ini beliau termasuk dalam NU Kultural yang terjun langsung dalam mengayomi umat.

Berbicara mengenai dua hal tersebut tidaklah bisa dipisahkan, keduanya harus berjalan beriringan saling menguatkan dan mempunyai perannya masing-masing. Jika salah satunya tidak ada maka pilar-pilar kehidupan juga akan goyah.

Adanya NU di ruang politik mempunyai tujuan yang luhur selama idealismenya tidak goyah. Meskipun sekarang ada khittah NU, mereka yang bergerak underground tetap saja dianggap sebagai NU Struktural.

Muhamad Firdaus

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 + 9 =